Berita

Kajian Sosek Bukan “Simsalabim”




BOGOR_“Penelitian sosek perlu dilakukan tidak hanya sekali dalam satu lokasi tertentu, kemudian selesai. Ketika kita melakukan penelitian, biasanya kan ada hasilnya, mungkin juga ada saran yang kita sajikan. Apabila kita ingin melihat saran dan rekomendasi itu ada dampaknya atau dilaksankaan, tentu perlu ada penelitian ulang pada lokasi yang sama”.

Seolah memberikan penegasan bahwa penelitian sosek membutuhkan waktu yang tidak sebentar, pernyataan itu meluncur dari Aneka Prawesti Suka ketika ber-tik-tok dengan Dewi Ratna Kurnia Sari pada BRisIK ke-6 yang dihajatkan pada Jum’at, 23 Oktober 2020. Sang Dewi dan Aneka begitu piawai memerankan host dan narasumber dalam obrolan seputar dinamika sosial-ekonomi petani hutan.

“Penelitian sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan sepertinya begitu menarik. Apa sih hubungan timbal-baliknya dengan hutan?”, demikian Dewi membuka obrolan.

Gayung bersambut, Aneka bercerita. “Ada 25.000 desa yang berada di dalam dan sekitar hutan. Melihat banyaknya yang tinggal di sana membuat kita ingin tahu bagaimana kehidupan kita, sejauh mana ketergantungan petani hutan terhadap sumber daya hutan. Fisik hutannya, pohonnya, hasil hutan kayu dan non kayunya. Ketika kita melihat kehidupannya, ketergantungannya, maka dapat dirumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebiasaan lokal dan kebutuhan. Kita tidak menggeneralisasi satu perumusan kebijakan untuk semua masyarakat sekitar hutan karena kita semua tahu masyarakat berbeda-beda. Kita juga berharap aktivitas yang dilakukan masyarakat di dalam maupun sekitar hutan tetap menjaga fungsi hutan secara berkelanjutan tanpa mengubah satu dengan lainnya, yakni fungsi ekologi hutan, fungsi ekonomi penghidupan masyarakat, dan fungsi sosial masyarakat”.

Ketika Dewi menelisik tentang ketertarikannya dengan penelitian sosek, Aneka melanjutkan ceritanya.

“Penelitian sosek punya cakupan yang sangat luas. Kemampuan peneliti, tujuan penelitiannya, karakteristik lokal di lokasi penelitian, lalu metodologi yang akan dilaksankan, temasuk metode analisisnya”. Selain itu, ia bisa dipengaruhi oleh profesionalitas dan kepentingan pribadi peneliti, institusi, request dari sumber pendanaan tentang hasil penelitian untuk lokasi dan masyarakat mana. Masih menurut Aneka, kondisi masyarakat tidaklah tetap, apalagi masyarakat sekitar hutan yang penghasilannya bergantung pada keberhasilan panen, harga produk, iklim, dan sebagainya. Satu waktu melimpah, di saat lain pendapatannya menurun. Banyak sekali variasi penelitian sosek sehingga sangat dinamis.

Belum puas, Dewi melanjutkan keingin-tahuannya, “bagaimana upaya perbaikan nasib masyarakat sekitar hutan?” Soal ini, Aneka menukas, “banyak perbaikan yang dilakukan tapi itu bukan berarti kondisi mereka buruk. Kita bisa buka akses pasar dari hasil-hasil produksi masyarakat sekitar hutan. Kita perbaiki kualitas bibit, bantuan peningkatan pengetahuan dan kapasitas. Ini sangat penting untuk mengubah orientasi mereka dari menanam untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi ke depan bisa memberi hasil yang lebih. Untuk disimpan, investasi jangka Panjang”.

Tanpa lelah, Dewi kembali menukas, “strategi apa yang sudah dilakukan P3SEKPI untuk meningkatkan ekonomi hutan?”

Sembari berganti posisi duduk, Aneka berujar, “yang direkomendasikan adalah model ekonomi yang bisa diterapkan oleh masyarakat di lokasi penelitian, analisis keekonomian pada komoditas tertentu. Beberpa kawan berusaha mencari jalur-jalur bantuan pelatihan, peralatan, bibit, dan sebagainya sebagai upaya peningkatan sosek (masyarakat sekitar) hutan.”

Dari perjalanan riset yang dilakukan, apa yang menjadi underlying process (penyebab yang melandasi) masyarakat menjadi marjinal?

Terhadap pertanyaan ini, Aneka menjelaskan, “Kita ga bisa mengatakan kalau pendidikan itu merupakan alasan. Banyak penelitian yang menunjukkan kalau pendidikan tidak berpengaruh. Yang jelas masyarakat ada ketidakberanian untuk mencoba hal yang baru. Ketidak-beranian itu bisa juga muncul dari keterbatasan pengetahuan. Peniliti jangan hanya melakukan penelitian, harus menjadi broker pengetahuan. Saling berbagi, mereka bersedia diwawancara, kita membagi pengetahuan.” Petani karet di Lampung tidak tahu jika harga kayu karet bisa lebih mahal. Industri bisa menerima langsung kayu dari petani dengan nilai kubikasi, bukan hamparan.

Apa yang dikisahkan Aneka merupakan hasil dari proses penelitian yang belum selesai. Penelitian tersebut merupakan kerja sama Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dengan ACIAR “Enhancing Community Based Commercial Forestry Indonesia (CBCF)” di Gunung Kidul, Makassar, Pati, Bualemo, dan Lampung Selatan. Semuanya dapat diakses melalui website puspijak.org/cbcfindonesia, facebook, twitter, instagram, dan youtube dengan nama cbcf Indonesia. Penelitian ini dapat dilihat sebagai time series, penelitian yang sama diulang setelah beberapa periode tahun. Dengan begitu kita bisa mendapat hasil yang bisa dibandingkan antar-periode. Penelitian yang disajikan multiyears semacam ini dapat menjadi novelty dari penelitian sosek.*

_dapur digital_