Berita

Etika, Pengetahuan dan Skill adalah Modal Penting yang harus dimiliki Pemandu Wisata Lokal Obyek Wisata Carita




Penguatan dan Pelatihan Kelembagaan KTH

Dalam kegiatan pelatihan/Focus Group Discussion (FGD) dalam kerangka penguatan kelembagaan kelompok baik petani agroforestri  pada hari pertama 12 Oktober 2021,  diawali Sambutan pembukaan oleh Plt. Kapus PUSTANDPI/BSI. Pada acara hari pertama dihadiri sekitar 30 partisipan yang sebagian besar dari Kelompok Tani Hutan Wana Lestari dan juga beberapa pejabat pemerintah Kecamatan dan staf lapangan UPT  Pusat Standarisasi hutan yang mengelola KHDTK Carita. Dalam sambutannya Dr Kirsfianti L. Ginoga mengharapkan para petani dapat menfaatkan hak kelola di  blok agroforestri di KHDTK Carita dengan baik dan lestari.     

Setelah kata sambutan dilanjutan dengan presentasi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kepala Dinas menyampaikan presentasi dengan judul Pentingnya kelompok dalam pengelolaan lahan hutan pada kegiatan budidaya dalam menjaga kelestarian kawasan hutan dan mencegah terjadinya bencana. Dalam paparannya Kepala Dinas Pertanian menyambut baik dengan kerjasama atau kemitraan antara Kelompok Tani dengan KHDTK Carita.

Bagi para petani KHDTK Carita telah menjadi bagian penting untuk menopang kehidupan meraka. Sejak bertahun-tahun para petani ini loyal untuk mencurahkan tenaganya menananm beragai komoditi di lahan-lahan yang ada di lahan kawasan hutan.  Kepala Dinas Pertanian  menegaskan bahwa Carita menjadi bagian penting bagi masyarakat petani dan juga bagi  kelestarian hutan. Dalam akhir paparannya juga menginginkan kemitraan lebih luas dengan melibatkan Instansi Terkait seperti Dinas Pertanian dengan  KTH serta KHDTK Carita.

Kemudian, presentasi dilanjutkan oleh Ibu Wahyu Widayanti dari Dinas Perkebunan dengan Judul Pengelolaan Agroforestri dengan teknik budidaya yang baik dan memperhatikan daya dukung lahan, mendukung terjaganya kelestarian kawasan hutan KHDTK Carita.  Dalam Paparannya mendorong KTH untuk melengkapi aspek legalitas dan memasukan dalam data base kelompok Tani yang telah ada di Dinas Perkebunan sehingga ke depan akan memeudahkan bagi dinas untuk membuat program-program bersama KTH Wana Lestari.

Sementara itu Prof Subarudi dari PUSTANDPI menyarankan adanya kalkulasi usaha petani melalui proses identifikasi dan inventarisasi jenis tanaman, biaya dan input produksi lain sehingga dapat dihitung benefitnya. Dia juga menyarankan agar KTH tetap meningkatkan kapasitas dalam budidaya pertanian dengan wanataninya.

Sementara Ibu Onah dari Dinas Perkebunan lebih menekankan penerapan Sapta Usaha Pertanian yang meliputi budidaya yang baik, pemilihan bibit unggul, pemeliharaan tanaman dan lainnya.  Dalam paparannya dia membedakan wanatani sederhana dan wanatani kompleks. Dia menyarankan agar model wanatani komplek yang mengkombinasikan beragam tanaman (multi-strata) lebih cocok dikembangkan di KHDTK Carita mengingat kelestarian hutan juga harus tetap dijaga.    

