Berita

Salju Berdarah di Antartika




Apa yang terfikirkan setelah melihat foto di atas? Pembantaian penguin? TKP pembunuhan? Atau area syuting “The Raid” yang mengambil latar belakang Pegunungan Alaska? Bukan ketiganya. Ini di Antartika, penampakan bahwa salju tak selalu putih. Ia dapat “berdarah”.

“Darah” itu disebabkan oleh ganggang. Mungkin terdengar sederhana, namun fenomena di balik itu sungguh mencemaskan.

Adalah Andrey Zotov, ilmuwan Ekologi Kelautan dari National Academy of Sciences of Ukraine yang menangkap gambar tersebut saat ia sedang melakukan penelitian di stasiun Antartika. Dilansir dari Science Alert, Andrey menjelaskan warna merah yang melumer di atas salju itu bukanlah percikan darah, melainkan kumpulan ganggang hijau mikroskopis.

“Ilmuwan kami telah mengidentifikasi mereka di bawah mikroskop sebagai Chlamydomonas nivalis," tulis National Antarctic Scientific Centre of Ukraine pada sebuah posting-an di Facebook.

ganggang hijauGanggang hijau mikroskopis merupakan sejenis rumput laut seluler tunggal, umum terjadi di semua wilayah es dan bersalju di bumi, dari daerah Arktik hingga Pegunungan Alpen. Sebetulnya mereka tidak akan muncul ketika suhu udara dingin ekstrim. Begitu sinar matahari cukup panas, mereka “bangun” dan memanfaatkan air dari lelehan es untuk berkembang pesat.

C. nivalis muda berwarna hijau karena kloroplas; mereka memiliki dua struktur mirip ekor yang disebut flagela, yang mereka gunakan untuk berenang. Ketika dewasa, mereka beradaptasi dengan membuat dinding sel isolasi sekunder dan lapisan karotenoid merah, yang akhirnya mengubah penampilan mereka dari hijau menjadi oranye, lalu merah.

"Lapisan ini melindungi alga dari radiasi ultraviolet," jelas National Antarctic Scientific Centre of Ukraine.

Kondisi tersebut kurang baik bagi salju, apalagi jika ganggang terus berkembang. National Antarctic Scientific Centre of Ukraine menjelaskan bahwa warna merah pada ganggang menyebabkan lebih sedikit pantulan sinar matahari pada salju. Hal ini mengakibatkan pencairan es secara lebih cepat. Fenomena ini bagai peringatan alam yang menegaskan bahwa iklim kita sedang “tidak baik-baik saja”. Suhu meningkat, Antartika meleleh.

"Peristiwa ini semakin sering terjadi," kata pakar glasiologi Mauri Pelto dari Nichols College.

Sumber: Science Alert | National Antarctic Scientific Centre of Ukraine; Foto: Andrey Zotov | Brian Duval dan Lynn Rothschild

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono