Berita

Memburu Api di Desa Kayu Labu




Bencana kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) menjadi topik pembicaraan masyarakat beberapa pekan terakhir. Kebakaran yang tak kunjung padam ini dipicu oleh kondisi musim kemarau panjang yang terjadi hingga saat ini di beberapa wilayah di Indonesia. Kebakaran pada lahan gambut menimbulkan dampak yang cukup serius, tidak hanya asap yang ditimbulkan lebih pekat dan berbahaya dibandingkan dengan kebakaran vegetasi di lahan mineral, tetapi upaya pengendalian dan pemadamannya pun lebih sulit karena umumnya api menjalar di bawah permukan membentuk lorong-lorong bara api. Selain itu, sifat gambut yang irreversible drying (kering tak balik) atau sulit basah kembali juga mendasari mengapa kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan.

Karakteristik gambut dan perilaku kebakaran gambut perlu kajian yang mendalam sehingga diperoleh informasi dan data sebagai bahan rujukan dalam pengendalian dan pemadaman kebakaran gambut. Kerjasama penelitian ACIAR “Gambut Kita” melalui kegiatan objektif 1 melakukan kajian “Prevent unwanted fires through managing the causes and drivers of peatland (surface and peat fires) fire”. Tim yang tergabung dalam objektif 1 ini melakukan pengambilan data kebakaran gambut di Desa Kayulabu, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 9 – 14 November 2019. Adapun data yang diambil berupa karakteristik kebakaran gambut yang meliputi kecepatan perambatan kebakaran gambut, volume gambut yang terbakar, sifat fisik dan karakter bahan bakar (jenis, tingkat kelembaban dan volume bahan bakar) serta pengukuran kedalaman air gambut.

Beberapa hotspot yang terpantau satelit menjadi temuan dan berhasil di groundcheck oleh tim objektif 1 ACIAR “Gambut Kita” di Ogan Komering Ilir (OKI). Tim yang terdiri atas peneliti Kementerian LHK yang terkait kegiatan BRG, Komando Militer (Kodim) OKI, personil Manggala Agni, Polres OKI secara bersama tanpa lelah memburu dan mencoba mengerdilkan api di hadapannya. Usaha tanpa lelah tersebut tentu perlu diiringi dengan doa tidak hanya dari mereka saja, tetapi dari seluruh masyarakat Indonesia agar api lekas padam dan gambut kita terus lestari.

 

Penulis: Agus Kurniawan

Editor: Mohamad Iqbal