Berita LHK

Belajar dari Seporsi Siomay




Siomay, batagor, adalah segelintir jajanan yang kerap menyinggahi keseharian kita. Pagi, tengah hari, petang menjelang magrib, malam, kapan saja tergantung kapan keinginan itu datang. Enak, itu yang tergambar di benak kita kala akhirnya kita membeli. Nah, manakala kita tengah menyantap seporsi siomay di warung tenda pinggir jalan, terlintas bahwa ada anak, istri/suami, orang tua di rumah. Begitulah, spontan kita berucap ke penjualnya: “Bang, bungkuskan tiga porsi, ya?”

Pesanan itu lantas dilengkapi dengan pesan selanjutnya: siomay-nya pisahkan, sambalnya pisahkan, bumbunya pisahkan, atau apa lagi yang mesti dipisahkan agar terlihat bersih, tidak berantakan, dan higienis. Selesai bersantap dan membayar, kita pulang sambil menenteng tiga porsi siomay. Melewati sebuah mini market, terbayang betapa nikmatnya makan siomay yang ditutup dengan minuman ringan nan dingin. Kita pun lantas membeli minuman ringan kemasan sekian banyak. Tak ada yang istimewa dari kejadian tersebut. Belanja pulang kerja.

Sampai di rumah, langsung “siomay party”. Selepas itu, tersisa plastik berbagai ukuran yang semula digunakan sebagai alat pemisah. Ada plastik bungkus siomay, plastik bungkus bumbu, plastik bungkus sambal, termasuk kantong plastik hitam ukuran lebih besar yang berperan sebagai “pemersatu” tiga porsi siomay. Tidak berhenti di situ karena masih ada botol (plastik juga) minuman ringan, dan lagi-lagi: kantong plastik pemersatu. Sekarang, mulai terlihat sedikit istimewa.

Sambil menerimakasihi rasa kenyang, kita mulai menghitung jumlah plastik jajan siomay yang kini berubah status menjadi sampah. Bila satu porsi siomay terdiri dari tiga plastik, maka sudah ada sembilan sampah plastik. Menjadi 10 jika ditambah dengan si kantong pemersatu.  Menjadi 13 jika ditambah tiga botol plastik. Menjadi 14 akibat si minuman ringan juga dilengkapi dengan satu kantong pemersatu. Belum lagi jika menggunakan sedotan plastik.

Lantas, di mana nantinya ke-14 sampah plastik itu akan berlabuh? Entah lah, yang jelas itu tidak berakhir di tempat sampah depan rumah kita. Konon katanya, plastik merupakan material yang sangat sulit terurai sehingga ia akan mampu bertahan puluhan tahun. Jika demikian maka ke-14 sampah siomay tadi akan melanglang buana selama sekian puluh tahun ke berbagai tempat sembari turut andil menimbulkan pencemaran. Darat, laut, sungai, bahkan mungkin udara -bila dibakar-.

Andai 5, 10, atau 15 tahun kemudian ada sekawanan sapi atau paus yang mati akibat terlalu banyak “makan” plastik, mungkin ke-14 plastik siomay kita ada di dalamnya. Ketika dikeluarkan dari perut bangkai sapi atau paus, itu merupakan awal si plastik menjelma menjadi sampah plastik generasi kedua. Sapi dan monster laut yang telah menjadi bangkai bisa jadi bukanlah korban terakhir. Apakah itu yang lantas terlihat lebih istimewa? Mungkin “ya” bila kita telah mati rasa.

Penulis: Hariono

Editor : Agus P

*Diilhami talkshow Open Day “Generasi Milenial dan Kelestarian Lingkungan”, Bogor, 30 Agt. 2019.