BERITA

Pengelolaan Gambut di Indonesia
2018/03/08 - 02:15 pm | 73 KLIK

Pada tanggal 27/02/2018, Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) mengadakan kuliah umum bertema  “Kebijakan Pengelolaan Gambut di Indonesia Ditinjau dari Aspek Ekologi, Ekonomi, dan Sosial” yang bertempat di Kampus Salemba Universitas Indonesia. Keynote speaker Prof. Emil Salim, salah satu pendiri SIL UI memberikan materi tentang “Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Gambut, Ditinjau dari Perspektif Llingkungan”. Beliau mengungkapkan bahwa konsep pembangunan sekarang harus berorientasi bukan saja pada aspek ekonomi, tetapi juga aspek lingkungan dan sosial. Sebagai negara kepulaun yang ruang hidupnya terbatas karena jumlah penduduk yang cukup besar, maka rencana penggunaan sumber daya  yang rasional dan ramah lingkungan merupakan hal mendesak untuk dilakukan dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu maka menurut beliau dibutuhkan strategi pembangunan yang mampu menghadapi guncangan harga luar negeri dan menaikkan nilai tambah sumber daya alam.

Prof. Kosuke Mizuno dari Center for Southeast Asian Studies Kyoto University, memaparkan materi tentang “Catastrophe and Regeneration, Indonesia’s Peatlands: Ecology, Economy, and Society”. Menurut Prof. Mizano, degradasi lahan gambut dimulai dengan pengembangan kelapa sawit dan perkebunan kayu skala besar. Beliau juga menyebutkan bahwa penyebab krisis kebakaran lahan gambut saat ini ada dua, yaitu rentan secara ekologis dan rentan secara sosial.

Pada sesi kedua, ada empat pembicara yaitu Nur Masripatin. (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim) yang menyampaikan “Kebijakan Pengelolaan Gambut dalam Rangka Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim; Kiki Verico (Divisi Penelitian LPEM FEB UI) yang menyampaikan “Dampak Implementasi PP No. 57/2016 terhadap Industri Pengolahan Kayu, Pulp dan Kertas, dan Perkebunan”; Nadzier Fuad (Badan Restorasi Gambut) yang menyampaikan “Program Pengelolaan dan Perlindungan Gambut di Indonesia”; dan Prof. Supiandi Sabihan (Masyarakat Gambut Indonesia) yang menyampaikan materi “Kebijakan Pengelolaan Gambut di Indonesia”.

Dalam paparannya, Nur Masripatin menjelaskan peran penting gambut sebagai salah satu dari empat elemen penting dalam NDC Sektor Kehutanan. Dalam NDC Sektor Kehutanan ditargetkan akan dilakukan restorasi 2 juta ha lahan gambut pada tahun 2030. Sementara itu, Kiki Verico menyampaikan bahwa kebijakan yang dibuat pemerintah terkait mitigasi perubahan iklim hendaknya juga tetap menjamin kepastian usaha. Nadzier Fuad dalam paparannya menyampaikan 3 pendekatan penting dalam implementasi restorasi gambut yaitu rewetting, revegetation, dan revitalization of livelihood. Melengkapi apa yang telah disampaikan oleh Nadzier Fuad, Supiandi Sabihan dalam paparannya menyarankan bahwa kebijakan pengelolalaan lahan gambut ke depan harus dilakukan dengan reforestasi berbasis pengembangan masyarakat, aforestasi berbasis teknologi adaptasi, dan penggunaan lain berbasis kolaborasi.

Materi lengkap dapat di-download di http://sil.ui.ac.id/bahan-pembicara/materi-kebijakan-pengelolaan-gambut-di-indonesia/.

Penulis :Fentie J. Salaka 

Editor  : Hariono


 
Pengunjung hari ini : 35
Total pengunjung : 35299
Hits hari ini : 70
Total Hits : 511243
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015