Berita

Meski Pandemi, Subarudi Tetap Orasi




JAKARTA_Melalui pergulatan panjang, seorang anak negeri kembali mengguratkan prestasi. Dr. Ir. Subarudi, M.WoodSc dikukuhkan sebagai Profesor Riset bidang sosiologi kehutanan, hari ini, 11 November 2020. Lelaki kelahiran Jakarta, 6 Februari 1961 ini adalah Peneliti Ahli Utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI). Bergumul di medan tempur penelitian selama berpuluh tahun, ia menjelma menjadi peneliti yang “kaya warna”. Ia merupakan orang kedua di P3SEKPI yang berhak menyandang gelar Profesor Riset, setelah sebelumnya Satria Astana pada Juli silam. Sebagai tambahan informasi, Subarudi merupakan Profesor Riset ke-573 (nasional) dan ke-34 di KLHK.

Menghasilkan tidak kurang dari 181 karya tulis ilmiah adalah bukti sahih tentang sepak terjangnya selaku ilmuwan. Sungguh pantas bila pada akhirnya dia ada di panggung Sidang Majelis yang terhormat untuk berorasi tentang “Revitalisasi Kebijakan Berimplikasi Sosial Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”, disaksikan Menteri KLHK Siti Nurbaya.

Kurangnya pelibatan masyarakat, orientasi yang lebih condong pada kayu, kebijakan yang belum berbasis riset, konflik antara pemerintah pusat dan daerah, perizinan yang terlalu birokratis, dan lemahnya penegakan hukum merupakan enam penyebab utama kurang optimalnya pengelolaan hutan di Indonesia. Banyak upaya pembenahan telah dilakukan namun sengkarut ini tetap masih mampu merayakan ulang tahun-nya berpuluh kali, mungkin hanya sedikit di bawah usia tanah air kita. Keberanian untuk melakukan terobosan kebijakan diyakini akan mampu membawa Indonesia keluar dari “sirkuit kemelut” tersebut dan menjadi pemenang.

Penguatan perhutanan sosial, peningkatan kebijakan berbasis riset, penyempurnaan UU Cipta Kerja adalah ekstraksi dari kandungan terobosan kebijakan pengelolaan hutan masa depan. Semua perumusan kebijakan harus diformulasikan dengan basis ilmiah. Kebijakan pengelolaan hutan lestari harus partisipatif, responsif, adaptif, dan berbasis iptek. Itulah yang akan membuatnya bernyawa.

Panggung telah ada, silahkan menaikinya. Tetaplah kaya warna, Tuan Profesor.*

_dapur digital_