BERITA

RIL-C dan Upaya Penurunan Emisi di Kalimantan Timur
2018/05/21 - 02:17 am | 127 KLIK

“Think globally, act locally” merupakan sebuah ungkapan kaya makna yang muncul terkait dengan tuntutan sustainable development di tahun 1992. Ungkapan ini memiliki pengertian bahwa kita harus berpikir global namun tetap tidak melupakan nilai-nilai asli di tingkat lokal. Tidak hanya itu, kita pun harus mendefinisikan pembangunan 20 hingga 30 tahun ke depan. “What future we want?”, demikian Dr. Syaiful Anwar, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dalam pembukaan lokakarya “Potensi Reduced Impact Logging – Carbon (RIL-C) untuk Mendukung Pelaksanaan REDD+ di Kalimantan Timur”, Selasa, 8 Mei 2018, di The Alana Hotel-Sentul City, Bogor. Syaiful juga mengungkapkan bahwa dalam konteks pembangunan, sangat penting untuk membedakan antara need dan greed (kebutuhan dan kesenangan) dalam mengelola sumberdaya alam agar tercipta keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Mengapa RIL-C? Dua faktor utama yang menyumbang emisi terbesar adalah kegiatan deforestasi dan praktik logging. Dengan demikian untuk memperoleh result-based payment dari skema Carbon fund-FCPF, dua target terbesar dalam upaya penurunan emisinya diperoleh dari mencegah atau mengurangi deforestasi dan dari praktik melaksanakan RIL-C.

Lokakarya bertujuan: (1) mengidentifikasi tantangan dan peluang penerapan RIL-C di Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung pencapaian program penurunan emisi di bawah skema Carbon Fund-FCPF; (2) mendiskusikan pentingnya penyusunan peraturan terkait RIL-C sebagai payung hukum penerapan RIL-C di Kalimantan Timur; dan (3) mendiskusikan strategi sosialisasi pentingnya penerapan RIL-C untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi di Provinsi Kalimantan Timur dan nasional. Selain sekitar 35 peserta dari berbagai instansi, lokakarya menghadirkan narasumber kunci, yaitu: (1) Direktorat Usaha Jasa Lingkungan Hutan Produksi, Ditjen PHPL yang berbicara tentang Kebijakan Penurunan Emisi dan Serapan Karbon di Hutan Produksi; (2) APHI yang menyampaikan RIL-C Approaches for Climate Change Solution, and Sustaineble Forest Management in Indonesia; (3) TNC dengan materi Pembalakan Berdampak Rendah Karbon (RIL-C) untuk Pengurangan Emisi dari Hutan Alam Produksi: Potensi dan Tantangan; (4) PT. Narkata Rimba yang menyampaikan Pembelajaran Penerapan RIL-C di Perusahaan; dan (5) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur yang menyampaikan materi Kebijakan-kebijakan Pemprov Kaltimantan Timur dalam Mendorong Penerapa RIL-C untuk Mendukung Carbon Fund FCPF.

Beberapa poin penting yang dihasilkan:

  1. Pengelolaan hutan produksi dalam prosesnya bisa menjadi sumber emisi, namun juga dapat menyerap CO2 dan meningkatkan stok karbon melalui rehabilitasi hutan dan restorasi ekosistem.
  2. RIL-C merupakan bagian dari konsep SFM yang berpotensi dapat menurunkan 40% emisi dibandingkan kegiatan pembalakan yang dilakukan secara konvensional.
  3. Untuk mendorong implementasi RIL-C diperlukan pendekatan kebijakan yang tepat, adanya sosialisasi dan pengembangan kapasitas untuk konsesi dan auditor potensial, ada kejelasan siapa yang harus melakukan audit dalam monitoring/sistem verifikasi tingkat nasional, tipe dan mekanisme insentif bagi pelaku usaha yang sudah melakukan pengurangan emisi, dan benefit sharing.
  4. Penerapan tingkat nasional memerlukan benchmark untuk setiap tipe hutan dan praktik pembalakan.
  5. Perlu komitmen dari para pelaku usaha terkait dengan penerapan RIL.
  6. Diperlukan dukungan pendanaan dalam implementasi RIL, baik yang bersumber dari APBN, mitra, maupun Swasta.
 
 



Penulis: Iis Alviya
Editor: Hariono

 
Pengunjung hari ini : 25
Total pengunjung : 38087
Hits hari ini : 54
Total Hits : 532261
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015