Berita

Membangun Pemahaman Bersama Pengelolaan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau




_PULANG PISAU_Narasi di atas adalah tema workshop kegiatan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) FST 2016/144 “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia”. Diadakan pada Rabu, 6/3/2019 di Aula Bappeda Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng), workshop bertujuan untuk (1) Mensosialisasikan proyek ACIAR dalam upaya restorasi lahan gambut di Kalteng; (2) Mengidentifikasi teori perubahan (Theory of Change) menuju masa depan yang berkelanjutan, adil, dan sejahtera bagi masyarakat di lahan gambut Kalteng; serta (3) Merefleksikan dan memahami sistem lahan gambut dan peran proyek ACIAR di dalamnya.

Theory of Change” merupakan menu utama yang disajikan oleh Dr. Deborah O’Connell (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO) dalam bentuk paparan dan diskusi kelompok. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Universitas Palangkaraya, Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), World Wildlife Fund (WWF), dan United States Agency for International Development (USAID) Lestari adalah beberapa institusi/lembaga yang hadir.

Workshop ini diselenggarakan untuk menjadikan proyek ACIAR bisa berperan dalam mensukseskan program pemerintah terkait dengan pencegahan kebakaran dan restorasi lahan gambut khususnya di Kabupaten Pulang Pisau (Kalimantan Tengah) dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan)”, demikian Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M.Sc., Kepala Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru dalam sambutannya. Lebih lanjut dia menegaskan “perlunya pemahaman yang mendalam, kerjasama, dan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk dapat memulihkan ekosistem gambut sehingga dapat memberikan manfaat dan menjadi modal bagi pembangunan”.

Satu hal yang tidak kalah penting dicatat adalah pernyataan  Dr. Niken Sakuntaladewi, koordinator proyek, yang mendeklarasikan “Gambut Kita” sebagai nama kegiatan kerjasama penelitian ini. “Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti hanya pada kegiatan penelitian saja tetapi dapat berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan ekosistem gambut, khususnya di Kabupaten Pulang Pisau”, ungkap Niken. 

Beranjak ke sesi diskusi, tiap kelompok melakukan brainstorming untuk mengidentifikasi masalah, gap pengetahuan, dan rencana kegiatan ke depan berdasarkan termin waktu dalam mencapai visi pengelolaan gambut berkelanjutan. Hasil yang sangat menggembirakan dari diskusi ini adalah optimisme para pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah untuk bersama-sama menjadikan “Gambut Kita” sebagai sebuah tonggak keberhasilan dalam upaya mengelola gambut secara berkelanjutan.

Rudi, salah seorang peserta menyampaikan “untuk menginginkan gambut lestari maka masyarakat juga harus sejahtera; walaupun gambutnya lestari jika tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat, akan tidak harmoni”, pungkasnya di sela-sela diskusi. 

Rangkaian workshop diakhiri dengan monitoring dan evaluasi kegiatan. Untuk agenda selanjutnya ACIAR “Gambut Kita” akan mengadakan Training of Trainer (ToT) mengenai Community-Led Analysis & Planning (CLAP) dan penelitian lapangan di Desa Tumbang Nusa pada 11-18 Maret 2019.***MI