Berita

Bambu, Si Kayu Masa Depan




_BOGOR_ BRisIK tampil sedikit berbeda. Itulah yang kita saksikan ketika BRisIK edisi ke-5 digelar, Jum’at, 09 Oktober 2015. Mengetengahkan “Bambu untuk Masa Depan”, Desy Ekawati selaku narasumber dan Budiyanto Dwi Prasetyo selaku host, tampil live dari Ngada, Flores tepat di 14.00 WIB atau 15.00 WITA. Kenapa? Mereka berdua tengah melaksanakan kegiatan di sana, rupanya.

Dibuka dengan pertanyaan standar “kenapa bambu?” oleh Budi, penjelasan Desy mengalir lancar. “Kita merdeka melalui bambu runcing”, Desy mencoba membawa kita ke fakta sejarah. Fakta itu lantas disandingkan dengan pandangan dari sisi yang lain. “Kenapa kita bicara bambu? Pertama, dia dekat dengan sosial-budaya. Kedua, dia bisa mendukung ekonomi, orang banyak hidup dari bambu. Terkahir, dari sisi ekologi atau lingkungan. Kita tahu di bawah hutan bambu cuacanya sejuk dan biasanya banyak sumber air. Itulah kenapa saya pribadi jadi “orang bambu”. Walaupun sebetulnya ini merupakan penugasan dari kantor karena waktu itu kita ada kegiatan kerjasama ITTO di tahun 2013. Jadi sudah hampir 7 tahun kita bergelimang dengan bambu”.

Terkait tentang cara menggunakan bambu agar berfungsi semestinya? Bambu apa saja sih yang bisa dimanfaatan?, Desy menguraikan bahwa bambu dikenal juga sebagai rumput besar, giant grass. Indonesia dikaruniai lebih dari 178 jenis bambu, baik endemik maupun eksotis. Dari jumlah itu, ada 10 jenis yang umum dimanfaatkan karena bernilai ekonomi tinggi. “Bisa untuk kerajinan, anyaman, itu biasanya bambu apus dan bambu tali. Sangat lentur, jadi bagus untuk dianyam. Kemudian bambu petung untuk konstrusksi. Ini lah yang sebenarnya yang kita bicarakan, bambu sebagai kunci di masa depan. Kaalau kita bicara kayu lagi, itu tentunya sudah semakin menipis. Kalaupun ada, kita harus menunggu kurang lebih 10-15 tahun. Adanya bambu, inovasi, dan teknologi, bambu bisa menjadi produk yang mengganti kayu. Jadi sebenarnya ini adalah kayu untuk masa depan”.

“Bagaimana bambu dapat membantu melanjutkan kehidupan manusia di masa depan?”, demikian lanjutan pertanyaan dari Budi. Sembari menampilkan lansekap Kampung Wogo, Desy berkisah: “Kenapa saya tampilkan Kampung Wogo? Ini adalah kampung di Ngada, NTT, rumahnya menggunakan bambu. Itu seperti diilhat atapnya, kalau bahasa Sunda, ditalahap. Bambu dibelah dua, lalu disilangkan untuk menjadi atapnya. Kalau di sini dibilangnya lenga. Dindingnya dibuat dari palupuh, bambu yang digeprek. Ini contoh pemanfaatan secara tradsional. Nah, untuk pemanfaatan masa depan, bambu bisa digunakan sebagai engineered wood, atau yang kita bilang bambu diubah menjadi artificial wood, kayu buatan. Melalui beberapa tahapan proses, akhirnya bambu dapat dijadikan balok kayu buatan”.

Ketika Budi seolah minta kepastian, “bisa dibilang substitusi kayu?”, dengan tegas Desy menimpali “Ya, bahkan komentar Pak Tetra (dari Yokohama), bambu is 21st century wood”.

Lantas, bagaimana membangun roadmap untuk mengembangkan bambu? “ Ini jadi PR kita bersama. Intinya, bagaimana kita menjadikan ini sebagai kebijakan yang sinergis, integrasi sektor hulu-tengah-hilir. Bagaimana menjamin pasokan bahan baku yang lestari, dan yang lebih penting menjadikan bambu sebagai komoditas rakyat, supaya menjadi nilai tambah untuk masyarakat. Bersama Yayasan Bambu Lestari, kita membuat gerakan industri berbasis bambu rakyat. Bagaimana kita membawa nilai tambah bambu menjadi mass production untuk pasar yang lebih luas. Tentu tidak semuda membalikkan telapak tangan karena bambu erat dengan budaya, dengan sosial masyarakat yang terbiasa mengerjakan bambu sebagai komoditas tradsisional. Kkita mulai mengenalkan perlunya kualifikasi produk, prasyarat sebagai bahan baku industri. Gerakan “1.000 Desa Bambu” menjadi salah satu fondasi. Ada juga local wisdom yang menjadi kekuatan untuk memberi nilai tambah dan benefit ekonomi”.

Ketika ada kekhawatiran jika bambu bakal menghadapi persaingan dengan baja ringan untuk konstruksi, Desy mengutarakan bahwa ke depan adalah era produk ramah lingkungan. “Orang akan lebih aware dengan green living, green material”. Mungkin bambu tidak lebih ekonomis, tetapi pasar “hijau” kian terbuka. “Kita akhirnya bermain dengan peluang pasar. Di luar negeri ada proyek pembangunan gedung pencakar langit yang dibuat full menggunakan bambu. Nah, itu kan sebenarnya menjadikan prestise sebagai orang yang peduli dengan renewable material. Dengan teknologi dan invoasi, semua sudah bisa diminimalisir”.*

Tirai BRisiK harus ditutup, tapi wawasan kita tentang bambu menjadi kian terbuka.

 

_dapur digital_