Berita LHK

Saatnya Penebas Kayu Menjadi Pemilik Penggergajian Kayu




Hutan rakyat sengon di Propinsi Jawa Tengah memberi kesempatan pada petani untuk memanfaatkan lahan yang relatif sempit agar dapat menghasilkan kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Selain itu, juga sebagai sumber pendapatan dan mata pencaharian bagi petani. Apabila pohon sengon sudah cukup besar, antara umur 5-6 tahun, petani akan menjualnya kepada penebas. Penebas membeli pohon berdiri dari petani, kemudian menebang pohon dan memotong batang pohon menjadi kayu bulat. Peran penebas sangat penting karena selain bersedia membayar secara tunai kepada petani, juga bersedia membeli seluruh bagian dari pohon, bahkan bersedia membeli seluruh pohon dalam satu hamparan lahan.

Penebas mengangkut kayu bulat dari lahan petani ke tempat penimbunan kayunya, kemudian menyortir kayu berdasarkan mutu dan diameter. Kayu bulat dengan grade super, diameter >20 cm dan mutu terbaik, dikirim ke pabrik kayu lapis, sedangkan grade apkir atau sisanya dikirim ke pabrik papan sambung. Setiap saat tersisa kayu diameter <10 cm yang tidak ada pembelinya sehingga dari waktu ke waktu akan menjadi timbunan kayu.

Ada saat di mana indutri papan sambung tidak bersedia menerima kayu bulat dengan alasan limbah yang menumpuk di lingkungan pabriknya. Karena indusri tersebut sudah menjadi pelanggannya maka penebas kemudian membeli atau menyewa gergaji pita atau band saw dan mesin penggeraknya agar dapat mengolah kayu bulat apkir menjadi kayu gergajian atau balken. Jumlah band saw yang dimiliki serta kesediaan industri pelanggannya untuk menjadi pembeli tetap kayu bulat super dan balken akan mendorong penebas untuk membeli bahan baku kayu bulat dari penebas lain. Penebas tersebut akan membangun pabrik penggergajian kayu dan secara bertahap penebas berubah menjadi pengepul atau pemilik industri primer kayu yang menjual kayu bulat super dan balken. Para penebas lain selanjutnya akan mengirim kayu bulat ke pabrik penggergajiannya. Industri pelanggan tetapnya akan dipertahankan dengan cara berusaha memenuhi spesifikasi kayu bulat super atau balken yang diminta. Pemasaran produk merupakan bagian penting untuk mendukung kelancaran usaha penggergajian kayu.

Pada saat telah menjadi industri primer kayu, pabrik tersebut akan menghasilkan limbah berupa serbuk gergaji, sebetan kayu, dan kayu bulat diameter <10 cm. Pemilik penggergajian tentu tidak akan tinggal diam untuk mendapatkan pembeli limbah tersebut. Serbuk gergaji merupakan bahan baku usaha budidaya jamur tiram putih, pabrik bata merah, dan bahan bakar industri rumah tangga gula merah. Para pedagang serbuk gergaji akan datang ke pabrik penggergajian setiap hari untuk membersihkan limbah band saw dengan cara mengangkutnya menggunakan karung. Biasanya hasil penjualan serbuk gergaji menjadi tambahan penghasilan operator band saw dan grup kerjanya. Kayu diameter <10 cm juga laku untuk bahan baku pembuatan pellet, peti kemasaan botol kecap, buah, telor, dan lain-lain. Sebetan yang merupakan sisa kayu bulat setelah digergaji juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan peti kemasan atau bahan bakar industri tahu-tempe. Bahkan kulit kayu sengon juga dapat dimanfaatkan oleh para ibu rumah tangga sekitar pabrik penggergajian sebagai bahan bakar untuk memasak.

Kalau diingat kembali saat kayu sengon di tebang di lahan petani, daunnya juga dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ranting-rantingnya bebas dipungut oleh siapa saja untuk kayu bakar. Sungguh, seluruh bagian dari pohon sengon bermafaat.

Penulis : Setiasih Irawanti

Editor : Hariono