Berita

OPTIMISME INDUSTRI KAYU RAKYAT




BANDAR LAMPUNG_Selepas talk show sesi pagi dan rehat, rangkaian pelibatan publik (engagement activity) dilanjutkan dengan talk show sesi siang. Dana Apriyanto memandu talk show yang membicarakan lima materi.

Dimensi sosial-ekonomi petani kayu, pelatihan Master TreeGrower (MTG), obesitas regulasi, sertifikasi kayu rakyat, dan pentingnya peraturan desa merupakan materi yang sangat layak diperbincangkan sebagai pengungkit industri kayu rakyat.

Aneka Prawesti Suka, tentang analisis dimensi sosial-ekonomi petani. Ia melakukan analisis kondisi sosial-ekonomi petani antar-waktu untuk mendapatkan gambaran terukur tentang dinamika perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Temuannya adalah bahwa pendapatan berbasis lahan menjadi sumber pendapatan utama petani sehingga mereka sangat tergantung kepada tersedianya lahan yang dapat digarap, dalam hal ini adalah lahan hutan negara/HTR. Kendati kontribusinya sedikit menurun, komoditas perkebunan (terutama karet) masih menjadi sumber penghasilan utama. Meskipun terbatas, sebagian petani telah menanam pohon sengon, akasia, jati, mahoni. Beberapa bahkan mengganti tanaman karet (sudah tidak produktif) dengan sengon. Ijin HTR yang telah diperoleh tahun 2017 akan ditindaklanjuti dengan rencana penanaman sengon menggunakan sistem agroforestry pada sebagian lahan.

Sugeng Teguh Pribadi, yang berbagi pengalaman tentang pelatihan Master TreeGrower (MTG) di Lampung. Ia menuturkan bahwa pelatihan MTG yang dilaksanakan di dua tempat yakni Desa Budi Lestari dan Desa Srikaton, Kecamatan Tanjung Bintang. Dilaksanakan selama empat hari, agenda pelatihan diawali dengan orientasi pelatihan, pengenalan MTG, alasan menanam kayu, pengenalan pasar, dan kunjungan industri pada hari pertama. Hari kedua melakukan ageda pengukuran pohon. Berlanjut di hari ketiga dengan agenda pengelolaan tegakan. Hari keempat yang merupakan hari terakhir pelatihan, diisi dengan agenda bagaimana mengelola hutan rakyat secara maksimal dengan memanfaatkan hasil pelatihan. Dalam setiap agenda pelatihan, para peserta mendapatkan penjelasan teori dan sekaligus melakukan praktek lapangan.

Lukas Rumboko Wibowo mengulas tentang obesitas regulasi dan revitalisasi industri kayu rakyat. Obesitas regulasi adalah gambaran kondisi negara yang memiliki begitu banyak aturan. Indonesia mengalami hal itu. Terdapat 8.945 regulasi dalam kurun 2014-2018. Setiap hari Indonesia melahirkan 6 regulasi. Kondisi ini menyebabkan negara kita tidak lincah bergerak di tengah dinamika persaingan industri global.

Lantas, harus bagaimana? Diperlukan langkah kebijakan untuk perbaikan tata kelola ekonomi daerah; penguatan koordinasi antara lembaga pemerintah dan sektor  indutri kayu; deregulasi dan debirokratisasi perizinan; pengembangan mekanisme insentif; dan penguatan kemitraan strategis  petani  kayu-industri pengolahan-pemerintah.

Dede Rohadi menghadirkan pembelajaran dari pentingnya SVLK dalam integrasi vertikal kayu rakyat ke pasar global. Lambat dan rendahnya adopsi SVLK oleh kelompok tani dan usaha kecil menjadi persoalan dalam kemampuan akselerasi ke pasar global. Tidak ada manfaat ekonomi bagi usaha yang tidak terkait ekspor dan mahalnya biaya sertifikasi merupakan dua alasan yang melatarbelakangi.

Berkaca dari kondisi tersebut, sesungguhnya banyak manfaat yang dapat dipetik dari keikutsertaan dalam program setifikasi. Pertama, tidak ada beban biaya karena biaya sertifikasi ditanggung pemerintah atau donor. Kedua, peningkatan pengetahuan, jejaring bisnis, perbaikan manajemen produksi. Karenanya, direkomendasikan proses sertifikasi yang lebih efisien; meningkatkan jumlah auditor; dan insentif kebijakan kayu rakyat yang bersertifikasi V-LK.

Nur Hayati menyoroti soal pentingnya Peraturan Desa. Keberadaan peraturan desa dalam mendukung penguatan tata kelola kayu rakyat tidak dapat lagi ditunda-tunda. Itu dibutuhkan untuk keterjaminan dan rasa aman masyarakat dalam memanfaatkan dan memasarkan hasil hutan rakyat. Peraturan Desa memberi kepastian untuk menggunakan dana desa tanpa rasa takut.

_dapur digital_

*Sumber:

Pelibatan publik (engagement activity) atas capaian kerja sama Badan Litbang dan Inovasi (BLI) dengan ACIAR dalam proyek penelitian Enhancing Community-Based Commercial Forestry in Indonesia (CBCF), bertema “Penguatan Perhutanan Sosial: Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebijakan, Petani, dan Pasar”. Hotel Sheraton Bandar Lampung, 7-8 April 2021.