Berita LHK

Pertanian Polybag, Menjawab Tantangan Lahan Gambut




Petani bisa memindahkan tanaman ke tempat aman saat terjadi kebakaran lahan atau membuat para-para agar tanaman tidak terendam saat banjir.

BAGI mereka yang senang bercocok tanam, menanam tanaman hortikultura jangka pendek pada wadah tanam plastik atau polybag bukanlah hal baru. Cara ini menjadi alternatif bagi mereka yang memiliki keterbatasan lahan.

Cara menanam dan pemeliharaannya pun tidaklah sulit dengan biaya relatif murah. Banyak tutorial cara bercocok tanam sayuran di polybag bisa diakses melalui media online. Salah satu pilihan praktis adalah melalui portal video youtube, untuk bisa melihat tahap demi tahapnya. 

Menanam sayuran di polybag bisa diharapkan meringankan beban ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sayuran rumah tangga, karena merujuk pada data Biro Pusat Statistik 2017, meskipun produksi sayuran melimpah, terjadi penurunan konsumsi masyarakat dalam waktu lima tahun terakhir. Penurunan ini terjadi pada kelompok masyarakat miskin dan tidak terlihat pada kelompok ekonomi menengah ke atas.

Data penurunan konsumsi sayuran, terutama di kelompok masyarakat miskin dapat diduga terkait dengan kurangnya kemampuan masyarakat dalam membeli sayuran. Oleh karena itu, menanam sendiri beberapa jenis sayuran menjadi salah satu opsi, terutama bagi mereka yang masih memiliki lahan yang cukup. 

Namun berbeda masyarakat yang tinggal di lahan gambut. Meski memiliki lahan yang luas, sebagian masyarakat Desa Tumbang Nusa, Kec.Jabiren Raya, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, justru memanfaatkan polybag untuk bercocok tanam sayur mayur. 

Mengapa masyarakat lebih tertarik untuk bercocok tanam di polybag, sementara lahan yang ada masih cukup luas?

Tantangan lahan gambut

Beberapa hasil penelitian menunjukan potensi dan keberhasilan pertanian hortikultura di lahan gambut harus dilakukan melalui intervensi berbagai bentuk teknologi pengelolaan lahan, sebagaimana diungkapkan dalam penelitian R. Sunaryati yang dipublikasikan pada 2019 di Kelurahan Kalampangan Kota Palangkaraya. Desa yang merupakan daerah gambut dalam kini menjadi sumber penghasil tanaman pangan dan sayuran bagi wilayah sekitarnya.

Demikian halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah dan Mokhtar di Kelurahan Kalampangan dan Kelurahan Tanjung Pinang Kota Palangkaraya. Penelitan tersebut juga mengungkap bahwa keberhasilan pertanian di lahan gambut tidak terlepas dari input teknologi pengelolaan lahan.

Teknologi pengelolaan lahan gambut seperti pengaturan tinggi muka air tanah melalui pembuatan parit, pengapuran tanah untuk menetralisir kadar asam gambut, pemanfaatan vegetasi alami di atas tanah gambut sebagai mulsa, input pupuk baik organik maupun non organik diterapkan untuk mendorong potensi pertanian di lahan gambut. 

Selain itu, masih banyak bentuk teknologi lain yang di lakukan di daerah-daerah lahan gambut. Teknologi pengelolaan lahan gambut untuk menjadi lahan pertanian tentunya tidaklah murah dan membutuhkan tenaga yang cukup besar.

Mudah dan murah

Berbeda halnya dengan Desa Tumbang Nusa yang bertetangga dengan Kelurahan Kalampangan. Berdasarkan hasil wawancara kami dengan beberapa masyarakat Desa Tumbang Nusa pada tahun 2019 dalam kegiatan penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dengan Project  ACIAR FST 144/2016, penduduk memang tidak tertarik mengelola lahan gambutnya untuk kegiatan pertanian.

Alasan yang disampaikan adalah kebutuhan tenaga dan modal besar untuk menyiapkan lahan gambut tanpa membakar. Selain rentan terbakar saat musim kemarau, menurut mereka lahan gambut di desa sering kali tergenang banjir saat musim hujan. Akibatnya, pertanian yang mereka lakukan tidak selalu berhasil.

Namun karena tuntutan kebutuhan hidup, kondisi lingkungan yang tidak mendukung bagi masyarakat Desa Tumbang Nusa tidak mematahkan  semangat beberapa petani untuk tetap melakukan kegiatan bercocok tanam. 

Berbekal dari melihat contoh di tempat lain dan menonton youtube mengenai teknik menanam sayuran di polybag, Petani di desa tersebut, Pak Ardi dan Pak Giang kemudian mencoba menanam cabe dan sayuran di polybag dalam skala kecil. Sekitar 500-an polybag diletakkan di lahan gambut di belakang rumah.

Menurut mereka, modal menanam di polybag juga lebih murah dan pemeliharaannya lebih mudah dibanding menanam langsung di lahan gambut. Saat terjadi kebakaran lahan, mereka dengan mudah memindahkan tanaman ke tempat yang lebih aman atau membuat tempat penyimpanan polybag yang lebih tinggi yang disebut para-para, agar tidak terendam banjir saat musim hujan.

Keunggulan lain menanam di polybag, adalah tidak lagi diperlukan pengapuran lahan, pupuk dalam jumlah besar, atau bersusah payah menggali parit. Penyiraman tanaman dan pembersihan gulma juga lebih mudah dilakukan. Media tanam hanya menggunakan gambut yang melimpah di sekitar rumah, untuk dilengkapi sedikit pupuk kandang.

Petani juga bisa menggunakan polybag dari plastik bekas pembungkus deterjen, mie instan atau bungkus plastik lain. Cara ini secara tidak langsung mampu mengurangi penumpukan sampah plastik.

Penuhi kebutuhan

Pada saat panen, hasil bercocok tanam di polybag ini tentu saja bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur dan konsumsi sehari-hari. Petani tidak perlu lagi mengeluarkan uang belanja sayur, terlebih kelebihan hasil panen bisa dijual untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

Meskipun relatih mudah diterapkan dan kebutuhan modal yang relatif kecil, baru sebagian masyarakat Desa Tumbang Nusa menerapkan cara ini. Pengembangan dan penyebarluasan, setidaknya pada masyarakat Desa Tumbang Nusa dan lebih jauh lagi pada desa-desa di lahan gambut perlu dilakukan. 

Mengingat tidak semua masyarakat memiliki kapasitas belajar melalui media online, perlu dilakukan transfer pengetahuan dan pengalaman bagaimana bercocok tanam di polybag di desa-desa lahan gambut yang rentan terhadap kebakaran dan banjir. 

Pada titik inilah, terdapat urgensi peran pemerintah, antara lain melalui para penyuluh dalam membangun minat masyarakat untuk memanfaatkan lahan gambut yang menurut mereka tidak potensial melalui pelatihan dan pendampingan.

Ketertarikan masyarakat untuk mengelola lahan gambut dengan bijak secara langsung atau tidak langsung diharapkan mampu mengurangi risiko terjadinya kebakaran lahan gambut dan sekaligus mampu menopang perekonomian masyarakat setempat.*

Penulis : Ramawati

Peneliti Pertama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim

Sumber: Kabar Alam