Berita LHK

Restorasi Gambut Keniscayaan Menghadirkan Kembali Ekosistem dalam Hutan Lestari: Model Pembelajaran Taman Nasional Sebangau dan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (Khdtk) Tumbang Nusa di Kalimantan Tengah




Di Kalimantan Tengah restorasi gambut telah dimulai jauh sebelum adanya kebijakan Pemerintah 2,4 juta Haterhadap kawasan hutan dan lahan yang rusak akibat dampak kebakaran. Upaya restorasi sebagai keniscayaan untuk menghadirkan kembali  ekosistem dalam hutan yang lestari, dapat belajar dari pengalaman pengelolaanTaman Nasional Sebangau (TNS) dan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa.

Tahun 1970-1995 TNS merupakan kawasan hutan produksi untuk kayu, di dalamnya terdapat 13 areal konsensi. Berbagai aktifitas yang merubah kondisi alam menjadi peruntukan kepentingan ekonomi secara keseluruhan telah berdampak signifikan kepada lingkungan dan berpengaruh terhadap ekosistem  yang besar.

Pada 1995-2000-an, kerusakan semakin masiv terjadi, bahkan pada tahapanyang memprihatinkan. Maraknya  illegal loggingpenyebab utama terjadinya deforestrasi dan kepunahan keanekaragaman hayati sebagai kekayaan di kawasan tersebut menjadi gambaran dan konsekuensi logis yang pasti akan terjadi. Pembuatan kanal-kanal sebagai sarana transportasi pengangkutan kayu keluar dari kawasan gambut, semakin memperburuk keadaan. Pembangunan yang tidak dilandasi akan kajian ilmiah sebelumnya dan pada umumnya, telah merusak ekosistem gambut, sehingga secara ekologis gambut tidak berperan dengan baik.

Upaya restorasi di mulai pada kawasan gambut hulu Sungai Sebangau. Dengan luas mencapai 24.238 Ha yang terbagi menjadi 3 (tiga) area: Punggu Alas 8.637 Ha, Musang 14.982 Ha dan Landabung 10.090 Ha. Dengan didukung oleh World Wide Fund (WWF) ketika itu, dilakukan pembuatan kanal bloking yang bertujuan untuk membasahi kembali kawasan gambut yang telah kering dan mengancam terjadinya bahaya kebakaran kawasan hutan tersebut. Secara teknis kanal bloking dibuat untuk menghambat laju aliran sungai dari kedua sisinya dan mengalir lahan yang berada di bawah permukaan air, sehingga terairi dan tetap dalam kondisi basah. Dengan terairinya tersebut maka gambut akan terus hidup dan memberikan tempat bagi tumbuhnya berbagai macam tanaman hutan (jelutung, damar, rotan, gemor, ramin, blangeran, meranti), dan memberikan manfaat untuk berkembang dan tumbuhnya kembali populasi berbagai habitat fauna yang ada sebelumnya. Kawasan kanal sepanjang 23 Km kini telah terbangun 10 bloking, dan terus mengalirkanblack water ke lahan-lahan gambut.

10 (sepuluh) tahun upaya kanalisasi telah berlalu dan masih dapat bertahan sampai dengan saat ini, menunjukan hasil yang cukup memuaskan. 500 Ha telah terbangun vegetasi hutan baru yang dilakukan dengan upaya penanaman kembali (man made), dan suksesi alami juga terbentuk dengan luasan yang mendekati, ekosistem kembali terbaiki, kenakaragaman hayati kembali tumbuh. Habitat satwa liar yang hampir punah seperti orang utan beruang madu, bekantan, dan medekati terancam dan terancam seperti owa, kucing hutan, kucing batu,dan hewan langka seperti kucing kepala pipih. Satwa rentan seperti macan dahan, binturong termasuk endemik Borneo seperti kelasi, bajing, tupai, termasuk burung enggang dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang sudah kembali terbaharukan.

Monitoring dan pengawasan kawasan terus dilakukan. Pelibatan masyarakat dalam memantau tinggi muka air dan pengamanan kanal bloking menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Alat pantau dan perhitungan subsiden muka gambut termasuk dalam perhitungan karbon “SESAME” melengkapi  upaya perlindungan.

Pada tanggal 28 April 2017, Board of Trustee Center for International Forestry Research (BOT CIFOR), ditengah-tengah agenda padatnya pertemuan tahunan berkesempatan hadir untuk menyaksikan secara langsung bagaimana terjadinya perubahan  alam pada kawasan gambut yang telah mengalami degradasi. Ekspresi yang mengagumkandapat tergambarkan dari wajah-wajah yang dapat menyaksikan secara langsung perubahan alam tersebut. Indonesia salah satu negeri yang memiliki kawasan gambut besar dunia, pada lokasi kecil, di kawasan TNS, restorasi bukan hanya sekedar teori, tetapi nyata dan terwujud.

KHDT Tumbang Nusa,satu kawasan hutan yang berada di bawah pengelolaan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru-Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kemnterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan(BPK Banjarbaru-BLI KLHK). Berada di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jambiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan Tengah. KHDTK ini dapat menjadi salah satu contoh model pengelolaan rawa gambut yang memberikan dampak positif bagi masyarakat untuk menanam pohon. Memiliki luas kawasan sebanyak 5.000 Ha, lebih dari 23 jenis burung, 30 jenis tanaman dengan berbagai keanekaragaman hayati hidup di dalamnya, termasuk standing stock sebesar 526 m3/Ha karbon. Dari luasan tersebut 0,2% areal merupakan daerah penelitian, 35% adalah semak gambut, 65% hutan lapis kedua dan 90% seluruh kawasan tersebut telah terbakar pada tahun 2015.