Setelah sesi diskusi dilanjutkan dengan pendalaman materi oleh Bapak Andre, bagan penyuluhan dari Dinas Perkebunan. Secara interaktif Bapak Andre memberikan penekanan pada pentingnya kelembagan kelompok tani dan mendaftarkannya pada Dinas Perkebunan sehingga akan memudahkan bagi pihak terkait untuk membuat agenda-agenda program dengan KTH.  Dalam fasilitasinya dia juga mengingatkan pentingnya kepercayaan anggota terhadap ketua KTH. Kepentingan kelompok harus mengalahkan kepentingan pribadi dan dalam KTH perlu distribusi tugas dan tanggungjawab sehingga ketua tidak bekerja sendirian dan sekaligus juga mengembangkan kelompok itu sendiri.     

Kemudian acara ditutup oleh Ibu Kapus yang menegaskan kembali akan pentingnya keseimbangan antara kelestarian hutan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.  

Penguatan dan Pelatihan Pramuwisata Lokal

Pada hari kedua (13 Oktober 2021) membahas topik terkait penguatan kelembagaan para pelaku wisata lokal. Acara  diawali dengan kata sambutan oleh Bapak Choirul Ahmad selaku Kabid PUSTANDPI, mewakili Kapus. Dalam pelatihan pramuwisata lokal ini melibatkan 30 peserta dengan dihadiri juga para pejabat kecamatan.

Dalam kata Sambutanya, Bapak Choirul mengingatkan bahwa pariwisata merupakan dunia yang unik dimana yang dijual melibatkan rasa, kepuasan dan keramahtamahan dari para pelaku di destinasi wisata berada. Keberadaan pramuwisata sangat penting dan menjadi ujung tombak bagi pengembangan pariwisata di Carita.  

Kemudian dilanjutkan dengan presentasi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dengan tema Pengelolaan destinasi wisata yang baik dan benar dengan memperhatikan daya dukung lahan, menjaga kelastarian dan koservasi kawasan hutan KHDTK Carita. Dalam paparannya Kepala Dinas Pariwisata menyambut baik adanya penyelenggaraan pelatihan Pramuwisata Lokal dan mengharapkan nanti dari Pramuwisata Lokal ini dapat diikutkan dalam program peningkatan kapaitas di seluruh Kabupaten Pandeglang.  

Kemudian dilanjutkan dengan Prof. Subarudi yang membahas kelembagaan ekowisata. Pada sesi berikutnya Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) dan Bapak Rohman membahas pengembangan edu ekowisata    berbasis masyarakat: melalui praktek-praktik teknik pemanduan yang baik dan beretika, kelestarian dan konservasi lahan hutan dapat terjaga.

Prof. Subarudi memaparkan topik yang tidak kalah menarik dengan mencoba memberikan komparai pengembangan ekowosata di beberapa daerah yang cukup berhasil seperti di wilayah Kalimantan. Sedangkan Bapak Rohman mengingatkan tidak mudah menjadi Pramuwisata yang profesional. Modal utama pramuwisata profesional adalah 3 hal, yakni etika (attitude), pengetahuan seperti pengtehuan tentang destinasi wisata dari sisi biofisik, kesejahrahan dan bahkan mitos-mitos yang dikembangkan di destinasi wisata, dan ketrampilan seperti bahasa asing dan gestura dalam proses pemanduan. Sementara Bapak Tomi selaku Ketua HPI Carita juga mengharapkan para peserta pelatihan terus belajar. ‘’Hidup adalah Belajar’’ tegasnya. 

Sesi terakhir pendalaman dan simulasi pemanduan wisata yang difasilitasi oleh Bapak Tomi dan Rohman. Dalam simulasi ini peserta dibagi menjadi 6 kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5 peserta.  Tiap-tiap kelompok diharuskan melakukan praktik pemanduan dimana seorang peserta menjadi pemandu dan lainnya berpura-pura menjadi turis.

Acara kemudian ditutup oleh moderator yang mengharapkan peserta pelatihan dapat memanfaatkan acara ini dengan baik dan ke depan bisa menjadi Pemandu Wisata yang profesional .

Penulis: Indah Bangsawan, Lukas Rumboko, Prof Subarudi, Dewi Ratna Kurniasari, R.M. Mulyadin dan Husnul Khotimah