Berita

Ika-Rawi & Manis-pahit Berdagang Kayu




Rawi adalah seorang pedagang kayu di Desa Payak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia membeli kayu dari petani, menebang, dan memotongnya menjadi log, selanjutnya mengirim ke penggergajian di kabupaten lain. Hanya sebatas itu, pada awalnya.

Pengalaman berdagang kayu dan luasnya jaringan kerja membuka mata Rawi dan Ika Sulistyowati, istrinya, tentang peluang memiliki pengergajian kayu. Dari situ, lahirlah UD Kembang Sengon di Desa Payak. Sang istri bertanggung jawab mengurus penggergajian, sedangkan Rawi tetap sebagai pedagang kayu untuk memasok pabrik penggergajian milik mereka.

Seiring berjalannya waktu, mereka sadar akan keharusan dan kebutuhan memiliki ijin usaha. Ika berkonsultasi dengan instansi kehutanan dan perijinan, mempelajari ketentuan yang berlaku, dan proses yang harus dilewati. Meski sedikit repot, urusan perijinan tidaklah serumit yang diperkirakan. Ijin diperoleh pada awal 2012 untuk usaha penggergajian. Diberi nama UD. Kembang Sengon, Ika Sulistyowati tercatat sebagai pemilik.

Berkapasitas 2.000 m3/tahun, UD. Kembang Sengon mengolah kayu sengon dan rimba campuran. Meningkatnya permintaan dan berlimpahnya suplai kayu rakyat mendorong UD. Kembang Sengon menambah kapasitas produksi menjadi 6.000 m3/tahun pada akhir 2013. Kapasitas tersebut dipertahankan hingga kini untuk pasar di Semarang, Magelang, Solo, dan Surabaya.

Kebijakan pemerintah menghapus Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) dan menggantinya dengan Dokumen Kesesuaian Pemasok (DKP) bagi kayu rakyat menjadi berkah bisnis kayu, baik untuk penggergajian maupun petani. Dengan DKP petani cukup membuat surat untuk menjual kayunya. Surat itu dilampiri fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atas lahannya. Bagi penggergajian, setelah log diolah menjadi balken, mereka cukup menerbitkan Nota Angkutan sebagai identitas pengiriman kayu gergajian ke industri lanjutan. Kebijakan ini berdampak pada berkurangnya biaya transaksi sehingga mendorong lebih banyak petani dan usaha kecil-menengah untuk terjun di sektor kehutanan komersial.

Itu cerita “manisnya” berdagang kayu. Tentu ada cerita pahit di baliknya. Perdagangan kayu sangat ber?uktuasi, terutama dalam hal permintaan, harga, dan struktur usaha. Perubahan permintaan di tingkat internasional dapat memperngaruhi permintaan kayu gergajian, bahkan di tingkat usaha kecil seperti UD. Kembang Sengon. Selain itu, banyak industri lanjutan yang membeli log dan menggergaji sendiri sehingga tidak menerima balken dari pihak lain.

Meskipun harga jual kayu gergajian terus menurun, UD. Kembang Sengon tidak bisa terlalu banyak menurunkan harga beli log. Ika menyatakan, harga pembelian log hanya turun Rp20.000/m3 mengingat persaingan untuk mendapatkan bahan baku log. Lebih dari itu, petani juga kerap menahan untuk tidak menjual kayu bila tidak terjadi kesepakatan harga. Menyikapi kondisi tersebut, Ika terpaksa “berakrobat” dengan melakukan e?siensi produksi dan mengurangi keuntungan.

Sumber: Stories from the Fields and the Forest – Beberapa Cerita dari Lapangan. Info Brief No. 3, 2017.

Penulis: Kuncoro Ariawan