Berita

Tebar Motivasi, Tebar Semangat Di Desa Berlahan Gambut




DESA GARUNG_Tiba di Desa Garung, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Utara, kami langsung menyasar kantor Kepala Desa. Begitu kami turun dari kendaraan, seorang laki-laki jangkung berbaju putih telah berdiri di depan pintu kantor desa. Dengan senyum ramah dan tangan ditangkupkan di dada, dia menyapa, “ingin ke mana dan bertemu siapa?”

Setelah kami utarakan maksud kedatangan kami, Si Lelaki Jangkung itu berujar akrab, “Saya Wanson, Kepala Desa Garung”. Ramah luar biasa. Ia seperti sengaja menunggu kedatangan kami. Sewaktu kami singgung tentang itu, dengan ringan dan keramahan berlipat ia berujar, “kedatangan tamu adalah kedatangan berkah. Itu sudah menjadi tugas, menyambut setiap tamu yang datang ke kantor, ke Desa Garung”.

Keramahannya terus mengalir ketika memberikan informasi yang kami butuhkan. Terlihat betul kalau ia menguasai situasi dan kondisi desa, masyarakat, dan semua aktivitas di Desa Garung. Begitulah Wanson, kepala desa yang sungguh “wow”.

Sekarang merupakan awal periode kedua dia menjabat. Menurut warganya, Wanson merupakan  sosok yang sangat ramah, sederhana, senang membantu, dan (ini yang menjadi ciri utamanya) tidak pernah menolak undangan warga dan pasti menerima kedatangan warganya. Kapanpun, selama ia dibutuhkan dan tidak sedang mengerjakan tugas lain, ia akan memenuhi permintaan tersebut. Semua keluar-biasaan itu kami peroleh kala melakukan wawancara dalam rangka pengumpulan data.

Kepada kami, Tim Peneliti Kegiatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN): Penelitian Kajian Strategi Penerapan Teknik Budidaya Gambut Berkelanjutan oleh Masyarakat – P3SEKPI Bogor,  Wanson mengutarakan kendala yang dihadapi masyarakat, terutama setelah pelarangan membakar hutan untuk lahan pertanian. Selaku Kepala Desa, ia risau. Kebiasaan yang telah lama dilakukan masyarakat secara turun-temurun, sekarang dilarang. Ia terus berupaya bagaimana agar tercipta usaha tani atau budidaya yang dapat dilakukan oleh warganya tanpa membakar lahan. Ia sepenuhnya setuju dengan pakar sosial-budaya dari Universitas Tanjung Pura bahwa membakar lahan ataupun hutan bukan suatu kearifan lokal (local wisdom). Membakar lahan adalah perbuatan tidak baik. Hanya masalahnya, kebiasaan tersebut telah lama berlangsung dan telah mengurat-mengakar.

Kerisauan itu yang membawa dia terus berharap agar petani di Desa Garung memperoleh bimbingan tentang bagaimana bertani di lahan gambut. Masyarakat hanya mengenal bahwa lahan mereka adalah lahan gambut. Mereka tidak mengetahui lebih jauh tentang karakteristiknya. Mereka buta tentang gambut dangkal, gambut sedang, ataupun gambut dalam. Di benak mereka semua itu sama, lahan gambut.

Kembali kami terkesima. Kepala desa yang satu ini berpandangan sangat terbuka pula soal gender. Ia sangat mendukung dan senang jika perempuan bisa berada di depan. Kesetaraan gender lantas dia cerminkan dalam kepengurusan desa. Dari 8 orang pengurus desa, 3 orang (40%) di antaranya adalah perempuan. Enggan berhenti, ia mendorong terbentuknya Kelompok Tani Wanita. Kelompok ini yang sekarang sedang bergelut mengembangkan tanaman semangka di lahan gambut. 

Kades yang enerjik ini juga mendorong berkembangnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan diapun menjadi salah satu anggota. “BUMDes perlu berkembang karena sangat membantu warga”, demikian dia berkisah. Jerih payah itu mulai berbuah. Kini, BUMDes Garung telah memiliki mitra usaha dalam pemanfaatan kayu galam yang berlimpah di desa ini. Sebuah potensi usaha yang baik dan harus terus digiatkan.

Penulis: Bugi K. Sumirat