BERITA

1.000 desa bambu: stimulir kesejahteraan
2017/08/10 - 05:02 am | 119 KLIK

Sebesar 85% emisi gas rumah kaca (GRK) disebabkan oleh aktivitas pemanfaatan lahan yang mengakibatkan kerusakan hutan dan kebakaran lahan gambut. Tingginya emisi tersebut menyebabkan berbagai dampak negatif yang bercabang. Karbon dioksida tetap di atmosfir selama 200 tahun, sehingga emisi yang dikeluarkan sekarang akan terus menghangatkan iklim di masa depan. Hal tersebut meyebabkan penyusutan pasokan air dan peningkatan cuaca ekstrim. Dampak dari situasi tersebut adalah semakin tingginya potensi kebakaran hutan, terganggunya kestabilan ekologi, dan terganggunya pembangunan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Emisi bagaikan bom curah yang menyebabkan kekacauan sistemik.

Bambu merupakan komoditas yang cukup tangguh untuk menghadapi emisi. Hutan bambu mampu menyerap 50 ton karbon dioksida per hektar per tahun. Selain itu rumpun bambu merupakan penampung air yang cukup handal untuk menjaga kelestarian ekosistem. Kenyataannya, potensi bambu yang begitu besar tidak paralel dengan pengembangannya. Sesungguhnya, Indonesia memiliki 1 juta hektar lebih tanaman bambu. Dari jumlah tersebut, hanya 25.000 hektar yang telah dikelola dalam bentuk hutan/kebun bambu, sementara sisanya ditanam secara sporadis. Dibutuhkan berbagai inisiasi dan program dalam mengembangkan bambu.

Kondisi tersebut memunculkan tindakan dari berbagai lembaga yang salah satunya adalah The International Tropical Timber Organizaiton (ITTO). Bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari, ITTO menginisiasi penanaman dan perluasan hutan bambu melalui gerakan 1.000 desa bambu. Gerakan 1.000 desa bambu dibangun dengan pengelolaan rumpun yang berkelanjutan di 1.000 desa, yaitu 200 desa di Sumatera, 200 desa di Jawa, 75 desa di Bali, 75 desa di NTB, 75 desa di NTT, 125 desa di Kalimantan, 125 desa di Sulawesi, dan 125 desa di Papua. Gerakan ini memiliki lima fokus kerja, yaitu legalitas, mendorong adanya akses ke kawasan hutan negara dan lahan milik, mengelola lebih dari dan setara dengan 50 hektar hutan dan kebun bambu, memunculkan budaya bambu yang kreatif, dan mengintegrasikan kearifan lokal bambu.

Konsep gerakan 1.000 desa bambu yaitu setiap desa menanam sedikitnya 70.000 bibit bambu atau setara dengan 2.000 hektar (35 rumpun/hektar). Setiap rumpun akan menghasilkan 6 lonjor/tahun setelah tahun ke-10 (≥ 36 batang/rumpun), menjadi 10 lonjor/tahun setelah tahun ke-15 (≥ 56 batang/rumpun). Sebuah jumlah yang sangat besar.

Ke depan, dari gerakan 1.000 desa bambu dapat dikembangkan program-program pendukung, seperti program di bidang edukasi dengan membuat sekolah lapangan bambu yang akan mengajarkan penanaman dan pengelolaan bambu; bidang ekonomi dengan membangun hutan bambu lestari sebagai sumber produk bambu.


Sumber:

Rabik, A. (2017). 1000 bamboo villages. Lokakarya Pemanfaatan Bambu Berkelanjutan Berbasis Industri Rakyat. Bali, 20 Juli 2017.


 
Pengunjung hari ini : 48
Total pengunjung : 31057
Hits hari ini : 205
Total Hits : 484217
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015