Berita

Curug Putri: ‘’Healing Water’’ dan Niagara Kecil Pemacu Adrenalin




Keistimewaan Curug Putri bukan hanya pada keindahan panorama bebatuan terserak di antara gemericik air bening yang mengalir di sela-selanya, tetapi juga dinding pualam menjulang di sisi kanan-kiri bak ‘Grand Canyon’ yang berdiri tegak di antara celah sungai yang bersumber dari ‘’air terjun Niagara kecil’’. Dan yang tidak banyak terberitakan, “air ’bening’ sungai yang mengalir sepanjang tahun ini, bahkan beberapa kali telah membuktikan khasiatnya sebagai air kesembuhan bagi orang-orang yang percaya dan ingin sembuh dari sakit’’, tutur Unan, pengojek sekaligus pemandu wisata lokal yang mengantar kami.  

PANDEGLANG_Curug Putri hanyalah salah satu objek wisata yang ada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita, Pandeglang, Banten. Banyak objek dan atraksi wisata yang masih belum dikembangkan di kawasan hutan seluas lebih dari 1.400 ha. Beragam curug yang masih perawan dan dapat dikembangkan, seperti Curug Bidadari dan Curug Sawer. Hutan yang masih lebat dan lanskap yang berbukit-bukit mengusik banyak youtuber, blogger, offroader, dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara untuk menguji adrenalin.

Bayangkan saja, dari berbagai cerita, untuk sampai ke sana para wisatawan harus menumpang ojek selama 30 menit melalui jalan bebatuan licin berkelok menaiki bukit yang cukup tinggi dan berhutan lebat. Jurang menganga di sepanjang jalan yang terjal. Sampai di pos parkir, wisatawan harus jalan kaki menuju Curug Putri, jalan setapak licin berliku dan naik-turun bertebing curam.

Beragam cerita yang menakjubkan tersebut mengusik Penulis dan rekan Desmi, peneliti Badan Litbang dan Inovasi, KLHK, untuk membuktikannya. Kebetulan rekan lain yang tengah melakukan Riset Aksi Partisipatif (RAP) untuk mendorong perubahan sosial berupa pembentukan dan penguatan organisasi lokal di bidang ekowisata dan agroforestry, telah berkunjung ke sana. Dia tidak ingin ikut tetapi justru memanas-manasi kami berdua.

Sekitar jam tiga sore, bergegas, kami dipandu oleh Wawan, ketua pemandu lokal dan Unan, pengojek sekaligus anggota pemandu lokal, menuju Curug Putri. Berboncengan menggunakan dua motor. Motor yang penulis tumpangi tampak telah bertahun-tahun naik-turun Curug Putri. Hal ini terlihat dari motornya yang bukan motor baru, telah dimodifikasi sana-sini, tanpa speedometer dan lampu depan normal. ‘’Motor ini dulu supra Pak, …. dan motor ini telah banyak ngantar tamu’’, cerita Unan. Sementara motor yang ditumpangi Desmi terlihat masih mulus.

Sejatinya, Penulis ragu membonceng motor modifikasi tersebut. Rasa keingintahuan pada Curug Putri yang mengalahkan keraguan dan ketakutan tersebut. Begitu naik, motor pun digas, melaju kencang dengan suara bising dan asap mengepul bergumpal-gumpal kehitaman tertinggal di belakang.   

Dengan kecepatan lumayan tinggi, motor kami berada di depan, beriringan dengan motor pembonceng Desmi. Di sekitar kilometer pertama, kami melewati jalan beraspal yang cukup lebar memasuki wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten. Setelah memasuki pos pertama, jalan berubah menyempit dan berbatu. Tampak batu-batu di jalan, tajam mendongak ke langit. Penulis khawatir batu menusuk ban motor yang mulai menipis. Tanpa ragu, Unan terus ‘ngegas’, kencang dan semakin kencang.

Semakin jauh meninggalkan pintu pos pertama, jalanan kerap berganti rupa menjadi jalan tanah liat yang licin. Hujan gerimis yang turun membuat lekukan panjang di sepanjang jalan terisi air cokelat bercampur tanah. Kedua pengojek dan sekaligus pamandu kami seakan tak peduli dengan ketakutan yang mulai menyergap Penulis. Motor terus melaju. Di tengah jalan tiba-tiba kami berhenti. Ternyata di depan kami ada satu grup polisi muda sedang berlatih berbaris di tengah hutan. Untungnya, sang komandan mempersilahkan kami lewat.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos parkir yang masih agak jauh. Kedua motor di-geber agar cepat sampai. Adrenalin terus meningkat dan Penulis terpaksa harus memegang pundak Unan karena takut jatuh. Akhirnya, rasa tegang Penulis mereda begitu sampai di lokasi parkir yang agak luas. Di situ ada beberapa kedai kopi yang dibangun dari kayu dan bambu oleh penduduk lokal. Penulis tidak ingin singgah terlalu lama, takut kesorean ketika sampai di Curug Putri. Setelah memarkirkan motor, kami pun berjalan kaki melalui jalan setapak yang licin dan sedikit berbatu. Jalan naik-turun, tebing terjal yang ditumbuhi beragam tanaman kayu lebat dan semak belukar di sepanjang kanan kami. Sementara di sisi kiri, jurang menganga siap menerkam kami berempat.

