BERITA

Perubahan Iklim Picu Pelepasan Merkuri
2018/02/27 - 08:38 am | 85 KLIK

Manusia kini harus semakin waspada dengan apa yang dikonsumsi, sebab bisa jadi makanan atau udara di sekitarnya mengandung merkuri. Zat tersebut merupakan sebuah zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan beberapa penelitian yang dikaji oleh dr. Jossep Fredrick William, merkuri yang secara sistematis menyebar ke lingkungan manusia merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim.

“Tanda perubahan iklim melalui peningkatan suhu global menyebabkan mencairnya permafrost (tanah yang berada di titik beku) sehingga menyebabkan terlepasnya substansi merkuri yang telah tersimpan selama ratusan tahun,” papar Jossep saat agenda Pojok Iklim, Rabu lalu (27/02/2018).

Merkuri yang terlepas ke laut akan termakan oleh plankton sekaligus menginfeksinya. Plankton tersebut nantinya akan dimakan oleh ikan kecil, dan seterusnya sampai pada ikan-ikan yang dikonsumsi manusia. Ketika proses rantai makanan itu terjadi dengan kandungan merkuri di dalamnya, akan terjadi pelipat-gandaan zat berbahaya tersebut. Hal itu membuat jumlah kandungan merkuri semakin besar dan membahayakan.

Merkuri yang masuk ke dalam tubuh manusia menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari tremor, gangguan motorik, gangguan syaraf, pencernaan, kekebalan tubuh, ginjal dan paru-paru, serta iritasi kulit, mata sampai saluran pencernaan.

Satu hal yang harus difahami adalah fenomena ini tidak menunjukkan bahwa semua ikan di laut mengandung merkuri. Kita hanya perlu mengetahui mana ikan yang mengandung merkuri dan mana yang tidak. Memahami itu, Jossep menyimpulkan bahwa diperlukan regulasi untuk menjamin bahwa ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat adalah ikan yang bebas merkuri.

“Menyelesaikan ini, salah satu yang harus dilakukan adalah mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk buat regulasi,” jelasnya.

Penulis : Faisal Fadjri

Editor : Hariono


 
Pengunjung hari ini : 30
Total pengunjung : 38089
Hits hari ini : 93
Total Hits : 532300
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015