Berita

Sebuah Cerita dari Gajeboh




BOGOR_Ini cerita tentang Gajeboh, kampung Baduy Luar di ceruk Banten, di daratan Kanekes. Bak panggung pertunjukan, ia menyajikan orkestrasi harmoni bentang alam yang terjaga.

Berada di tepian Sungai Ciujung, Gajeboh yang menaungi sekitar 60 rumah, tidak sendiri. Banyak rangkaian kampung Baduy Luar yang menemani. Kampung Kadu Ketug, Cimarengo, dan Balingbing adalah tetangga terdekatnya.

Di kampung manapun kita berkunjung, suasana dan aromanya pasti seperti itu. Rumah panggung berbahan bambu, di pinggir sungai, jembatan bambu, tanpa penerangan, menenun, “seragam” hitam-biru, semuanya serupa. Di kampung Baduy, hidup bergerak sangat lambat, begitu-begitu saja, namun jauh dari membosankan.

Gemeretak lantai rumah, derit pintu dibuka, gemercik air pancuran, denting peralatan dapur, serunai angin lembah, dan liukan Sungai Ciujung, menyeruak ke gendang telinga ketika Kampung Gajeboh membuka pagi. Tanpa gaduh, tanpa terburu-buru. Kita dipaksa berkontemplasi dan wajib menikmati cara alam bekerja. Cukuplah itu.

Selepas terang tanah, kaum lelaki bergegas ke huma, perempuan menenun. “Tak tik, tak tik”, simfoni alat tenun bersahutan dari tiap rumah. Berhenti, para istri bergegas beralih ke irama dapur. Kembali ber-“tak tik, tak tik”. Anak-anak kecil berlarian di jalan berbatu kali tanpa khawatir tersambar motor. Mentari menyentuh teras, perempuan-perempuan tua mulai memintal benang.

Saat matahari rebah ke barat, para lelaki dan suami turun dari huma, bergegas membasuh badan. Ada yang di jamban (kamar mandi) belakang rumah, ada yang ke Ciujung, terserah mana yang disuka. Tepat ketika matahari padam, gulita menyergap semesta kampung. Pendar bara api di ujung sigaret menjadi penanda bahwa ada orang di sana. Tak menunggu lama, kampung terlelap.

Begitulah ritme hidup di Gajeboh. Berdenyar, menggetarkan.

Bagi “orang kota”, geliat hidup seperti itu tentu sangat tak terbayangkan. Tapi tidak bagi Baduy. Mereka menjalani hidup tanpa khawatir, tanpa prasangka buruk. Patuh kepada Kokolot, warna dan model busana yang sama setiap hari, di belantara, menapak jalan tanpa alas kaki, malam yang gulita, tak sekolah formal, mengurus ladang, menenun, itulah garis alam yang diwariskan kepada mereka. Tak pernah terbersit di benak mereka untuk ingkar.

Gunung Ulah Dilebur, Lebak Ulah Dirusak”; “Panjang Ulah Dipotong, Pondok Ulah Disambung. Dua falsafah itu menjadi acuan masyarakat Baduy dalam berperikehidupan. Gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak; panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung.

Alam tak pernah salah. Ia telah memberikan miliknya secara utuh dan sempurna (“buleud” menurut istilah Baduy). Ada gunung, ada lembah; ada panjang, ada pendek. Manusia hanya perlu menjaga harmoni, tak perlu mengubah apapun. Biarkan alam bekerja dengan caranya.

_dapur digital_