Berita

Bijak Mengatur Lingkungan




BOGOR_Donny Wicaksono, seorang dengan pribadi unik yang menjadi aset berharga P3SEKPI. Gondrong, sangar, rock’n roll, tapi berhati lembut. Tipikal rocker beriman. Dia merupakan peneliti yang sudah sekian lama menggeluti perubahan iklim. Jum’at, 04 Desember 2020 dia tampil di panggung BRisIK 09. Bersama Bugi K. Sumirat (Kang Bugi), mereka terlibat perbincangan bertopik “Perubahan Iklim dan Kita”.

Ketika ditanya Bugi tentang “kenapa jadi peneliti?”, dengan gaya anti-mainstream dia bilang “Sebenarnya simpel aja. Dulu ketika daftar CPNS, hanya ada lowongan peneliti. Tapi setelah dijalani, saya menikmati kehidupan sebagai seorang peneliti. Saya punya banyak kesempatan menguak rahasia alam di mana ini juga merupakan perintah agama”. Menjadi peneliti adalah anugerah, begitu kira-kira.

Donny melanjutkan, “Soal riset, saya dan kita semua sebetulnya sudah melakukannya sejak lama. Ketika seorang bayi mulai belajar jalan. Ketika sekolah, mencari tahu keberadaan guru di sekolah dengan mengecek kendaraan yang biasa ia pakai. Intinya, setiap orang punya jiwa peneliti. Bisa dibilang, meneliti merupakan fitrah bagi tiap orang. Jadi, menekuninya sebagai sebuah pekerjaan, buat saya nikmat”.

“Jadi, apa sih perubahan iklim?”, Kang Bugi mulai menuju titik persoalan.

Mengutip kata-kata bijak, “perubahan itu adalah sebuah keniscayaan”. Jadi, perubahan itu merupakan hal yang tak dapat terhindarkan. Seiring berjalannya waktu, perubahan akan terus terjadi. Kalau kata band Scorpion, bahkan angin saja berubah (wind of change). Tentu sebuah perubahan harus kita sikapi dengan bijak dan baik. Ada perubahan yang kurang baik menjadi baik, ada yang sudah baik menjadi lebih baik. Definisi iklim adalah rata-rata cuaca, diukur dalam jangka waktu yang lama. Jadi perubahan iklim itu, ya iklim yang berubah, hehe”. Demikian Donny sembari terkekeh.

Gaya panggungnya mulai sedikit terlihat (Donny mengepalkan tangan dan memperlihatkannya pada kamera), “nih, misalkan ini bumi (menunjuk kepalan tangannya). Di sini ada saya, Kang Bugi, hewan, dan tumbuhan. Lalu di luar kepalan ini ada outer space dan matahari. Semua ini bersinergi dengan indahnya sehingga ada kehidupan di bumi. Sekian waktu, kehidupan di bumi mulai terganggu. Berdasarkan hasil riset, suhu di atmosfer semakin panas. Artinya, energi yang masuk dan keluar dari bumi tidak seimbang. Suhu panas yang terjadi secara global itu yang dikenal sebagai pemanasan global. Pemanasan global atau bisa disebut global warming memicu perubahan iklim.

“Lalu, apa yang menyebabkan pemanasan global?, lanjut Bugi.

Donny juga lanjut, “Menurut para ahli, yang menyebabkan suhu meningkat itu karena meningkatnya konsentrasi gas-gas tertentu di atmosfer. Simpelnya, energi cahaya dari matahari yang mencoba masuk ke bumi malah terperangkap di situ. Sebetulnya gas-gas itu penting untuk kehidupan. Ia bertugas melindungi bumi dan memastikannya agar ada kehidupan. Hanya saja kepadatannya meningkat. Gas-gas tersebut disebut gas rumah kaca. Proses memerangkap cahaya matahari di atmosfer disebut efek rumah kaca”.

Dengan ritme dan intonasi bicara yang terjaga, dia terus menjelaskan. “Jadi, efek rumah kaca itu bukan diakibatkan dari banyaknya bangunan yang menggunakan kaca. Efek rumah kaca adalah sebuah fenomena alam yang ditimbulkan oleh kepadatan gas-gas tertentu di atmosfer sehingga energi cahaya matahari terperangkap di sana. Hal itu menyebabkan suhu yang meningkat secara global.

“Apakah kemajuan teknologi menyumbang pemanasan global?”, cecar Kang Bugi

“Saya melihatnya begini. Kita manusia hidup di bumi ini tentu terus mencari kemudahan dalam segala aktivitas. Maka ada mobil, ada alat komunikasi, dan sebagainya. Kemudahan-kemudahan itu tentu membawa dampak. Pada akhirnya, kemudahan tersebut menimbulkan pelepasan, atau bisa juga disebut meng-emisi gas rumah kaca ke langit. Satu sisi kita tak dapat menghindari kemajuan karena itu bagian dari kehidupan. Di sisi lain, perubahan itu memiliki dampak pada iklim. Maka yang kita lakukan adalah lebih bijak dan mengatur semua hal dengan berbasis lingkungan”. Kali ini, Donny betul-betul terlihat bijak.

Sebagai penutup panggung BRisIK 09, Donny memberi wejangan, “Saya memaknai perubahan iklim adalah sebagai update status bagaimana kondisi lingkungan kita. Saya jadi inget lagu God Bless yang berjudul “Rumah Kita” yang menceritakan tentang lingkungan dan bumi yang kita tinggali bersama. Seperti rumah kita, misal ada atap yang bocor atau ada yang berantakan pasti kita bersihkan. Perubahan iklim adalah kondisi rusak di rumah kita yang butuh perbaikan”.

“Kita bisa lakukan sesuai kapasitas masing-masing. Usaha kita dalam menghemat listrik dan energi, bijak dalam menggunakan kertas adalah upaya kita dalam menjaga bumi untuk lebih baik lagi. Rumah yang lebih nyaman untuk ditinggali. Saya kira itu”.*

_dapur digital_