Berita

Daulat Bambu di Tanah Sa’o




Upaya konservasi dilakukan secara non teknis melalui penerapan hukum adat yang efektif untuk menjaga bambu dari eksploitasi brutal

BAJAWA. Kota dingin di tengah pulau Flores. Kota yang populer dengan aroma kopi arabica dan yellow cattura. Tapi bukan berarti popularitas itu menihilkan potensi lainnya menjanjikan. Bambu!

Secara teknis, Bajawa memang bukan penghasil bambu. Dan secara teknis pula, Bajawa bukan penghasil kopi. Tapi, dua komoditas itu dipanen dari tanah-tanah subur terhampar luas di wilayah Kabupaten Ngada.

Di desa-desa berjarak puluhan kilometer dari Bajawa, kebun kopi berdampingan dengan kebun bambu. Keduanya tidak tumbuh bercampur baur secara heterogen seperti kehendak para ahli agroforestry. Sebaliknya, keduanya mengisi persil demi persil lahan rakyat secara terpisah. Kopi tumbuh di persilnya sendiri. Bambu menjulang di persilnya sendiri.

Sudah tentu ada maksud di balik sebutan Kopi Bajawa dan Bambu Ngada. Padahal dua komoditas ini sama-sama dihasilkan di Ngada. Bukan di Bajawa. Bisa saja penamaan itu hanya soal branding. Sampai akhirnya muncul dua istilah populer dari tempat yang sama, Kopi Bajawa dan Bambu Ngada.

Tulisan ini tidak akan membincang Kopi Bajawa yang sudah telanjur sukses di pasaran. Sebaliknya, Bambu Ngada akan lebih menarik untuk dibahas lebih mandalam.

Bambu dan Orang Ngada

Bambu di Ngada sangat istimewa karena ukurannya besar dan sebarannya massive. Orang Ngada menyebut bambu raksasa ini dengan nama betho atau betung. Disebut raksasa karena panjang batang bambu betho bisa mencapai 27 meter dengan diameter pangkal 16 sentimeter. Dalam istilah latin, bambu betho termasuk dalam family Dendrocalamanus  asper  atau Dendrocalamus sp.

Bambu betho bisa tumbuh antara 60 hingga 90 rumpun per hektar dengan 36 batang pada tiap rumpun sehat. Secara kuantitas, potensi bambu betho di Ngada cukup menjanjikan yakni ada 112.333 rumpun atau 10.559.281 batang. Sedangkan dalam satu tahun bambu betho dapat menghasilkan sekitar 1.250.000 batang.

Studi etnografi bambu Ngada dilakukan Handoyo dan Prasetyo – peneliti P3SEKPI yang tergabung pada proyek Kanoppi 2 Obyektif 5 – pada 2018-2019 menyebutkan, sebaran bambu betho di Ngada sudah ada sejak dulu.

Tidak ada satu pun dari sumber-sumber etnografi itu yang menyatakan kalau bambu-bambu itu ditanam orang-orang Ngada terdahulu. Tidak ada bukti pula yang menunjukkan bahwa leluhur orang Ngada yang memilih membangun permukiman di tengah-tengah rumpun betho itu.

Antropolog orientalis Paul Arndt dalam bukunya “Manusia Ngada” menyebut bahwa kehidupan orang Ngada tidak bisa dipisahkan dari bambu. Ucapannya itu terkonfirmasi data BPS tahun 2017 yang menunjukkan rumah-rumah orang Ngada bangunannya masih didominasi bambu. Selain konstruksi, bambu digunakan orang Ngada sebagai alat musik, alat kesehatan, alat pertanian dan peternakan, serta perkakas dapur.

Hasil temuan etnografi tim peneliti P3SEKPI juga menunjukkan bahwa orang Ngada tidak memberikan perlakuan khusus kepada bambu betho yang tumbuh di lahan miliknya. Bambu dibiarkan tumbuh alami di lahan komunal maupun pribadi. Kecocokan lahan jadi alasan paling masuk akal yang membuat bambu betho tumbuh subur di Ngada.

Meski demikian, alasan sosial budaya tentu jadi variabel lain yang tak kalah penting. Orang Ngada masih menganggap bambu betho sebagai barang sosial ketimbang barang ekonomi. Sehingga jarang ditemukan adanya kerusakan rumpun betho akibat pencurian bambu. Bambu digunakan secara subsisten untuk pemenuhan kebutuhan tuannya atau orang-orang di sekitarnya.

Orang Ngada tidak melakukan upaya konservasi secara teknis terhadap rumpun-rumpun bambu betho. Namun, mereka melakukannya secara non teknis melalui penerapan hukum adat yang efektif untuk menjaga bambu dari eksploitasi brutal. Hukum adat itu adalah waja dan rii.

Yohanes Mopa, budayawan Ngada saat diwawancara pada 2019 dalam studi etnografi ini menjelaskan, waja adalah penerapan larangan mengeksploitasi bambu untuk tujuan pemulihan bambu dan ekosistemnya menjadi seperti sediakala. Misalnya, jika ada 400 rumpun betho yang kurang sehat –batangnya banyak yang patah, mati, atau terbakar — maka dibutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk memulihkannya agar rumpun-rumpun itu sehat kembali.

Sedangkan rii adalah larangan yang diterapkan untuk tidak memanen bambu yang sudah dipersiapkan untuk kebutuhan tertentu sesuai pada waktunya. Misalnya untuk keperluan pembangunan atau rehab rumah adat yang butuh bambu betho dalam jumlah banyak. Komunitas adat akan menerapkan rii beberapa tahun sebelumnya agar keperluan akan bambu tersebut bisa terpenuhi sesuai jumlah yang dibutuhkan.

Keduanya mengenal istilah buka/naik dan tutup/turun waja atau rii. Ketika waja atau rii dibuka berarti larangan mulai berlaku dan bagi yang melanggar akan dikenai sanksi sesuai kesepakatan yang diucapkan saat ritual buka/naik waja atau rii. Sanksi biasanya berupa denda hewan ternak (babi) dan moke (tuak aren) untuk kemudian dimasak dan dibagikan kepada orang-orang yang hadir saat pengakuan dosa di tempat kejadian perkara.

Bambu dan Sa’o

Piere Bourdieu dalam The Forms of Capital (1986) menyebut modal sosial sebagai keseluruhan upaya, baik potensial maupun nyata, terkait penguasaan hubungan antar kelompok dalam sebuah jaringan kelembagaan yang didasarkan kepada saling kenal dan saling mengakui satu sama lain. Sedangkan James Coleman dalam Social Capital in the Creation of Human Capital (1988) percaya kalau modal sosial itu ditopang tiga pilar kunci yakni rasa percaya (trust), komunikasi yang intens dan ketaatan anggota akan norma-norma dan sanksi.

Sa’o merupakan perwujudan modal sosial yang sempurna dalam mendukung kelestarian bambu pada masyarakat Ngada. Bagi orang Ngada, Sa’o adalah unit terkecil dari sebuah suku (wo’e) dalam sistem sosial budaya di Ngada. Secara sosiologis, Sa’o dapat disebut sebagai extended family (keluarga besar) yang terdiri dari beberapa nuclear family (keluarga inti/kepala keluarga).

Di dalam komunitas Sa’o terdapat trust, komunikasi intens dan ketaatan anggota akan aturan adat yang disepakati. Trust terbangun dari perjalanan sejarah hidup komunal yang panjang. Masyarakat desa berbasis kesukuan membuat anggotanya berinteraksi secara intens sehingga komunikasi dua arah berjalan lancar. Kondisi itu kemudian memunculkan ketaatan yang tinggi terhadap kesepakatan-kesepakatan adat yang dibuat secara bersama.

Handoyo dan Prasetyo dalam studi etnografi bambu Ngada 2018-2019 memperoleh keterangan bahwa Sa’o biasanya mempunyai asset komunal yang kemudian diatur dalam hukum waris terkait lahan (Ngia Ngora) dan bambu (Napu Bheto). Pengaturan atas dua hal ini menunjukkan bahwa lahan dan bambu merupakan unsur penting dalam kehidupan orang Ngada. Maka dari itu, pengaturannya dilakukan sangat hati-hati dan selalu dimusyawarahkan dalam Sa’o. Tujuannya agar semua anggota Sa’o bisa mendapat informasi yang sama.

Bambu betho di Ngada hampir seluruhnya berada di tanah Sa’o. Persentase luasannya pun cukup besar. Akan tetapi potensi sosial ekonomi yang dimiliki bambu di tanah Sa’o belum tergali optimal. Pemanfaatannya bambu Sa’o masih subsisten. Padahal jika komunitas Sa’o mau mengelolanya secara serius, sangat mungkin bambu betho di tanah Sa’o menjadi sumber penghasilan utama yang berkesinambungan.

Hal itu bukanlah tanpa alasan. Mengingat saat ini kebutuhan industri bambu olahan yang diinisiasi PT Indobambu yang beroperasi di Maumbawa (pantai selatan Flores perbatasan antara Ngada dan Nagekeo) sekitar satu dekade terakhir, membutuhkan pasokan 6000 ton bambu Ngada setiap tahun.

Peluang ekonomi ini semestinya bisa mendorong komunitas-komunitas Sa’o untuk mengusahakan bambu-bambu di lahan komunal secara lestari. Misalnya dengan membentuk kelompok usaha tani bambu berbasis Sa’o.

Di sini, Sa’o ditempatkan sebagai jangkar bagi segala kegiatan pengusahaan bambu betho secara lestari. Komitmen tersebut tentu akan menjadi modal utama bagi tercapainya tujuan program Seribu Desa Bambu secara simultan. Di satu sisi menyediakan supply bambu secara berkelanjutan dan di sisi lain menyejahterakan para tuan bambu di Sa’o yang mengelola bambu rakyat.*

Penulis : Budiyanto Dwi Prasetyo

Sumber : Kabar Alam