BERITA

Pabrik Semen Ramah Lingkungan
2018/03/01 - 09:02 am | 93 KLIK

Apa yang terpikirkan ketika berbicara pabrik semen? Mungkin muncul dalam benak kita sebuah pabrik raksasa yang mengotori lingkungan sekitarnya dengan polusi udara. Belum lagi emisi CO2 yang ditimbulkan membuat proses perubahan iklim semakin tak terkendali. Tak setuju dengan gambaran itu, PT Holcim sebagai salah satu pabrik semen yang beroperasi di Indonesia mencoba mengubah pabrik semen yang tadinya sebagai perusak lingkungan menjadi perawat lingkungan.

Perubahan yang dilakukan PT Holcim dijewantahkan dalam tiga tindakan. Pertama, penggunaan alternative fuels atau bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen. Oepoyo Prakoso dari PT Holcim Indonesia menjelaskan, alternative fuels dapat menekan peningkatan emisi CO2 yang dihasilkan pabrik.

“Penggunaan alternative fuel dianggap dapat mengurangi emisi CO2 karena keluaran emisinya lebih kecil dibanding dengan penggunaan bahan bakar fosil,” jelasnya dalam agenda Pojok Iklim, Rabu (28/02) di Kantor kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kedua, efisiensi listrik dan termal pada peralatan produksi dengan menggunakan teknologi mutakhir. Dengan cara ini, polusi yang ditimbulkan oleh alat produksi dapat dikurangi.

Ketiga adalah substitusi clinker. Clinker adalah material semen setengah jadi yang dikenal sebagai pelepas CO2 yang tinggi. Untuk mengurangi pelepasan CO2, penggunaan clinker dikurangi dengan menambah komposisi bahan campurannya seperti fly ash.

“Sebelumnya, pabrik semen menggunakan komposisi 90% clinker dan 10% Aditif (zat kimia tambahan yang diberikan dalam jumlah kecil). Sekarang sudah diubah, 75% clinker dan 25% Aditif. Dampaknya kandungan CO2 lebih rendah,” papar Oepoyo.

Oepoyo mencontohkan inisiasi Refuse Derived Fuel (RDF) project di Cilacap. Masyarakat didorong untuk mengelola sampahnya untuk kemudian diproses oleh PT Holcim menjadi alternative fuel. Bagi Oepoyo, hal tersebut merupakan langkah nyata pengurangan emisi CO2. “Ke depan saya harap tidak hanya pabrik semen tapi yang lain juga”, tuturnya.

 

Editor: Hariono

Penulis: Faisal Fadjri


 
Pengunjung hari ini : 100
Total pengunjung : 40490
Hits hari ini : 215
Total Hits : 552552
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015