Berita

ANTUSIASME ber-PERHUTANAN SOSIAL




BANDAR LAMPUNG_Selepas pembukaan resmi serta sambutan, rangkaian pelibatan publik (engagement activity) dilanjutkan dengan talk show. Ada dua sesi talk show, pagi dan siang.

Talk show sesi pagi usai sudah. Antusiasme, itu yang tercermin dari narasumber maupun peserta. Obrolan terbangun begitu hidup, hangat, dan intim. Ada enam paparan, semuanya menarik.

Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, B. Herudojo Tjiptono berbicara tentang kebijakan pemerintah dalam penguatan PS dan petani. Terungkap bahwa Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan, dan dinamika sosial budaya dalam bentuk hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat, hutan adat, dan kemitraan kehutanan.

Hingga Desember 2020, target sebesar 4 juta ha telah terpenuhi, meliputi hampir 7.000 unit izin pengelolaan dengan melibatkan nyaris satu juta kepala keluarga.

Yanyan Ruchyansyah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung bertutur tentang perspektif daerah terhadap kontribusi dan masa depan usaha kayu komersial berbasis masyarakat.

Provinsi Lampung mengusung misi mulia untuk pemerintahan 2019-2024, mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan untuk kesejahteraan bersama. Misi itu diamini dengan salah satu janji kerja yakni mengelola lingkungan hidup untuk kesejahteraan rakyat.

Lebih dari 30 ribu hektare (14%) hutan produksi, 155 ribuan ha (49%) hutan lindung, dan 700-an ha (3%) areal tahura yang dimanfaatkan oleh masyarakat melalui Program Perhutanan Sosial dengan Skema Hutan Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan, Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, dan Kemitraan Konservasi. Bahan baku kayu di Provinsi Lampung ±80-90% berasal dari hutan rakyat/hutan hak dan 10% dari luar Provinsi Lampung.

Diselingi penjelasan tentang pembelajaran dari hasil riset terhadap upaya peningkatan pengusahaan kayu skala kecil oleh Aneka Prawesti Suka, pembicaraan terus bergulir. Tiba giliran Hermanto, Manajer Operasional PT KPSA yang berbicara dari perspektif perusahaan tentang revitalisasi industri kayu rakyat: tantangan dan permasalahan saat ini dan masa mendatang.

Hermanto berkisah tentang prinsip yang mendasari kiprah perusahaan dalam mendorong majunya usaha kayu rakyat. Menggunakan sumber yang berkelanjutan, berkomitmen untuk mengambil bahan baku dari pemasok ecoforest, memberdayakan karyawan sebagai aset utama perusahaan, dan menjadi pemimpin industri melalui solusi yang inovatif dan berkelanjutan.

Paijan, satu narasumber hebat, pelaku langsung perhutanan sosial dari Gapoktan Desa Budi Lestari, berbagi pengalaman dan suara petani dalam pengusahaan kayu komersial (HTR). Dia berterima kasih atas hadirnya program HTR. Program itu memberikan kepastian dan kenyamanan dalam usaha kayu rakyat. Pelatihan MTG juga sangat bermanfaat bagi mereka, terutama untuk tumbuh-kembangnya pemahaman tentang pentingnya iptek. Suara petani yang patut untuk disimak adalah tersumbatnya kanal pemasaran. Tidak jarang, petani kebingungan untuk menjual kayu dengan harga yang “baik”. Kondisi ini tentu dapat dimanfaatkan oleh “agen-agen” yang menerapkan aksi ambil untung besar, membeli dengan harga murah.

Christine Wulandari, dosen Jurusan Kehutanan UNILA, mengakhiri paparan sesi pagi dengan perspektif akademisi terhadap upaya revitalisasi industri kayu rakyat melalui PS. Tuntutan revolusi industri kehutanan ke depan menuntut kesiapan dalam hal: kecukupan bahan baku, efsiensi produksi, efisiensi dan efektivitas pasar (market place), fair price dengan basis value chain yang tepat, aspek pembiayaan dan investasi berbasis teknologi, serta aspek keberlanjutan berbasis teknologi. Menggenapi tuntutan itu, Christine menambahkan bahwa stability, availability, accessibility, dan utilization perlu menjadi fokus  industrialisasi kehutanan ke depan.

*Sumber:

Pelibatan publik (engagement activity) atas capaian kerja sama Badan Litbang dan Inovasi (BLI) dengan ACIAR dalam proyek penelitian Enhancing Community-Based Commercial Forestry in Indonesia (CBCF), bertema “Penguatan Perhutanan Sosial: Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebijakan, Petani, dan Pasar””. Hotel Sheraton Bandar Lampung, 7-8 April 2021.

_dapur digital_