Sepanjang jalan, Penulis diselimuti was-was dan ketakutan. Cerita penduduk lokal akan masih adanya harimau kumbang di hutan KHDTK dan TAHURA Carita, tiba-tiba muncul begitu saja di pikiran. Penulis tidak mau jalan di depan. Kesepakatannya, Unan di depan, Penulis mengikuti di belakangnya. Bergegas, Penulis tidak ingin ketinggalan terlalu jauh. Kalau terjadi apa-apa, siapa yang membantu? Sembari ngos-ngosan, Penulis berusaha mengimbangi jalan cepat para pemandu kami.

Tak lama kemudian, tibalah kami di Curug Gendang. Curug ini masih asli dan air mengalir dengan induk dari Curug Putri. Di Curug Gendang, air terus dilemparkan ke bawah jurang yang menganga. Hanya ada dua saung kecil untuk istirahat, padahal lokasi ini dapat dikembangkan menjadi beragam spot selfie yang menarik. Selain sebagai objek alternatif, juga dapat difungsikan untuk mengurangi batas daya dukung biofisik (carrying capacity) dan sosial (social carrying capacity) Curug Putri. Tidak adanya produk wisata atau paket inovatif, membuat kami tidak berlama-lama di sini. Kami berempat meneruskan perjalanan menuju destinasi utama, Curug Putri. Jalan yang semakin manantang, kembali mengusik keberanian Penulis.

Akhirnya kami pun sampai di pos akhir berupa lahan datar yang tidak cukup luas. Di lahan tersebut telah dibangun berbagai saung berderat memanjang untuk istirahat para pengunjung. Juga kios kopi dan mie instan. Meski seadanya, di lokasi ini juga ada bangunan toilet. Kami menjumpai para wisatawan, laki-perempuan, tua-muda yang sedang istirahat sambil mengeringkan badan dan rambut yang basah. Beberapa pengunjung muncul dari mulut Curug Putri menuju pos dengan menenteng pelampung.

Bergegas. Setelah menitipkan tas, pakaian ganti, dan membeli kantong plastik pelindung hand phone, kami pun memasuki lorong sungai menuju Curug Putri. Kaki-kaki kami lincah menapaki batu-batu hitam kelam sebagai tumpuan yang berserak di antara aliran air sungai Curug Putri. Pelampung telah kami kenakan sejak dari pos akhir. Kami pun mendekati Curug Putri. Air semakin dalam namun masih dapat kami lewati. Jalan panjang yang menguras keringat membuat kami tidak begitu kedinginan ketika mulai berendam dalam air. Sesekali kami harus berenang, dibantu tali dan dijaga oleh Wawan dan Unan.

Airnya jernih luar biasa dan begitu indah dengan dinding mirip Grand Canyon, menjulang di kiri-kanan. Deburan dan gemericik air semakin mengeras ketika kami mendekati air terjun ‘Niagara Kecil’ nan indah. Kami berfotoria. Para pemandu ternyata sangat lihai mengambil shot-shot dan angle yang menarik. Kadang sedang berenang, kadang di dinding dengan posisi duduk atau bersandar, kadang di bawah derasnya air terjun Niagara Kecil. Luar biasa. Ingin rasanya berlama-lama berenang dan berendam menghabiskan rasa penasaran yang telah kesampaian.

Waktu yang terus mengejar semakin sore membuat kami takut kemalaman. Kami pun bergegas keluar, khawatir kabut senja menyergap kami. Dengan kepuasan tak terhingga, kami keluar dan kembali ke hotel yang berada di dekat pasir pantai Carita. Uang Rp115.000 terasa begitu kecil dibandingkan dengan rasa puas kami melihat dan merasakan keindahan ‘healing water’ dan estetika Curug Putri yang tidak ada duanya. Rugi rasanya kalau tidak ke sana.*

Penulis: Lukas Rumboko W.

Editor: Hariono