Berita LHK

Nuri Talaud Burung Lanka yang Terancam Punah




Burung nuri talaud atau lebih dikenal dengan nama lokal burung “Sampiri” (Talaud) atau “Sumpihi” (Sangihe) atau red and blue lory dalam bahasa asing. Nuri talaud adalah burung endemik Indonesia yang berasal dari Kepulauan Sangihe dan Talaud, Provinsi Sulawesi  Utara. Nuri talaud didominasi oleh bulu berwarna merah dan biru, paruhnya berwarna kuning. Warna biru pada bagian dada dan sayap yang memanjang sampai sekitar mata serta melebar sampai bagian belakang kepala adalah ciri khas utama yang membedakan nuri talaud dengan genus Eos lainnya.

Populasi terbesar nuri talaud di habitat alaminya ada di Pulau Karakelang. Berdasarkan penelitian Arini (2014) jumlah populasi nuri talaud untuk Pulau Karakelang saat ini diperkirakan 2.200 ekor, jika dibandingkan tahun 1999 jumlah ini jauh mengalami penurunan yaitu dari 9.400-24.160 ekor (Lee et al., 2001).

Nuri talaud digolongkan sebagai spesies dalam bahaya dan terancam oleh berbagai macam tekanan. Ancaman langsung yang paling serius adalah penangkapan untuk diperdagangkan dan habitat yang sempit. Kegiatan penangkapan dan perdagangan nuri talaud mulai marak terjadi sekitar akhir 1980-an di mana sebagian besar dijual ke Filipina dan sebagian lainnya dijual ke daerah lain di Indonesia melalui Kota Manado (Riley & Action Sampiri, 1997). Menurut Buol (2013) perdagangan burung nuri talaud masih berlangsung. Hasil investigasi tahun 2003-2013 di 3 (tiga) desa yang menjadi basis penangkapan menunjukkan sekitar 6.480 ekor “berhasil” dikeluarkan secara illegal dari habitat  aslinya di Pulau Karakelang. Harga jual burung nuri talaud di dalam Pulau Karakelang sendiri hanya sekitar Rp. 25.000–50.000/ekor, namun jika telah sampai ke wilayah lain di Indonesia atau negara lain,harga jualnya berlipat ganda mulai dari 250.000-750.000 rupiah/ekor. Perdagangan nuri talaud seringkali dilakukan dengan sistem barter untuk ditukar dengan peralatan rumah tangga.

Bisnis ini melanggar ketentuan internasional karena nuri talaud adalah satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, berdasarkan daftar  merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) masuk sebagai burung terancam punah (endangered species) sejak tahun 1994, dan terdaftar dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)(Birdlife International, 2013).

Semakin maraknya kegemaran masyarakat dalam memelihara burung menjadi salah satu per masalahan yang menyebabkan semakin terancamnya keberadaan burung di habitat alam, hal ini terkait dengan bergesernya konstruksi pemaknaan terhadap burung saat ini yang lebih condong kepada dimensi ekonomi (Supriyadi et al.,2008).

Demikian pula dengan keberadaan nuri talaud yang banyak dijumpai di rumah-rumah penduduk di Pulau Karakelang sebagai hewan peliharaan namun pada akhirnya dijadikan sebagai sebuah komoditas perdagangan yang mampu memberikan keuntungan ekonomi yang cukup menjanjikan.  

Peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan dan penegakan hukum terhadap masyarakat yang menangkap, memelihara, dan memperdagangkan nuri talaud perlu dilakukan untuk melindungi nuri talaud dari kepunahan. Mari Save Nuri Talaud untuk masa depan yang lebih indah.***AGP

 

Sumber: JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 13 No. 1 April 2016, Hal. 25-36

                    Penulis : Diah Irawati, Dwi Arini & Isdomo Yuliantoro