Berita

Perempuan-perempuan Perkasa dari Gunung Kidul




Migrasi kaum laki-laki di Kabupaten Gunung Kidul untuk bekerja di kota-kota sekitar berdampak pada makin berkembangnya hutan rakyat. Hal ini terjadi karena jenis tanaman yang ditinggalkan tidak banyak memerlukan input maupun perawatan khusus. Dampak selanjutnya adalah meningkatnya intensitas kaum perempuan sebagai tenaga kerja keluarga dalam mengelola lahan ketika para laki-laki bekerja di kota. Sementara itu pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam pengelolaan lahan hutan rakyat sangat terbatas mengingat selama ini merupakan dominasi laki-laki. Kondisi ini menjadi momentum perlunya pelatihan Master TreeGrower (MTG) bagi kaum perempuan di Gunung Kidul.

Dilaksanakan di Desa Jepitu pada Maret 2018, pelatihan melibatkan pengurus organisasi perempuan seperti PKK, Dasa Wisma, dan Kelompok Wanita Tani. Pelibatan tokoh penggerak perempuan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses adopsi dan difusi materi pelatihan kepada petani hutan rakyat.

Pelatihan dikemas secara partisipatif dalam empat pertemuan:

  1. Menganalisis permasalahan pengelolaan hutan rakyat dengan cara diskusi di kelas dan observasi lapangan.
  2. Kunjungan ke industri penggergajian kayu untuk mengetahui secara langsung ukuran-ukuran log (sortimen) dan cara penentuan harga kayu.
  3. Praktik pengukuran pohon dan menaksir potensi hutan rakyat.
  4. Analisis pertumbuhan pohon serta praktik pruning dan penjarangan.

Partisipasi peserta tidak berhenti di situ. Pada bagian akhir, mereka dilibatkan dalam evaluasi pelaksanaan pelatihan. Hasilnya sungguh menggembirakan karena peserta meyakini bahwa pengetahuan mereka kian bertambah, terutama dalam hal pentingnya melestarikan hutan rakyat; cara penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pemangkasan, penjarangan, menaksir potensi hutan rakyat, menghitung volume kayu, penentuan harga dan pemasaran kayu. Semua itu menyebabkan kaum perempuan Gunung Kidul mempunyai semangat berlipat untuk menanam pohon di hutan rakyat.

Antusiasme peserta pelatihan terus membesar. Mereka minta agar pelatihan ini ditindak-lanjuti. Simak saran mereka:

  1. Pembentukan kelompok untuk mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh.
  2. Pelatihan secara rutin dan dilanjutkan dengan sekolah lapang, misalnya dengan membuat persemaian.
  3. Studi banding ke daerah lain yang telah berhasil dalam pengelolaan hutan rakyat dan ke industri kayu.
  4. Materi pelatihan ditambah dengan pengendalian hama dan penyakit.
  5. Diperlukan materi pelatihan khusus untuk kaum perempuan guna meningkatkan penghasilan keluarga.
  6. Modul pelatihan supaya diperbaiki (perbesar ukuran tulisan dan cover yang menarik).

Kaum perempuan Gunung Kidul menunjukkan bahwa pengelolaan hutan rakyat bukan hanya domain kaum laki-laki. Aspirasi kaum perempuan harus diperhatikan, pengetahuan dan keterampilan mereka harus ditingkatkan agar dapat terlibat aktif dalam pengelolaan hutan rakyat secara lestari. Keseriusan dan keaktifan mereka memberikan optimisme bahwa pengelolaan hutan rakyat akan menjadi semakin baik jika melibatkan peran aktif kaum perempuan.

Sumber: Enhancing Capacity of Female Farmers in Gunung Kidul Through MTG training Course – Peningkatan Kapasitas Petani Perempuan Melalui Pelatihan MTG di Gunung Kidul. Info Brief No. 4, 2018.

Penulis: Kuncoro Ariawan

Editor: Hariono