Berita LHK

Masalah Notifikasi di OJS, Kendala Kecil namun Mengganggu




_BOGOR_Pengelolaan jurnal ilmiah terbitan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) terus diupayakan kian membaik. Dalam hal penerbitan misalnya,segala kepingan mozaik yang dibutuhkan selalu disusun dengan baik dan sesempurna mungkin.

Memenuhi keinginan itu, pengelola jurnal mengadakan dua kali pertemuan di P3SEKPI, yaitu pada Jum’at (07/09/2018) untuk Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan (JAKK) dan Senin (10/09/2018) untuk Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan (JPSEK). Pada dua pertemuan itu mencuat keluhan tentang “notifikasi” pada Open Journal System (OJS), sebuah open source software yang digunakan untuk mengelola jurnal, sejak artikel diajukan hingga artikel tersebut terbit. Kendala notifikasi ini terlihat kecil, namun dapat menggangu proses perjalanan jurnal.

Diketahui dalam OJS, ada peran section editor (SE) yang begitu penting. Dia bertanggungjawab untuk mengawal perjalanan sebuah artikel, sejak artikel diajukan oleh penulis. Seorang SE harus mengetahui kondisi terkini sebuah artikel agar proses/perjalanan sebuah artikel tidak terganggu, atau bahkan terhenti. Notifikasi/pemberitahuan dari sistem begitu krusial bagi seorang SE sebagai penanda adanya perkembangan terbaru dalam proses pengelolaan jurnal. Notifikasi pula yang mengharuskan dilakukannya proses selanjutnya.

Akhir-akhir ini pengelola jurnal, yang di dalamnya terdapat SE, kerap tidak menerima notifikasi dari OJS ketika ada perkembangan terkini dalam proses pengelolaan jurnal. Nunung Parlinah, salah satu pengelola JPSEK mengatakan bahwa SE selaku pengelola jalannya alur sebuah jurnal di OJS seringkali tidak mendapatkan informasi terbaru mengenai sebuah jurnal yang ia kawal di OJS.

“Padahal ketika sebuah jurnal di submitted dan menjalani alur kelayakan, seharusnya sistem memberi tahu SE kabar/nasib jurnal itu, diterima atau tidak, atau mungkin diterima bersyarat”, tutur Nunung. “Kalau yang sekarang kan tidak. Untuk mendapat info itu, SE diharuskan mengecek setiap hari ke sistem”, lanjutnya.

Ditemui di tempat berbeda, Andri Setiadi Kurniawan, peneliti yang juga seorang SE mengaku kesulitan ketika harus memeriksa OJS setiap hari. Ia mengatakan bahwa tidak sedikit SE yang juga seorang peneliti. Mereka pasti memiliki kesibukan tersendiri, sehingga sulit jika harus “mantengin” OJS tiap hari.

“Makanya untuk urusan info terbaru, kita tetap input data di OJS, tapi kita juga saling mengabarkan antar pihak-pihak terkait dalam proses jurnal melalui email dan whatsapp,” jelasnya. “Ya kayak dulu lagi,” imbuhnya.

Pada kesempatan berbeda, Deden Djaenuddin, Ketua Dewan Redaksi JPSEK menguatkan keluhan para pengelola jurnal. “Beberapa hari lalu saya menerima dua notifikasi. Ketika saya cek di OJS, ternyata ada delapan naskah yang saya terima. Artinya, untuk enam naskah yang lain, saya tidak menerima notifikasi”, demikian ia berujar.

Namun demikian, Deden juga mengabarkan berita baik bahwa dewasa ini tengah dilakukan perbaikan/penyempurnaan OJS. Informasi ini diperoleh dari Suhardi Mardiansyah, lay-outer jurnal terbitan P3SEKPI. Jika perbaikan ini sudah selesai, diharapkan masalah notifikasi dapat teratasi dan pengelolaan jurnal kian optimal.


Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Haryono