Berita

Penelitian Kehutanan Komersial P3SEKPI, BERBAGI UNTUK NEGERI




BOGOR_Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), atas nama pemerintah, mengalokasikan jutaan ha kawasan hutan negara untuk dikelola masyarakat. Program  Perhutanan Sosial (PS) menjadi kanalnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan, upaya resolusi konflik, dan mendorong pengelolaan hutan secara lestari. Capaian program menunjukkan kenaikan yang signifikan. Hingga Desember 2020, target sebesar 4 juta ha telah terpenuhi, meliputi 6.798 unit izin pengelolaan dengan melibatkan 895.769 kepala keluarga. Capaian tersebut harus tetap terjaga, tentunya dibarengi dengan upaya meningkatkan target dalam bentuk inovasi kelembagaan dan mobilisasi sumber daya dari berbagai tataran, baik nasional, sub nasional, maupun lokal. Kebijakan PS juga memberi ruang pelibatan aktif masyarakat dalam program dan proses revitalisasi industri kehutanan, antara lain melalui skema pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). 

Didukung dana dari Australian Centre for International Agricultural  Research (ACIAR), Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dan University of Sunshine Coast, Australia serta beberapa instansi lain menggalang kerja sama penelitian “Enhancing Community-Based Commercial Forestry in Indonesia (CBCF)” dalam kurun waktu 2016-2021. Tujuannya adalah untuk meningkatkan  manfaat  ekonomi  usaha  kehutanan berbasis masyarakat serta  meningkatkan kapasitas petani dalam menjalankan usaha tanaman kayu secara komersial serta mengkaji berbagai kebijakan yang mempengaruhinya. Lokasi penelitian adalah Lampung Selatan (Lampung), Boalemo (Gorontalo), Bulukumba (Sulawesi Selatan), Pati (Jawa Tengah), dan Gunungkidul (D.I. Yogyakarta).

Tahun 2021 merupakan ujung akhir kerja sama. Sebagai lembar penutup maka diselenggarakan kegiatan pelibatan publik (engagement activity) sekaligus diseminasi hasil penelitian. Dibingkai dalam tema “Penguatan Perhutanan Sosial: Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebijakan, Petani, dan Pasar”, acara tersebut digelar pada 7-8 April 2021 di Hotel Sheraton, Bandar Lampung. Kehadiran pokja Perhutanan Sosial, kepala desa, petani, penyuluh, mahasiswa, dan akademisi sebagai peserta diharapkan menjadi faktor pengungkit dalam implementasi hasil kerja sama.

Hari pertama (Rabu, 7 April 2021) diisi dengan talk show, menghadirkan 10 narasumber, yakni:

  1. Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, tentang kebijakan pemerintah dalam penguatan PS dan petani.
  2. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, tentang perspektif daerah terhadap kontribusi dan masa depan usaha kayu komersial berbasis masyarakat.
  3. Aneka Prawesti Suka, Koordinator Proyek Penelitian CBCF, tentang pembelajaran dari hasil riset terhadap upaya peningkatan tata kelola kayu rakyat dan analisis dimensi sosial-ekonomi petani kayu.
  4. Hermanto, Manajer Operasional PT KPSA, tentang revitalisasi industri kayu rakyat: tantangan dan permasalahan saat ini dan masa mendatang.
  5. Tukidi, Ketua Gapoktan Desa Budi Lestari, tentang pengalaman dan suara petani dalam pengusahaan kayu komersial (HTR).
  6. Christine Wulandari, dosen Jurusan Kehutanan UNILA, tentang perspektif akademisi terhadap upaya revitalisasi industri kayu rakyat melalui PS.
  7. Sugeng Teguh Pribadi, tentang pelatihan Master TreeGrower (MTG).
  8. Lukas Rumboko Wibowo, tentang obesitas regulasi dan revitalisasi industri kayu rakyat.
  9. Dede Rohadi, tentang peran SVLK dalam integrasi vertikal kayu rakyat ke pasar global.
  10. Nur Hayati, tentang peraturan desa dan potensinya dalam mendukung penguatan tata kelola kayu rakyat: pembelajaran dari Bulukumba, Sulsel.

Hari kedua (Kamis, 8 April 2021) diisi dengan pelatihan menulis ilmiah populer di media online. Dua narasumber yang dihadirkan adalah:

  1. Bugi Sumirat (Ketua Komunitas Vlomaya Kompasiana – Peneliti P3SEKPI), tentang “Mudah Menulis (Ilmiah) Populer”.
  2. Kevin Anandhika Legionardo (Community Superintendent Kompasiana), tentang “1001 manfaat menulis di Kompasiana”.

Karena peserta adalah mereka yang mengikuti kegiatan hari pertama (talk show) secara online maka diharapkan akan banyak tulisan tentang topik-topik talk show, baik dari sisi jumlah maupun ragam, sudut pandang, dan gaya tulisan. Dengan keharusan meng-upload di Kompasiana maka karya tulis tersebut juga akan tersebar dalam jangkauan yang lebih luas.

_dapur digital_