Berita

Lahan Gambut, Si Kecil Yang Bermanfaat Besar




_BOGOR_”Judul yang cukup menggelitik”, demikian bukaan Aris Ristiyana selaku host BRisIK, Jumat, 11 September 2020, mengomentari tema “Berdaya di Lahan Gambut”. Lantas dia menyasar Dr. Niken Sakuntaladewi yang dihadirkan sebagai narasumber, “siapa yang berdaya? Masyarakat? Bu Niken? Apa yang menarik dari tema ini?”

“Gambut merupakan lahan basah yang terdiri dari bahan-bahan organik seperti pohon-pohon busuk dan rerumputan. Karena tidak membusuk dengan sempurna, kesuburannya kurang pas. Sifatnya asam juga. Jenis balangeran dan jelutung merupakan jenis asli lahan gambut. Ada juga purun, sagu.”, jelas Niken.

Perempuan yang berprofesi sebagai peneliti tersebut juga menceritakan ketertarikannya pada gambut. Ia mengatakan bahwa meski jumlahnya sedikit, gambut punya manfaatnya yang besar bagi kelangsungan alam.

“Saya melihat gambut ini menarik. Meskipun luasanya kecil, hanya 3% dari total luas Indonesia, tetapi memiliki manfaat yang sangat besar. Punya 30-40% karbon global. Potensinya cukup tinggi. Di samping itu, gambut mempunyai kekayaan hayati yang cukup banyak, menjadi rumah flora dan fauna. Banyak makanan didapat dari itu”, tuturnya.

Tak berhenti sampai disitu, Niken menekankan kebolehan lain dari gambut, yakni menjadi fungsi tata air. “Terlepas dari itu semua, gambut punya fungsi yang cukup krusial, punya fungsi tata air. Kalimantan tidak ada gunung sehingga gambut sangat berperan. Kecil tapi manfaatnya sangat besar, small but important”, ulasnya.

Kembali pada pertanyaan awal, yang berdaya merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut, jelas Niken. “Gambut dapat dimanfaatkan untuk kehidupan. Bagaimana kita bisa memanfaatkan gambut secara lestari. Lestari gambutnya, lestari hasilnya”.

Ketika Kang Aris melontarkan pertanyaan tentang manfaat memberdayakan gambut dan riset yang dilakukan, Niken melanjutkan kisahnya.Kita ingin memberdayakan masyarakat, kita menginginkan mereka mampu dan mandiri, bisa hidup lebih baik, bisa lebih berdaya, dan mampu meningkatkan penghasilan dari gambut yang dikelola secara lestari.”

Penelitian gambut dilakukan dengan adanya proyek kerjasama penelitian dengan ACIAR untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu memanfaatkan lahan gambut, juga mendukung restorasi gambut di Indonesia. “Proyek ini hingga 2021. Banyak hal yang kita soroti, dari aspek kepakaran, kehidupan masyarakat, soil, dan kebijakan serta kaitannya dengan knowledge management. Itu gambaran umumnya”, demikian Niken.

Pada awal berkunjung ke lokasi kajian, kondisi yang ditemui membuat Niken dan kawan-kawan galau. “Ketika masuk, di sana ada hamparan yang luas. Panas sekali. Ada masyarakat yang bilang, kita itu hidup seperti di neraka. Kalau musim panas kebakaran, musim hujan kebanjiran. Pernah saya melintasi trans Kalsel pada malam hari. (Saat itu) kabut tebal, dan terdapat nyala api. Itu pemandangan yang miris. Sedih sekali”, demikian Niken mengenang.

Sesungguhnya, lahan gambut dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Buah-buahan, ikan, tanaman purun yakni sejenis rumput-rumputan. Semua itu dapat dijual oleh masyarakat. Ada juga masyarakat yang menanam sawit, membuat kanal. Ini berisiko karena gambut menjadi kering sehingga mudah terbakar ketika musim kemarau.

“Lantas, pengelolaan gambut yang arif itu seperti apa?”, kembali Kang Aris bertanya. Setelah meneguk air, ini yang dikatakan Niken: “Pada intinya, gambut itu karakteristiknya basah. Diciptakan seperti itu. Kita harus memperhatikan itu. Kalau kita ubah, risikonya besar. Jika mereka bisa menanam dengan kondisi seperti itu, bagus sekali. Makanya sekarang ada istilah paludikultur. Saya lihat di lapangan, masyarakat sudah sadar. Mereka menggunakan polybag, kresek, lalu menanam di situ. Tidak perlu membuat parit-parit. Kami ngobrol dengan mereka, hasilnya lumayan bagus. Mereka sudah mulai memahami karaktersitik lahan gambut”.

Bahkan, Niken menyebutkan masyarakat berinisiatif membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) yakni kelompok masyarakat yang bertugas untuk mengamankan desa dari api. Kepedulian ini terbentuk tidak lain karena sudah semakin baiknya kesadaran masyarakat untuk melestarikan lahan gambut.

MPA dibentuk oleh masyarakat, sedangkan Manggala Agni (MA) dibentuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Fungsi dan peran keduanya, mirip. “Kalau di lahan gambut mesti berhati-hati. Kalau dikeringkan, jadi lahan bakar. Kalau apinya di permukaan, selesai. Kalau merambat ke bawah, itu yang repot”.

Mengenai perbandingan besaran manfaat antara gambut basah dengan yang kering, Niken menjawab bahwa hal itu bergantung pada beberapa hal. Lantas ia meluruskan bahwa kemanfaatan gambut dapat dilihat dari seberapa tinggi kelestariannya dan dampaknya terhadap masyarakat sekitarnya.

“Bukan masalah basah atau kering. Kalau kita lihat, kita bisa mendapat manfaat secara lestari. Ada juga yang dikeringkan di lahan gambut yang dangkal, itu mereka kelola dan tanami. Di gambut dalam, beberapa orang mengambil manfaat ikannya, seperti di Tumbang Nusa,” kata Niken.

Sebagai pertanyaan pamungkas, Kang Aris menanyakan upaya dan strategi untuk mendorong masyarakat bersedia mengelola gambut berkelanjutan. Menjawab itu, Niken mengatakan beberapa hal yang harus dilakukan.

“Ada beberapa usaha dari pemerintah, seperti reweting. Di atas segala upaya, hal yang paling penting adalah memahamkan masyarakat tentang karakteristik lahan gambut. Dalam pemanfaatan lahan gambut, harus dilakukan pendampingan terhadap masyarakat. Masyarakat didorong untuk bertani purun (misalnya), dicarikan juga pasarnya; pelatihan membuat abon ikan; memberikan hewan ternak seperti sapi, kambing. Itu kami lihat di lapangan”.

Lahan gambut, kecil luasannya, luar biasa besar manfaatnya; kenali karakteristik biofisik dan sifat kritisnya sebelum melakukan penanganan dan pengelolaan gambut.*

 

_dapur digital_