Berita

Petani Wanita Pelopor Usaha Tani Semangka dari Desa Garung, Kalimantan Tengah




DESA GARUNG_Adalah Rusmisari. Meski tinggal di Desa Garung, wanita ini bukan Kepala Desa Garung. Menjalani kodrat sebagai seorang ibu rumah tangga, ia juga merupakan staf desa (Kepala Urusan Keuangan Desa Garung), Ketua Kelompok Tani Wanita, dan seabrek atribut lain ia sandang. Rusmisari adalah aktivis tulen, super women. Selaku Ketua Kelompok Tani Wanita, dia memelopori usaha tani semangka di Desa Garung.

Bayangkan, deretan aktivitas tadi menunjukkan bagaimana sibuknya ia. Ya mengurus rumah tangga, ya mengurusi warga desa, ya mengurus kelompok taninya. Masih sempatkah Rusmisari mengurus dirinya? Kesibukan terbaru adalah menerima kami selaku tim Penelitian Kegiatan Pemulihan Ekonomi Nasional: Kajian Strategi Penerapan Teknik Budidaya Gambut berkelanjutan oleh Masyarakat untuk wawancara sekaligus mengundang beliau mengikuti FGD (diskusi kelompok terarah) dalam rangka pengumpulan data penelitian.

Rusmisari bercerita tentang pengalamannya memelopori terbentuknya kelompok tani wanita yang fokus pada pengembangan usaha tani semangka. Iri tak selamanya jelek, ternyata. Keinginan memiliki usaha tani semangka bermula dari rasa penasaran dan “rasa iri” kepada keberhasilan usaha tani semangka masyarakat di tempat lain (di lahan non gambut). "Kalau di sana bisa, di desa Garung pun harus bisa; walau lahannya tidak sama, pasti di Garungpun semangka dapat dibudidayakan”, demikian dia berujar.

Begitulah, motivasi itu yang terus terngiang di kepalanya. Ia mulai mencoba menanam semangka. Ia juga mengajak ibu-ibu melakukan hal yang sama, menanam semangka. “Kelompok” inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok tani wanita di Desa Garong. Muluskah perjalanan kelompok tani ini? Rusmisari melanjutkan cerita. Semangka telah ditanam, pernah panen juga tapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Buahnya kecil-kecil, tidak sebesar semangka yang pernah ia lihat dan rasanya tidak semanis layaknya semangka. Pikirnya, mungkin karena ditanam di lahan gambut. Rupanya, ia penganut slogan Pemadam Kebakaran: “Pantang Pulang Sebelum Padam”. Semangatnya tidak surut menghadapi situasi “tidak besar dan tidak manis”. Dia membatin, pasti akan ada cara untuk meningkatkan hasil semangkanya. Besar dalam ukuran buah dan manis dalam rasa tanpa terlalu banyak kandungan air. Semakin rajin ia berkonsultasi dengan penyuluh pertanian. Apa lagi yang harus dilakukannya untuk menghasilkan semangka yang berkualitas baik?

Dari semangka, perbincangan terus melesat jauh menyusuri kegiatan-kegiatan lainnya. Atas permintaannya, kami berkunjung ke rumahnya yang tidak jauh dari kantor Desa Garung. Terbuat dari kayu, rumahnya begitu asri. Cukup lama kami berbincang tentang banyak hal. Kami cukup terperangah, ternyata Si Super Women memiliki usaha babi. Babi dibeli saat masih anak, dibesarkan untuk dijual pada saat menyambut Natal. Di kebun belakang rumahnya ada kolam ikan (empang) dan kandang babi tentu saja. Empangnya dipenuhi ikan yang biasa didapat di perairan air tawar lahan gambut. Ada ikan kapar, papuyu, gabus, dan ikan lele. Bibit ikan kapar tidak harus beli, cukup “menyerok” (mencari ikan dengan jaring atau serokan) di sungai. Kalau ikan papuyu, gabus, dan ikan lele, benihnya dibeli di Balai Budidaya Ikan (BBI) di Desa Garong. Kenapa harus beli di BBI? Ada alasan taktis di belakangnya. Menurutnya, ikan-ikan di BBI itu dipelihara di air yang berasal dari lahan gambut, tentu benih-benih tersebut akan berhasil bila dipelihara di empangnya.

Selain ikan kapar, benih ikan miliknya berawal dari bantuan pemerintah. Dalam perkembangannya, ia membeli benih ikan dengan modal sendiri untuk empangnya. Rusmisari mengakui bahwa ia masih perlu banyak belajar bagaimana membudidayakan ikan-ikan di empangnya. Ia belum menguasai caranya, ia tidak bisa mengetahui jumlah ikannya, bagaimana membuat ikannya cepat besar, dan apakah mencampur ikan-ikan berlainan spesies dalam satu empang merupakan tindakan yang sudah tepat?

Rusmisari tidak takut dengan kegagalan. Yang paling ia cemaskan adalah bila lahan gambutnya terendam banjir atau kering. Bila gambut banjir, empangnya akan banjir, ikannya banyak hilang. Bila musim kering melanda, empangnya akan cepat kering. Untuk menjaga agar ikan-ikannya tetap hidup di musim kering, Rusmisari menggali bagian empang yang lebih rendah agar air berkumpul di situ, sehingga ikan-ikan di empangnya bisa tetap hidup.

Rusmisari selalu berhasil membuat kami terkejut. Semangka, babi, ikan, dan kini madu. Ia dan keluarga menjual madu alam asli di kios depan rumah. Perbincangan kami sempat terpotong karena ada pembeli madu yang datang. Pembeli tersebut menyatakan bahwa ia berlangganan madu keluarga Bu Rusmisari karena terjamin keasliannya. Isu madu palsu cukup santer di sana karena ada penjual yang 'nakal'. Mereka kerap menjual madu palsu atau madu campur. Rusmisari berbeda. Ia menjual madu yang diperoleh dari pemburu madu di hutan gambut. Madu yang ia jual sebagian masih dengan sarangnya karena peminat madu sarang cukup banyak. Iseng-iseng kami tanya keaslian madu yang ia jual. Diringi senyum semanis madu, ia berujar sambil menuangkan madu yang kami pesan, "madu ini asli karena saya tahu ngambilnya. Untuk apa jual madu palsu, tidak baik itu". Betul Bu, sangat setuju.  

Si Super Women dan masyarakat yang tinggal di lahan gambut umumnya tidak mengerti teori-teori tentang gambut. Perbedaan antara gambut dangkal, gambut sedang, gambut dalam, termasuk paludikultur. Yang dimengertinya adalah bahwa menanam di lahan-lahan seperti itu ada perbedaannya dan mereka harus dapat bertahan hidup menyesuaikan dengan alam sekitar yang sudah demikian. Super sekali.

Penulis: Bugi K. Sumirat