Berita

Cinta Virni Kepada Mangrove




_BOGOR_BRisIK edisi perdana usai sudah sore tadi. Tampil pada Jumat, 14 Agustus 2020 secara live di IG P3SEKPI (@p3sekpi.bli), kedua “brisiker”, Virni Budi Arifanti (Virni) dan Bugi K. Sumirat (Kang Bugi) tampil prima. Obrolan mengalir jernih, segenap penonton tercerahkan. Mantul, mantap betul.

Dibuka dengan pertanyaan “kenapa tertarik dengan mangrove?”, Virni mulai berkisah. Ketertarikannya berawal dari penelitian S3. Rutin setiap bulan penelitian, akhirnya tertarik. “Saya kagum dengan mangrove. Tanaman ini tumbuh di tempat yang ia harus bisa survive. Salinitasnya tinggi, harus selalu tergenang air. Dari situ saya mulai mencintai mangrove”, demikian Virni berujar.

Untuk yang belum mengetahui, mangrove hanya tumbuh di negara (wilayah) yang berada di garis equator, itu pun hanya 1% dari total hutan di seluruh hutan tropis dunia. Meski hanya 3% dari luas hutannya, Indonesia cukup bangga dengan 3 juta-an ha mangrove yang dimiliki. Kenapa? “Mangrove itu rare, terbatas sekali sebarannya. Spektakuler  dari sisi fisik: batangnya besar, akarnya kemana-mana. Dia hidup di anatara darat dan laut. Istilahnya “galau”. Itu juga yang menyebabkan lingkungan mangrove itu keras. Terkena abrasi, salinitas tinggi, terkena ombak”, kagum Virni.

Kala Kang Bugi bertanya tentang kemampuan mangrove menahan tsunami, Virni kembali melanjutkan cerita. Indonesia adalah negara dengan mangrove terluas. Mangrove ini multifungsi, salah satunya memperlambat arus gelombang yang disebabkan tsunami. Hal itu karena akarnya menyebar secara ekspansif. Tragedi tsunami Aceh (2004) adalah buktinya, banyak desa yang terselamatkan karena terlindung oleh mangrove.

Kalau dahulu mangrove dieksploitasi untuk arang dan kayu bakar karena kalornya tinggi, sekarang tidak boleh. “Saya pakai batik mangroves, ini dari pewarna alami”, demikian Virni berbangga menunjukkan pakaian yang dikenakan. Buah (yang jatuh) dapat dimanfaatkan. Daun diolah jadi terigu, keripik, dodol, sirup. Bahkan sekarang, ekowisata mangroves sedang hits. Karangsong, Indramayu  adalah contoh nyata tentang pemberdayaan masyarakat sektiar untuk mengelola ekowisata. Bahkaan telah dibuat kurikulum mangroves di tingkat SD.

Kita bersyukur karena kesadaran masyarakat terus meningkat untuk melindungi mangrove. Ini merupakan hasil kerja semua lini, dari pemerintah hingga masyarakat. Sembari tersenyum, Virni berujar “ada sih yang bandel, seperti perusahaan. Itu harus kita tatar”.

“Lebih ke kenaikan permukaan air laut”, demikian Virni menjelaskan hubungan mangrove dengan perubahan iklim. Dengan adanya mangroves, hal itu bisa diatasi. Selain itu, mangrove dikenal berkemampuan tinggi dalam hal menyimpan karbon. “Lima kali lipat dengan cadangan yang ada di hutan tropis”, ujarnya. Kandungan karbon yang tinggi menjadikannya sangat rentan; jika dikonversi menjadi tambak atau apapun, karbon akan terlepas.

Jelang akhir perbincangan, Virni terus berkampanye. “Buat postingan yang positif tentang mangrove. Saya juga posting di medsos. Kita juga bisa bersihkan sampah di sekitar mangrove, karena plastik yang nyangkut di akar bikin mangroves mati”. Dia juga titip pesan “sebarkan cerita tentang mangrove agar tumbuh kesadaran. Jangan sampe mangrove punah”.

_dapur digital_