Berita

Bersiap untuk New Normal: Komunikasi Virtual di Era Covid-19




Meskipun pilihan media komunikasi virtual sudah banyak ragamnya, kegiatan komunikasi belum tentu berjalan tanpa masalah. Kendala dalam berkomunikasi perlu segera diidentifikasi dan ditangani.

Akhir Desember 2019 merupakan awal dari penyebaran wabah korona yang diawali di negara China. Semenjak itu, penyebarannya ke seluruh dunia menjadi tak terelakkan. Keparahan tingkat penyebaran dan kerusakan yang diakibatkannya telah menewaskan ratusan ribu orang di seluruh dunia.

Maret lalu, WHO (World Health Organization) menyatakan virus tersebut sebagai wabah dunia. Hingga tulisan ini diterbitkan, dunia masih berjuang untuk mengalahkan virus corona. Ketika WHO mengumumkan secara resmi bahwa Covid-19 merupakan wabah, pemerintah di seluruh dunia mulai mengumumkan kebijakan terkait penanganan Covid-19 yang tentunya berpengaruh pada berbagai sektor di negaranya.

Seirama dengan WHO, pada Maret lalu Pemerintah Indonesia menyerukan untuk menyelenggarakan kegiatan peribadatan, sosial, dan perkantoran dari rumah. Hal tersebut juga berimbas pada penyelenggaraan kegiatan perkantoran. Kegiatan perkantoran wajib beradaptasi dengan kondisi baru. Komunikasi virtual yang mungkin jarang digunakan sebelumnya, kini jadi “menu” wajib.

Menyikapi pandemi tersebut, beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo menyerukan New Normal, sebuah konsep yang masih terdengar asing. Konsep ini sedang hangat-hangatnya digaungkan, tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai belahan dunia.

Menurut psikolog Yuli Budirahayu yang dilansir dari Tribunnews.com, New Normal memiliki pengertian tentang perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Pada awalnya, WHO menyarankan social distancing sebagai salah satu cara pemutusan rantai Covid-19 namun hal tersebut dianggap kurang tepat. Menurut Dr. Maria Van Kerkhove dari WHO, pihak WHO mengubah frasa social distancing menjadi physical distancing agar orang tetap dapat terhubung secara sosial namun tetap menjaga jarak untuk mencegah penularan virus dari satu orang ke orang lainnya. Perubahan frasa ini dilakukan karena WHO menyadari bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang perlu melakukan interaksi guna memenuhi kebutuhan sosial yang memang sudah menjadi fitrahnya.

Komunikasi dan Media Komunikasi Virtual

Ditinjau dari kacamata ilmu komunikasi, interaksi yang dilakukan antar-manusia merupakan sebuah proses penyampaian informasi dari persepsi komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan) yang dapat disampaikan melalui bahasa (komunikasi verbal) maupun bahasa tubuh (body language). Ketika wabah corona terjadi, pola interaksi dan komunikasi masyarakat juga ikut berubah karena diwajibkan untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah dicanangkan WHO.

Komunikasi verbal yang biasanya dilakukan secara tatap muka tampaknya tidak dapat sering dilakukan. Sebagai alternatif adalah menggunakan media komunikasi virtual yang sudah mumpuni untuk mengakomodir kebutuhan komunikasi dari para pelaku komunikasi. Secara sederhana, media komunikasi virtual dapat dipahami sebagai alat yang digunakan untuk penyampaian komunikasi dengan bantuan jaringan internet.

Terdapat beberapa pilihan media komunikasi virtual yang saat ini dapat digunakan. Beberapa media komunikasi virtual yang dapat membantu komunikasi perkantoran di masa New Normal, antara lain adalah:

  1. Whatsapp

Media komunikasi virtual ini tampaknya sudah sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia, dapat digunakan untuk mengirim pesan suara maupun teks, mengirim dokumen dan gambar, video call, dapat juga untuk memfasilitasi percakapan dalam grup. Kelebihan media komunikasi virtual ini adalah fitur yang beragama, layanan ini tidak berbayar alias gratis.

  1. Zoom

Media komunikasi virtual yang sering menjadi pilihan perkantoran dalam berkoordinasi adalah Zoom. Melalui aplikasi Zoom, manajemen dimungkinkan untuk berkomunikasi dengan sejumlah karyawan secara real time dan interaktif. Dengan layanan berbayar, Zoom dapat mengakomodir video conference hingga 1.000 peserta. Kelebihan media komunikasi virtual ini adalah dapat mengakomodir presentasi karena terdapat fitur share screen yang memungkinkan komunikator melakukan proses komunikasi yang berguna untuk membagikan materi presentasi. Kelemahannya adalah keamanan yang banyak dikeluhkan akhir-akhir ini.

