Berita

MENEMBUS BLOKADE COVID-19 dengan KELAS DIGITAL




Tsunami Covid-19 datang tanpa diundang. Semua terkesiap dan tak siap. Tiba-tiba sebagian besar ASN terkena WfH (work from home). Ketika efek kejut perlahan mereda, mulailah berbenah langkah. Bukan P3SEKPI kalau tak temukan solusi. Blokade Covid-19 mesti disiasati. Caranya: “bertemu tanpa menyentuh”.

Begitulah. Para insan di Dapur Digital menggagas acara Kelas Digital. Topiknya? Menulis Artikel Ilmiah Populer. Harapannya, event virtual ini dapat menggerakkan antusiasme peneliti sebagai asset utama untuk “bertemu tanpa menyentuh”. Frasa “Ilmiah populer” sengaja dipilih untuk membuat mereka nyaman dan bersemangat karena itu merupakan habitatnya.

Dikemas dalam format virtual (zoom dan WA group), kelas digital menghadirkan Islaminur Pempasa (akrab disapa IPe), seorang science & policy communicator. Sebuah garansi bahwa kelas digital ini sangat layak untuk diikuti.

Benar saja, selama 2 hari penyelenggaraan, 13-14 Mei 2020, peneliti tak henti menampilkan koreografi nan gegap gempita. Tercatat ada 38 peserta. Selaku dirigen, atmosfer ini memudahkan Kang IPe memandu orkestrasi kelas digital dalam memberikan pemahaman dan kiat bagaimana menulis karya ilmiah populer.

Di awal sesi, Kang Ipe berujar “ilmuwan jangan diem aja, dia harus mengisi ruang-ruang komunikasi kepada publik; peneliti harus menjadi intelektual yang mampu bercerita”. Hanya 3 syarat yang dibutuhkan: 1) mempunyai pengetahuan dan otoritas; 2) paham isu aktual; 3) kemampuan menyampaikan melalui tulisan ilmiah popular.

“Ketika bapak ibu seorang intelektual, maka bapa ibu punya hutang intelektual, karena ngambil masalahnya dari masayrakat, dari hutan, tapi hasil penelitiannya tidak dikomunikasikan pada masyarakat”, jelas Kang Ipe.

Dua syarat pertama telah melekat di keseharian peneliti. Hanya butuh syarat ketiga, peneliti P3SEKPI akan menjelma menjadi ilmuwan yang mampu bercerita. Nah, syarat terakhir itulah yang menjadi fokus dalam kelas digital tersebut.

“Itu tantangan seorang intelektual, harus bergerak keluar, dari skedar worker intelektual menjadi intelectual public,” tambahnya.

Ajakan yang  begitu simpatik itu langsung disambut peserta. Semua sajian materi dilahap habis. Seluruh tugas disapu bersih. Sesi ZOOM ramai, WA Group tak kalah berisik. Asyik betul. Bahkan, pimpinan tertinggi P3SEKPI, Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Sc., dengan gembira larut sebagai peserta. Dua hari penuh.

“Kita tidak bosan untuk segera membuat tulisan-tulisan. Kita harus menjadi agen-agen kehumasan”, ajaknya.

Demikian bersemangatnya, sampai ada peserta yang berkelakar, “Pak Ipe, saya nyerah. Ternyata saya terlalu ambisius”. Si peserta mungkin tak sadar bahwa dia tengah berpuasa.

Kendati demikian, secara umum peserta mengaku mendapatkan manfaat yang luar biasa dari pelatihan ini. “Sangat produktif. Bisa menghasilkan tulisan dalam 2 hari,” ujar salah satu peserta.

“Menulis itu tidak mudah, tapi juga tidak terlalu sulit, tinggal seberapa besar kemauan kita. Yang jelas, materi yang disampaikan mulai dari bagaimana menuangkan ide/gagasan, printing, hingga menyajikan tulisan supaya menarik editor untuk membaca, menjadi nilai + dari pelatihan ini” kata peserta yang lain.

Di akhir sesi hari kedua, Kang Ipe berbangga, “saya surprise, nyaris semua peserta punya kemampuan hebat dalam melahirkan tulisan ilmiah popular”. Sebuah capaian yang layak diapresiasi di tengah pandemi.

Selamat berpuasa, semoga badai Covid-19 cepat berlalu dan ambyar.***

Penulis : Tim Dapur Digital