Berita LHK

Benih Unggul untuk Hutan Tanaman, Restorasi Ekosistem dan Antisipasi Perubahan Iklim




”Di dalam ketentuan ataupun dorongan yang dilakukan Kementerian Kehutanan dalam kontek benih unggul ini, memang tercatat lima jenis tanaman yang benihnya wajib diambil dari sumber benih bersertifikat yaitu Jati, Mahoni, Sengon, Gmelina dan Jabon. Untuk mendapatkan benih unggul tersebut, diperlukan pemuliaan pohon, baik oleh instansi pemerintah, BUMN, swasta, maupun perorangan, “ kata Dr. Ir.Siti Nurbaya, M.Sc, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) saat memberikan sambutan pada acara Seminar Nasional Benih Unggul Untuk Hutan Tanaman, Restorasi Ekosistem dan Antisipasi Perubahan Iklim di Auditorium LPP Yogyakarta,  Rabu (19/11).

“Pemanfaatan materi genetik unggul hasil penelitian ini sebagai suatu kebutuhan agar nilai tegakan semakin baik, bernilai ekonomi tinggi dan mampu memberikan gross margin yang tinggi,” kata  Menteri LHK dengan antusias dan optimis bahwa dalam satu event (seminar nasional) akan menghasilkan beberapa hal yang memang yang sangat mendesak untuk diselesaikan

Seminar yang dilaksanakan direncanakan akan dilaksanakan selama 2 hari, hari ini akan membahas tentang topik yang terkait tema-tema seminar dan besok ada tinjauan lapangan untuk mendiskusikan yang berkaitan dengan  benih unggul di lapangan, demikian laporan penyelengaraan seminar nasional oleh Prof.Dr.Ir. San Afri Awang, M.Sc, Kepala Badan Litbang Kehutanan.

Lebih lanjut San Afri mengatakan bahwa  tema hari ini peran benih unggul untuk hutan tanaman, restorasi ekosistem dan antisipasi perubahan iklim dan persoalan kebakaran yang tentu ada kaitannya  dengan perubahan iklim. Kita harus melakukan kaitan  pencegahan-pencegahan perubahan iklim melalui kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Oleh karena itu, kita pahami betul, bahwa hutan yang akan kita tanam yang akan datang adalah hutan yang memang memberikan keunggulan  dari perspektif apapun , karena itu persoalan benih unggul menjadi penting dan terkait erat dengan upaya-upaya penyerapan karbon di daerah-daerah  yang pernah terjadi kebakaran,” kata San Afri.

“Hal ini kami pilih  karena penggunaan benih unggul merupakan keniscayaan dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Rakyat (HR), sementara itu restorasi ekosistem sebagai contohnya yang akan kita lakukan di Merapi dan antisipasi perubahan iklim juga membutuhklan research pemuliaan untuk tujuan-tujuan tersebut,” tegas San Afri.

Dalam seminar nasional kali ini dilaksanakan pameran hasil litbang dan peluncuran serta penyerahan buku hasil litbang kepada Menteri LHK, Gubernur, Dirjen BUK, Dirjen BPDASPS, Dirjen PHKA, BP2SDM, Bupati, Dinas, Ormas (NU), LSM, dan petani.

Buku yang diluncurkan dan diserahkan antara lain; 1) peluncuran 18 Buku Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta terkait budidaya jenis tanaman unggulan dan penanganan penyakit tanaman HTI ; 2) peluncuran Buku Restorasi Ekosistem Merapi (Puskonser dan BBPBPTH) ; 3) peluncuran Buku Memetik Cahaya di Lantai Hutan (BPK Makasar); dan 4) Bekantan Kuala Samboja "Bertahan dalam Keterbatasan" (BPTKSDA Samboja).

Setelah dilakukan diskusi pleno, maka kegiatan kunjungan kerja Menteri LHK dilanjutkan dengan perayaan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) di KHDTK Merapi dan peresmian Laboratorium Kultur Jaringan di BBPBPTH Yogyakarta. Sedangkan untuk kegiatan hari kedua adalah kunjungan lapangan ke KHDTK Wonogiri untuk melihat hasil penelitian pemuliaan jenis Acacia mangiumA.AuriculliformisEucalyptus pellita dan Akasia hibrida

Peserta yang berpartisipasi dalam seminar ini diperkirakan sebanyak 300 orang, yang diwakili oleh para pemangku kepentingan di bidang perbenihan tanaman hutan, restorasi ekosistem, perubahan iklim dan kebakaran hutan baik di tingkat pusat maupun daerah, meliputi UKP4, Badan Litbang, Sekjen, BUK, PHKA, BPDASPS, BP2SDM, KLH, Puspijak, Pusprohut, KPH, Perguruan Tinggi, perusahaan HTI, NGO dan UPT lingkup Kementerian Kehutanan.****(PKM)


sumber: http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1916