  1. Skype

Skype dapat mengakomodir conference call, panggilan suara, group chatting, dan kompatibel dengan Microsoft Outlook. Kelebihan lainnya adalah Skype memiliki tampilan sederhana sehingga mudah digunakan serta menjaga keamanan pengguna melalui pengaturan kode pada setiap pesan instan dan panggilan yang dilakukan dengan cara ujung satu dan lainnya.

  1. Slack

Aplikasi ini dapat digunakan untuk memudahkan komunikasi antar-tim. Keunggulan Slack adalah dapat terintegrasi secara langsung ke Google Hangouts dan Dropbox. Selain dapat mengirim pesan, Slack dapat dimanfaatkan untuk fitur lain seperti melihat proses kinerja dalam mengelola proyek, berbagi berkas, dan juga fitur-fitur lain yang dibutuhkan untuk produktivitas tim.

  1. Google Apps (G Suite)

Media komunikasi virtual ini sangat kompatibel dengan Microsoft Office dengan kelebihan dapat memfasilitasi upaya produktivitas bekerja secara remote. Google hangouts dapat difungsikan untuk video conference, Google Drive dapat digunakan untuk berbagi dokumen, dapat digunakan dalam keadaan offline (tanpa jaringan internet) maupun keadaan online (dengan jaringan internet). Beberapa aplikasi lainnya dapat digunakan untuk meningkatkan manfaat, baik secara gratis maupun berbayar.

  1. Dropbox, Onedrive

Media ini mirip dengan Google Drive dalam hal kegunaannya yaitu dapat menyimpan file dengan kapasitas tertentu dan dapat di-upgrade dengan menggunakan fasilitas berbayar.

Selain enam media tersebut, terdapat pula aplikasi yang dirancang untuk mempermudah komunikasi antara karyawan dan kantor, terkait administrasi perkantoran, semisal absensi. Pada era pandemi seperti saat ini, produktivitas karyawan tetap harus berjalan agar target organisasi tercapai.

Aplikasi Asana dapat digunakan untuk membantu menyusun target pada tugas/project yang sedang dikerjakan. Sementara aplikasi Easywork dapat dimanfaatkan sebagai mesin absen online di mana karyawan dapat clock in pada saat memulai pekerjaan dan clock out di saat waktu bekerja selesai. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang semakin baik seiring berkembangnya zaman, maka diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya untuk peningkatan kapasitas, terlepas dari kelemahan dan kelebihannya. 

Masalah dalam Komunikasi

Meskipun pilihan media komunikasi virtual sudah banyak ragamnya, namun kegiatan komunikasi belum tentu dapat berjalan tanpa masalah.  Kendala dalam berkomunikasi perlu segera diidentifikasi dan ditangani. Jika berlarut-larut, hal itu dapat menghambat produktivitas kerja.

Untuk meminimalisir kendala tersebut, ada baiknya kita mengenali masalah-masalah yang dapat timbul dalam proses komunikasi. Menurut Fiske dalam bukunya Cultural and Communication Studies, terdapat tiga masalah dalam proses komunikasi. Pertama adalah masalah teknis yang terkait dengan bagaimana simbol komunikasi ditransmisikan secara akurat; kedua adalah masalah semantic, yaitu bagaimana simbol yang ditransmisikan dapat secara persis menyampaikan makna yang diharapkan; yang terakhir adalah masalah efektivitas, yaitu bagaimana makna yang diterima secara efektif dapat mempengaruhi tingkah laku dengan cara yang diharapkan.

Proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan media komunikasi, rentan mengalami distorsi pesan. Komunikator perlu memiliki kemampuan untuk memahami isi pesan yang akan disampaikan sehingga dapat memilih kalimat yang tepat agar pesan dapat disampaikan secara akurat. Jaringan internet yang tidak stabil dapat mendistorsi isi pesan. Dengan jaringan internet yang baik pun bukan berarti proses penyampaian informasi dapat berjalan lancar Pemahaman individu dapat berbeda sesuai dengan kondisi psikologis dan kesehatan fisiknya.

Oleh karena itu, di era wabah seperti sekarang, kita harus menguatkan jejaring sosial meskipun harus melakukan physical distancing serta lebih adaptif terhadap perubahan demi kemaslahatan kita semua. Bersama kita siap hadapi New Normal.***

Ane Dwi Septina

Peneliti Pertama Bidang Komunikasi Politik pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim.