Berita

NCS MAMPU BERKONTRIBUSI 30% DALAM PENURUNAN EMISI GLOBAL




_BOGOR_ Studi NCS 2017 dan 2019 pada tingkat nasional dipandang perlu diperbaharui dengan menggunakan sintesis dan data nasional yang tersedia di Indonesia. Selain itu, juga memperluas berbagai opsi yang belum dipertimbangkan pada publikasi sebelumnya. Melalui program NCS di Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) berkolaborasi mengadakan expert workshop.

Diselenggarakan pada Rabu, 12 Agustus 2020, tema yang diusung adalah “Perhitungan Potensi Penurunan Emisi dari Pencegahan Deforestasi/Degradasi dan Upaya Rewetting Ekosistem Gambut untuk pencapaian target NDC Indonesia”. Hasil kajian diharapkan dapat membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam memperkuat strategi mitigasi perubahan iklim untuk mencapai Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia di tahun 2030.

Pengelolaan ekosistem gambut memegang peranan penting dalam pencapaian penurunan emisi di Indonesia untuk pemenuhan target NDC. Itulah salah satu pijakan mengapa expert workshop ini dihelat. Dimoderasi oleh Dr. Niken Sakuntaladewi, peneliti dari P3SEKPI, dan sebanyak 31 peserta bergabung secara daring, diskusi melibatkan narasumber dari expert KLHK, Kementerian Pertanian, dan Badan Restorasi Gambut. 

Dua fokus tujuan diskusi yang disasar adalah: 1) mengumpulkan informasi dan data untuk merumuskan metode dalam menghitung potensi luas deforestasi dan degradasi gambut dengan mempertimbangkan data spasial yang tersedia serta aspek kebijakan/regulasi nasional, dan 2) mengumpulkan informasi yang relevan untuk mengkuantifikasi potensi penurunan emisi dari program rewetting gambut berdasarkan analisis data aktivitas, serta faktor emisi yang tersedia saat ini.

“Secara global, The Nature Conservancy (TNC) telah melakukan kajian bahwa NCS bisa berkontribusi 30% dalam penurunan emisi global dengan 20 pathways”, demikian ungkap Rusladi dari YKAN dalam pengantar. Dari kajian tersebut TNC bermaksud melakukan perbaikan, disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dan akan fokus pada 7 pathways prioritas. Slah satunya adalah potensi penurunan emisi dari lahan gambut.

 “Dalam kajian ini mencakup 3 hal: identifikasi potensi penurunan emisi, kajian ekonomi pembiayaan, dan kajian policy yang diperlukan utk mencapai target NCS. Diharapkan dapat zoom-in lagi pada pathway gambut sehingga didapat data yg lebih up-date dari gambut untuk 2 hal yaitu activity data dan emission factor. Data ini akan dapat dimanfaatkan KLHK untuk penentuan strategi pencapaian NDC dari NCS gambut”, ujar Ruslandi.

Dalam melakukan perhitungan emisi, diperlukan data aktivitas yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan dengan mempertimbangkan berbagai faktor di antaranya: peraturan dan kebijakan yang berlaku; existing tutupan lahan saat ini; ketahanan pangan nasional; serta faktor sosial, ekologi atau ekonomi lainnya yang relevan. Metode perhitungan data aktivitas perlu dirumuskan dengan baik dan tepat dengan mempertimbangkan ketersediaan data nasional (Tier 2) yang ada.

Dalam menghitung dampak rewetting terhadap penurunan emisi, perlu juga dirumuskan seberapa luas dampak dari aksi ini. Data historis tahun 2009-2019 akan digunakan untuk memproyeksikan penurunan emisi di tahun 2030 dari berbagai aksi mitigasi di ekosistem gambut. Selain data spasial, update faktor emisi dekomposisi gambut untuk perubahan tutupan lahan akibat deforestasi dan degradasi pada ekosistem gambut juga sangat diperlukan.

Meskipun  dengan data publikasi yang masih terbatas, diharapkan tim KLHK dan para pakar dapat merumuskan metode yang jelas dan tepat untuk melihat potensi luasan areal pencegahan deforestasi/degradasi gambut serta  areal optimum untuk restorasi gambut.*

Penulis: Diny Darmasih