Berita

Diduga Karena Perubahan Iklim, Ratusan Ribu Kerang Terpanggang Hingga Mati




Ratusan ribu kerang terpanggang hingga mati di sekitar pantai Maunganui Bluff, Selandia Baru. Bukan karena sedang ada pesta barbeque atau upaya pemecahan rekor MURI, namun ditengarai akibat kenaikan suhu yang ekstrim.

Kejadian tersebut direkam oleh warga Selandia Baru, Brandon Ferguson yang lantas diunggah di akun facebook pribadinya. Dalam video berdurasi 1,57 detik tersebut, terlihat ratusan ribu kerang ‘panggang’ yang telah hanyut ke pantai.

“Saya orang lokal, terbiasa ke pantai untuk mengumpulkan makanan untuk keluarga”, tutur Ferguson, dilansir dari Business Insider. “Saat kejadian itu saya dan teman-teman ke pantai sambil menunggu air surut sehingga kami bisa mengumpulkan kerang”.

Namun betapa kagetnya Ferguson ketika ia mendapati ratusan ribu kerang mati. Ia memperkirakan ada lebih dari 500.000 kerang berjenis kerang hijau berbibir (Perna caliculus) mati yang memenuhi garis pantai.

"Baunya seperti seafood busuk", kata Ferguson. "Beberapa cangkang sudah tidak ada isinya, dan beberapa dari mereka mati di dalamnya atau mengapung di pinggir pantai", tambahnya.

Di Selandia Baru, keberadaan kerang hijau berbibir sangat penting bagi perkembangan ekonomi negara. Meski begitu, ini bukan pertama kalinya ditemukan kerang mati dalam jumlah banyak di sekitar pantai. Pemanasan global kemungkinan jadi faktor pemicunya.

Sebuah studi menemukan fakta bahwa dari 1981 hingga 2018, suhu permukaan laut meningkat antara 0,1°C hingga 0,2°C setiap dekade. Laporan tersebut menjelaskan, pemanasan laut dapat dan perkembangan kerang hijau berbibir.

Meski begitu, bukan hanya kenaikan suhu laut yang terbukti mengancam kerang. Menurut Andrew Jeffs, ilmuwan kelautan, terpapar teriknya cahaya matahari musim panas dapat membuat mereka stres dan akhirnya mati.

"Kerang mati karena tekanan panas. Bayangkan jika anda berbaring di bawah sinar matahari di siang bolong selama empat jam setiap hari. Saya yakin satu titik anda akan ‘terbakar’," katanya kepada The Herald.

Ferguson berharap, dengan membagikan video tersebut, masyarakat dunia dapat melihat bagaimana dampak perubahan iklim yang sedang terjadi. Ia tak dapat menyembunyikan hatinya yang ‘ambyar’ melihat kehidupan laut asli di kota asalnya perlahan menghilang.

"Keadaannya semakin buruk setiap tahun. Di saat seperti ini, seharusnya kita mulai sadar dan mulai memberikan perhatian sebelum kehilangan 'taonga' (harta berharga) kita," pungkasnya.

Untuk mencermati kasusnya dapat membaca jurnal berikut.

Sumber: Business Insider, IFL Science
Penulis: Faisal Fadjri
Editor: Hariono