Berita

ACIAR “Gambut Kita” Gelar Pertemuan dengan Kabupaten Pulang Pisau




_BOGOR_Selasa, 6 Oktober 2020,_Tim ACIAR “Gambut Kita menggelar pertemuan secara virtual dengan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau untuk membahas hasil penelitian sementara yang telah dilakukan oleh tim ACIAR FST/2016/144 (ACIAR “Gambut Kita”). Hasil penelitian tersebut telah disusun ke dalam naskah “Peningkatan Efektivitas Upaya Pengendalian Kebakaran di Lahan Gambut”. Pertemuan dihadiri oleh tim ACIAR “Gambut Kita” yang terdiri atas peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru, dan BP2LHK Palembang. 

Dalam paparannya, Dr. Niken Sakuntaladewi selaku koordinator proyek ACIAR “Gambut Kita” menyampaikan bahwa hasil pengamatan yang dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau menunjukkan bahwa kebakaran banyak ditemukan di lahan gambut yang kering, terlantar, dan lahan yang menjadi objek konflik kepemilikan lahan. Niken pun memberikan rekomendasi terhadap akar permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik dari aspek sosial maupun politik. Secara sosial antara lain adalah memperkuat peraturan desa (Perdes) yang mengatur penangkapan ikan yang ramah lingkungan, memperkuat kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan, khususnya di lahan gambut, serta memperjelas tenurial dan keadilan dalam mengakses sumber daya alam melalui peraturan daerah (Perda). Rekomendasi politik yang ditawarkan di antaranya adalah memperhatikan “pengamanan sosial dan lingkungan” agar pelaksanaan kebijakan dapat didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan alokasikan ulang dana darurat untuk mitigasi bencana karhutla yang sebagian besar dapat diinvestasikan untuk pencegahan karhutla gambut. 

Drs. Wartony, M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pulang Pisau sangat mengapresiasi kegiatan penelitian yang telah dilakukan oleh ACIAR “Gambut Kita”. “Saya sepakat dengan rekomendasi yang diberikan, mungkin perlu menjadi fokus kita adalah Perdes, terutama terkait pengawasan di pintu masuk desa agar tidak sembarang orang yang bisa masuk ke sana”, kata Wartony. Ia juga mengatakan bahwa masyarakat desa dapat memainkan peran utama dalam mencegah karhutla, sehingga harus diberdayakan. “Keikutsertaan masyarakat dalam pengendalian karhutla ini sangat penting, kalau mereka diacuhkan maka dapat menimbulkan persoalan di kemudian hari”, ungkap Wartony. 

Beberapa komentar diberikan oleh peserta. “Kami dari Dinas Pertanian mencatat bahwa apa yang kita lakukan dalam upaya pembasahan kembali lahan gambut yang efektif untuk mencegah karhutla belum dilengkapi dengan program-program yang bisa secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Revegetasi perlu kita pikirkan bersama apa komoditas yang tepat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat”. Demikian ungkapan Ali, salah seorang peserta  di sela-sela diskusi”. 

Andi, peserta dari Kemitraan pun ikut berkomentar, “Berbicara restorasi, ada 4 hal di dalamnya: (1) Kebijakan desa; (2) Pemberdayaan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun sosial; (3) Restorasi, misalnya mendorong atau membangun infrastruktur pembasahan gambut di mana secara fisik cukup membantu dalam upaya penanganan karhutla; dan (4) Peningkatan kapasitas, mulai dari tingkat tapak seperti kelembagaan desa, pemerintah desa, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan lain-lain. Saya sepakat dengan Dinas Pertanian, kita perlu memperhatikan revegetasi karena jika hanya berbicara dalam konteks pembasahannya saja tidak menjamin bahwa gambut tidak terbakar”, ungkapnya. 

Pertemuan ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi perbaikan draft yang telah dibuat. Agenda ACIAR “Gambut Kita” selanjutnya adalah menggelar pertemuan dengan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan sebagai salah satu lokasi penelitian selain Kabupaten Pulang Pisau.

 

Penulis: M. Iqbql

Editor: Hariono