BERITA

Mimpi Besar Citarum menjadi Wolrd Cultural Expo
2018/02/08 - 09:19 am | 28 KLIK

JAKARTA, P3SEKPI-Sungai Citarum dalam kondisi memprihatinkan. Airnya tercemar oleh sampah manusia, kotoran hewan, serta limbah pabrik. Kenyataan tersebut membuat Gai Suhardja, seorang dosen desain interior Fakultas Seni Rupa dan Desain di Universitas Kristen Maranatha membentuk Forum Peduli Citarum. Gai bermaksud untuk membuat gerakan perbaikan Sungai Citarum. Bahkan, Ia bersama Forum Peduli Citarum menginisiasi ide Sungai Citarum menjadi kawasan Wolrd Cultural Expo di tahun 2030.

“Inisiatif pembangunan infrastruktur demi geopolitik nasional ini berpeluang menjangkau bilateral antar bangsa, dengan ide Kawasan World Cultural Expo,” kata  Gai dalam agenda Pojok Iklim di Jakarta (07/02).

Sungai Citarum merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Sungai sepanjang 276 km ini mendistribusi air minum untuk Provinsi Jawa Barat, DKI dan 8 kabupaten. Amat disayangkan, alirannya yang menyusuri titik-titik strategis nasional tidak dibarengi dengan penampilan yang indah. Sungai Citarum terlihat gelap dan kumuh.

Penampilan buruk sungai Citarum diperparah dengan kandungan airnya yang ternyata tercemar oleh limbah beracun. Pabrik tekstil di Bandung dan Cimahi adalah kontributor utama limbah beracun. Lebih dari 4.000 industri mencemari 5.020 mil persegi sungai dengan timbal, merkuri, arsen dan limbah kimia lainnya. Belum lagi gunungan sampah di hilir sungai. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama penyumbang sampah di sungai. “Sungai yang seharusnya menjadi pusat peradaban manusia berubah menjadi pusat pembuangan sampah raksasa,” tutur Gai.

Kondisi sungai Citarum yang serba mengkhawatirkan membuat Gai beserta Forum Peduli Citarum menginisiasi ide Kawasan Sungai Citarum sebagai Kawasan World Cultural Expo 2030. “Area kawasan Citarum sepanjang 276 km akan menjadi destinasi baru untuk masa depan dan sangat signifikan bagi kaum muda milenials dan generasi Z, serta menjadi bonus demografi Indonesia, pada tahun 2030. Pada kawasan Citarum ini akan difasilitasi dengan pusat pendidikan, pusat kajian Islam, pusat kebudayaan, pusat kedutaan asing, pusat pendidikan, pusat pariwisata dan pusat perdagangan,” paparnya.

Gai memulai ide ini dengan membuat sebuah model simulasi Kawasan Sungai Citarum dalam kondisi yang world class. “Proses desain simulasi maket kawasan ini dilakukan di Universitas Kristen Maranatha. Secara bertahap akan menggambarkan dokumen-dokumen yang terjadi secara realita di lapangan. Penelitian pemetaan DAS Citarum sebagai pilot project dimulai pada daerah sekitar radius Dayeuh Kolot – Bojong Soang,” tambahnya.

Mimpi besar Gai dan Forum Peduli Citarum dihadapkan pada tantangan yang besar pula. Persoalan Sungai Citarum adalah masalah sistemik yang melibatkan semua pihak, terutama Pemerintah. Adanya keegoisan sektoral membuat perbaikan Sungai Citarum selalu tersendat. Menghadapi hal tersebut, Gai mengusulkan pembuatan sebuah Master Plan terpadu yang melibatkan semua pihak termasuk elemen masyarakat guna membangun masa depan Citarum yang baru. “Mari ciptakan sinergi sektoral, demi daya saing bangsa,” tuturnya.***Fai


 
Pengunjung hari ini : 48
Total pengunjung : 31057
Hits hari ini : 215
Total Hits : 484227
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015