Berita

Meng-Ekstraksi Hutan Tanpa Merusak




_BOGOR_Tampil dengan duo Budi Dwi Prasetyo-Diny Darmasih, BRisIK edisi 2 digelar Jumat siang, 28 Agustus 2020. “Masyarakat, Hutan Adat, dan Masa Depan”, diobrolkan bak aliran air di hutan adat, sejuk menyegarkan. BRisIK edisi kali ini disaksikan secara langsung oleh hampir 40-an pengunjung dan telah ditonton sebanyak 100 kali. Sangat tak terduga, ada pengunjung dari Malaysia dan Iceland, selain Indonesia tentu saja. Takjub lah !

Diawali Diny dengan keingintahuan tentang masyarakat adat dan perbedaannya dengan masyarakat modern, Budi tangkas menjelaskan. Dia bilang bahwa ada empat kriteria yang harus disandang. “Pertama, ada masyarakat/komunitasnya; kedua ada teritori atau wilayah yang menjadia area, ruang hidup mereka; ketiga, aturan yang berlaku, yang membuat keseimbangan; terakhir, interaksi masyarakat dengan alam sangat intens. Ini berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang lebih modernize, canggih, melebihi hidup yang basic. Semua sudah pakai teknologi, sedangkan masyarakat adat menggunakan alat tradisional untuk bertahan hidup”.

Mari kita merenung, siapa sesungguhnya yang lebih modern, masyarakat adat atau “masyarakat modern”? Mereka yang punya segala yang dibutuhkan kita. “Oksigen dari mereka, tapi hak mereka terabaikan”, demikian Budi ber-ironi.

Lantas, bagaimana mereka mengatur tata-hidupnya? Untuk soal ini, obrolan mengalir menyentuh “masyarakat hukum adat”. Penyebutan masyarakat hukum adat lebih kepada  masyakarat yang dalam aktivitas, sistem sosial, tata perilaku, mengacu pada hukum adat. “Dia sangat berbeda dengan masyarakat umum yang mendasarkan pada hukum negara yang formal dan tertulis”, jelas Budi.

“Berarti hukum adat itu tidak tertulis?”, demikian Diny terus menggali. Budi meng-iya-kan dengan menekankan bagaimana hukum adat terbentuk. “Kalau misal ada yang urgen, harus dilindungi, apalagi untuk tujuan bersama yang komunal, akan dilakukan sidang adat yang dihadiri oleh tetua adat dan masyarakat”. Diselingi minum, Budi melanjutkan, “di situ dibuat kesepakatan, gak ada yang ditulis. Ada satu norma atau aturan tidak tertulis, namun kuat menekan masyarakat untuk mematuhi. Mereka percaya apa yang sudah disepakati, itu untuk kebaikan bersama. Itu yang paling jelas yang bisa membedakan masyarakat adat dan umum”.

Ketika BRisIK mencapai titik kulminasi, sang duo semakin brisik.

“Secara umum, semua masyarakat adat mempunyai prinsip yang sama dalam mengelola hutan. Aturan adat dibuat sesuai kebutuhan, erat dengan alam, leluhur, dan Tuhan mereka”.

“Masyarakat adat itu dilematis posisinya sekarang. Dia punya aturan, tapi diatur juga sama negara. Ketika kita merdeka, kita harusnya membuka kerangkeng/belenggu hukum positif dalam membuat kebijakan. Pembangunan adalah penyetaraan hak”.

“Masyarakat adat tidak perlu dibina, mereka udah pinter. Sumber knowledge ada di masyarakat adat. Jadi orang-orang seperti saya, profesor, antropolog yang studi tentang masyarakat adat, yang masuk ke pelosok-pelosok, mereka sebenarnya lagi belajar dari masyarakat adat”.

“Mereka ada dan tetap dibutuhkan, terutama untuk menjaga kelestarian hutan. Mereka adalah penjaga hutan tertangguh, mengekstraksi hutan tanpa merusak. Hutan adalah hidupnya”.

Demikian lontaran-lontaran Budi yang sungguh cerdas.

_dapur digital_