Kebakaran yang terjadi pada tahun 2015 telah merusakan kawasan KHDTK Tumbang Nusa nyaris rusak total, tidak saja telah menghilangkan berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga telah mematikan gambut secara permanen pada lokasi-lokasi yang telah terbakar. Timbulnya kolam-kolam air menunjukan gambut sudah tidak memiliki kemampuan untuk menyerap dan menampung air sebagai salah satu fungsinya. Belum lagi sisa-sisa kayu dari pohon terbakar yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Keterbatasan sumberdaya telah membuat BPK Banjarbaru berfikir keras, sehingga terbentuklah Re-Peat Program (Rehabilitation of Peatland). Merupakan program terkait aktifitas penanggulangan kebakaran dan degradasi hutan rawa gambut secara sukarela.

Re-Peat Program, melibatkan banyak kalangan untuk melakukan pergerakan bersama, terutama dalam upaya restorasi lahan gambut. Dengan melibatkan unsur Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah dan masyarakat telah menunjukan upaya nyata. Tujuan yang paling mendasar adalah bagaimana menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk merawat dan mengembalikan ekosistem hutan rawa gambut yang sangat berharga. Program ini telah mendapat perhatian dan apresiasi  banyak kalangan setelah terbentuk, dan telah menanam lebih dari 8.000 pohon dengan survival menapai 90% pada kawasan lebih dari 9 Ha.

Perhatian dan apresiasi juga didapatkan kalangan internasional, tanggal 29 April 2017, KHDK Tumbang Nusa telah dikunjungi oleh BOT CIFOR yang berasal dari berbagai negara yaitu Indonesia, Ghana, Ethiopia, Amerika,  Kosta Rika, Swedia dan Perancis untuk melihat lebih dekat model restorasi berbasis masyarakat dan juga lokasi Re-Peat Program dilaksanakan. Pada kesempatan tersebut dilakukan penanaman pohon ramin bersama pelajar dan guru pada kawasan yang telah mengalami kerusakan lahan sebagai dampak kebakaran.

Pengalaman yang lebih menarik dalam kegiatan tersebut adalah pembelajaran pengelolaan lahan gambut tanpa bakar dalam budidaya berbagai komoditas. Taman yang berprofesi sebagai seorang pendidik, secara otodidak melakukan pengelolaan lahan gambut untuk budidaya  di tanah miliknya. Dengan pemikiran sederhana, berhitung dengan waktu terkait dengan datangnya musim dilakukan pembersihan lahan dengan menghilangkan berbagaitumbuhan yang tidak berguna dari lahan miliknya dengan tidak memotong soil lapisan atas terlalu dalam yang ada pada gambut, tetapi hanya mengupas sedikit lapisan gambut yang ditumbuhi tanaman tersebut lalu dibuatkan parit rendah agar air tidak merendam tanaman yang di tanam sehingga tidak mengalami pembusukan pada akar. Hal yang sangat penting adalah fungsi gambut tetap terjaga, air dapat masuk ke gambut dengan baik sehingga pada musim kemarau lahan yang dimilikinya tetap mengalami kelembaban yang cukup dan terhindar dari bahaya kebakaran. Dampak positifnya ekonomi yang terbangun cukup baik didapat dan budidaya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sebuah kearifan yang mimiliki nilai tinggi untuk dikembangkan dalam pengelolaan gambut.

"Kami belajar tentang penelitian dan keterlibatan masyarakat di dalam dan sekitar hutan Eksperimental Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau dan bersyukur atas kesempatan untuk menanam pohon Ramin untuk terang-terangan beberapa bencana yang ditimbulkan oleh 2015 kebakaran. Pemerintah Indonesia melakukan upaya mengesankan untuk mengatasi tantangan ini yang relevansi nasional dan global." Dewan juga diperkenalkan untuk memblokir kanal di taman nasional Sebangau serta praktek-praktek agroforestri di lahan gambut - kedua contoh yang menunjukkan potensi investasi jangka panjang dalam restorasi lahan gambut,” tegas Ketua Dewan BOT CIFOR, Dr José Campos dari Kosta Rika

Direktur Jenderal CIFOR, Dr Peter Holmgren menegaskan bahwa “CIFOR akan mengintensifkan kerjasama dengan FOERDIA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dengan banyak mitra dan organisasi pemangku kepentingan. "Hal ini penting untuk mengatasi ekologi hutan gambut serta aspirasi sosial dan ekonomi masyarakat di Kalimantan Tengah. Ada banyak solusi yang berbeda, dan ini harus untuk hadiah kebutuhan baik lingkungan dan orang-orang.” 

Kesemua informasi tersebut dilakukan melalui diskusi lapangan, di mana Taman melakukan aktifitas pengelolaan gambut bersama seluruh anggota BOT CIFOR yang mengunjunginya. Taman sebagai pendidik selalu berbagi ilmu, tidak hanya kepada muridnya disekolah, tetapi juga kepada masyarakat, baik melalui penyuluhan maupun pengajaran bahkan sampai kepada Konfrensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Tahun 2016 di Marrakesh, Maroko.

 

Informasi lebih lanjut:

Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M. Sc,

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi KLHK

Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor-Jawa Barat

Telp. (0251) 8633944

Email: bambang_halimun@yahoo.com

 

Gatot Ristanto, S.H., MM

Kepala Bidang Kerjasama dan Desiminasi

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi KLHK

Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor-Jawa Barat

Telp. (0251) 8633944

Email: g.ristanto@gmail.com