Berita

Akibat Magang di P3SEKPI, Saya Ingin Jadi Peneliti




Surakarta_Selama 45 hari efektif, 10 Januari s.d. 24 Februari 2020, saya, Binti Masruroh, mahasiswi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, angkatan 2017, menjalani kegiatan magang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan, dan Perubahan Iklim (P3SEKPI). Ditempatkan di Kelompok Peneliti Politik dan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kelti Polhuk LHK) yang diketuai oleh Dr. R.A. Kushartati, saya ingin berbagi sekelumit pengalaman dan kesan tentang itu.

Magang merupakan salah satu program wajib dari Program Studi (Prodi) Sosiologi yang disebut dengan KMMS (Kegiatan Magang Mahasiswa Sosiologi). Dalam KMMS, mahasiswa dibebaskan secara mandiri untuk memilih instansi magang. LSM/NGO, lembaga pemerintah, perusahaan, adalah pilihan yang mungkin.

Kenapa memilih P3SEKPI? Saya memilih magang di Bogor (P3SEKPI) karena saya merasa cocok berada di sini, saya merasa cocok dengan mata kuliah peminatan saya yaitu Sosiologi Lingkungan. P3SEKPI saya temukan melalui browsing dengan memasukkan spesifikasi institusi yang dibutuhkan (terima kasih Mbah Google atas bantuannya). Setelah itu saya menghubungi nara hubung P3SEKPI – tertera nama pak Choirul Akhmad. Bagi yang belum mengenal P3SEKPI, profilnya bisa dilihat pada alamat website berikut ini: http://puspijak.org/.

Tak ingin membuang waktu, saya langsung mengajukan permohonan magang. Alhamdulillah diterima, tapi menjadi sedikit ragu. Bogor merupakan kota asing. Belum pernah sekali pun saya ke Bogor. “Mampukah saya menyelesaikan program magang di tempat yang asing?; 45 hari adalah masa yang lumayan panjang”, saya membatin.

“Oke, saya berangkat”, saya bertekad. Alhamdulillah, dukungan P3SEKPI (dalam banyak hal) membesarkan semangat saya. Soal tempat tinggal (kos), saya dibantu Pak Untung; untuk penempatan bimbingan, Bu Suriati begitu berjasa; dan tak lupa bantuan penuh dari Kelti Polhuk LHK, Bu Kushartati dan segenap anggota kelti-nya. 

P3SEKPI, yang saya ketahui, merupakan salah satu lembaga di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga litbang yang fokus di bidang sosial, ekonomi, kebijakan, dan perubahan iklim. Itu sesuai dengan jurusan yang saya pilih di kampus serta judul penelitian yang akan saya lakukan untuk skripsi saya nanti. P3SEKPI adalah pilihan tepat.

Selama magang, banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan, melebihi ekspektasi saya. Saya menyerap ilmu mengenai bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik, mengamati “habitat” peneliti sesungguhnya yang selalu bersentuhan dengan banyak metode dan teknik dalam mengkaji dan meneliti sebuah permasalahan.

Saya sering dilibatkan untuk membahas rancangan penelitian yang akan dilakukan, mengikuti focus group discussion (FGD), rapat kelti, dan sebagainya. Betapa bersyukurnya saya manakala diberi kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat di depan para peneliti, sekali waktu tentang teori-teori sosiologi, di waktu lain tentang apa saja, baik yang ada hubungan maupun yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan magang. Saya rasakan cerminan karakter P3SEKPI yang sangat terbuka. Sebuah pengalaman yang luar biasa berharga.

Bagaimana perasaan saya? Melambung! Bayangkan, sebagai mahasiswa magang, saya dilibatkan dalam semiloka tentang permasalahan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) pada 30 Januari 2020 di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Manggala Wana Bakti, Jakarta. “Penguatan Sub Sektor Kehutanan untuk Mewujudkan Kelestarian Lingkungan Hidup dan Kesejahteraan Rakyat: Rekomendasi untuk Pembaruan Tata Kelola Kehutanan dan Penataan SDM di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan”, itulah judul semiloka tersebut. Banyak hal yang saya petik, yang dapat memperkaya persepsi saya tentang hutan dan kehutanan.

Hal lain lagi, saya diperkenankan menjadi peserta pelatihan penulisan jurnal internasional pada 17-21 Februari 2020. Pengajarnya? Dua ahli yang memiliki pengalaman di tingkat internasional, Dr. Chris Beadle – Universitas Tasmania, Australia dan Prof. Maryudi - Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pelatihan ini memberikan saya banyak ilmu tentang bagaimana menyusun bab pendahuluan, mencari referensi yang bagus dan valid, memilih jurnal untuk publikasi yang bagus, mengkombinasikan teori-teori untuk analisis, dan masih banyak lagi.

Apa yang saya alami selama magang menumbuhkan minat saya untuk kelak menjadi peneliti. Hal ini muncul setelah saya melihat bagaimana peneliti-peneliti P3SEKPI bekerja. Selain karena kesesuaian dengan program studi saya, menjadi peneliti sepertinya asyik, terutama ketika dapat memecahkan permaslahan yang ada di masyarakat. Menjadi peneliti akan memiliki relasi, pergaulan, dan interaksi yang lebih luas. Kalau pun ada kesulitan, sebatas pada saat membuat laporan penelitian dan laporan pertanggungjawaban. Itu menurut saya lho. Tapi tetap saja, menjadi peneliti merupakan profesi yang sangat menarik bagi saya.

Saya harus berkata jujur, magang di P3SEKPI sangat menyenangkan dan membuat saya ketagihan. Sayangnya, kesempatan magang hanya boleh satu kali. Kalau tidak, tentu saya akan melamar untuk magang lagi di P3SEKPI. Sangat berkesan dan akan terkenang selama hidup. Sebelum magang, 45 hari terasa akan begitu lama; setelah magang, kenapa hanya 45 hari? Terima kasih P3SEKPI.

Penulis: Binti Masruroh

Editor: Bugi K. Sumirat; Hariono