Berita

PUI, Sebuah Rekognisi Lembaga Litbang




_BOGOR_BRisIK edisi tutup tahun (edisi 10, 22 Desember 2020) menampilkan P3SEKPI-1. Ya, Choirul Akhmad selaku Plt. Kepala P3SEKPI berkenan tampil (dengan sedikit dipaksa) mengusung obrolan tentang capaian dan tantangan PUI Kebijakan Perubahan Iklim yang disandang P3SEKPI. Dipandu oleh Nurul Silva Lestari, kita simak obrolannya.

Dulu pernah jadi peneliti ya, Pak?

Dulu masih belajar, calon lah. Hampir 6 tahun  jadi calon. Takdir bicara lain. Waktu itu ada tawaran untuk mutasi ke Bogor, yang kemudian saya terima. Waktu itu Sekretariat (Badan Litbang Kehutanan) membutuhkan orang yang paham IT, dan saya dianggap ngerti komputer. Jadi saya ditempatkn di fungsional umum di bagian evaluasi, menangani sistem informasi manajemen di Sekretariat.

P3SEKPI dapat predikat PUI di 2019. Apa itu PUI?

Pusat Unggulan Iptek, itu semacam rekognisi dari Kemenristekdikti sebagai kementerian yang punya otoritas mengatur lembaga litbang d Indonesia. Berdasarkan definisi dari Kemenristekdikti, PUI adalah organisasi “litbang” yang minimal sudah terbentuk selama 3 tahun, baik berdiri sendiri maupun di bawah pemerintah, yang melakukan kegiatan riset bertaraf internasional, spesifik, dan inter-disiplin dengan standar yang tinggi dan sesuai kebutuhan iptek. Kalau menurut kita ya, kita punya modalitas dan “unggul” dalam bidang kita. Itu yang perlu disampaikan ke publik. Litbang ini punya keunggulan dalam tugas dan fungsi yang selama ini dijalankan. “Unggul” berarti berbeda dari yang lain.

P3SEKPI punya tugas di tiga bidang besar: ekonomi, kebijakan, dan perubahan iklim. Dari situ, kita mencoba meraih rekognisi yang tinggi dari kementerian yang menangani itu. Kita suarakan ke dunia luar bahwa P3SEKPI unggul dalam hasil dan lain-lain.

Syarat jadi PUI itu susah atau tidak, Pak?

Susah. Awalnya, kita harus memilih keunggulan apa yang bisa diangkat. Buat litbang lain yang basisnya komoditi, mudah saja mereka menentukan, misalnya PUI Padi, PUI Pertanian. Nah, P3SEKPI punya tiga bidang besar. Kami berstrategi, untuk sosial-ekonomi mungkin sudah diangkat oleh Pertanian dan LIPI. (Karena itu) kami memilih Kebijakan Perubahan Iklim. Bidang itu belum ada sehingga peluang untuk dapat PUI jadi lebih besar. Itu strategi kami saat itu.

Prosesnya berapa lama?

Proses penilaiannya berjenjang, hampir setahun. Dimulai dari mengumpulkan bukti-bukti yang dipersyaratkan. Kita mengikuti indikator dan persyaratan yang harus dipenuhi.

Di Indonesia hanya ada 136 PUI. P3SEKPI salah satunya. Ini merupakan pencapaian. Keutamaan menjadi PUI apa, Pak? Apakah ada keuntungan tertentu?

Status PUI itu ada dua level. Ketika penetapan di tahun pertama, itu baru mendapat status pembinaan menjadi PUI. Ada skoringnya, kita dapat skor 750-an. Kalau yang ditetapkan jadi PUI skornya 900 ke atas.

PUI ini kan konsepnya mengembangkan kapasitas lembaga. Ada tiga isu utama. Pertama meningkatkan kapasitas sumber daya dan jejaring. Kedua, kapasitas riset. Ketiga adalah yang tersulit, yakni kapasitas diseminating, menyampaikan hasil-hasil riset. Skoringnya paling tinggi. Kita sebagai lembaga yang fokusnya di kebijakan, agak sulit mencapai itu. Itu tantangan kita waktu itu. Tapi dari modalitas yang ada, khususnya dukungan dari peneliti, kita bisa capai itu.

Bobot tertinggi adalah menyebarkan hasil-hasil riset, ya?

Tidak hanya menyebarkan, namun juga dipakai oleh pengguna. Litbang yang bergerak di komoditas, bagaimana komoditasnya dapat dipasarkan ke industri. Kalau kami di litbang kebijakan, bagaimana rekomendasi kebijkan itu dipakai menjadi dasar kebijakan eselon 1 atau bahkan Menteri. Nah, itu agak susah karena level kita hanya sampai di kementerian. Kalau membuat UU (Undang-Undang), itu wilayahnya sudah lintas kementerian. Kalau sebatas Permen (Peraturan Menteri) atau Perditjen, itu kita bisa meskipun sulit juga kuantifikasinya, seberapa banyak rekomendasi yang dipakai.

PUI kan ada bidang-bidangnya ya, kalau PUI kebijakan PI masuk mana?

Pembagian bidang saya tidak tahu persis tapi ketika ditetapkan di tahun 2018, kami baru ada 3 yang ada di klaster kebijakan. Kami, Puslit Politik, dan Puslit Sosek. Sementara yang basis produk sudah puluhan. Kriteria dan inidkatornya pun untuk kita agak dimodif. Misal untuk hilirisasi produk, nah di kebijakan terminologinya agak kurang pas.

Berarti keren dong, P3SEKPI menjadi satu dari tiga PUI Bidang Kebijakan.

Kalau dari segi angka sih ok, tapi kalau ke depan indikator dan persyaratannya disamakan dengan PUI berbasis produk, akan jauh lebih sulit lagi. Kami lihat Kemenristek mulai melihat ke sana.

Ada perbedaan sebelum dan sesudah jadi PUI?

Perbedaan secara signifikan tidak terlalu dirasakan, terutama untuk teman-teman. Kami di manajemen sangat merasakan itu karena kita dipaksa uintuk membuat tata kelola litbang yang lebih baik. Apa yang akan kita kerjakan, semua didokumentasikan. Syarat-syarat itu harus dipenuhi. Misalnya, untuk mempertahankan predikat PUI maka kita harus punya standar, harus terakreditasi KNAPP. Itu lebih ke bagaimana manajemen mengelola. Kalau manfaat lain, misalnya peneliti yang mau seminar di luar, kita bisa fasilitasi dari insentif yang diperoleh. Memang tidak bisa memenuhi harapan semua, kita juga selektif. Manfaat finansial tidak terlalu dirasakan, hanya dengan predikat itu maka kita menjadi lebih tertata.

Selama ini kita merasa sudah bekerja tapi ketika diminta bukti-buktinya tidak ada. Itu kekurangan di jaman dulu. Dalam PUI, evidence itu kita catat lalu kita laporkan.*

 

_dapur digital_