BERITA

Revitalisasi Mata Pencaharian Masyarakat Berdasar Praktik Pemanfaatan Lahan Gambut oleh Masyarakat
2018/05/23 - 06:23 am | 59 KLIK

Pada gambut tipis perlu dibuat parit sebagai batas antar lahan dan parit cacing di tengah lahan. Masyarakat di desa gambut tebal perlu mendapat pendampingan teknik pengolahan lahan dan pemilihan jenis tanaman. Penanaman sawit dapat dilakukan di lahan gambut yang baru dibuka, sedangkan pinang dan kopi sebaiknya di lahan gambut matang atau sudah dibuka 5 s/d 10 tahun. Sawit rakyat tidak cocok ditanam di lahan gambut tebal.

Target restorasi gambut seluas 2,4 juta ha dalam rentang 2016-2020 mencakup  400 ribu ha di areal penggunaan lain (APL) yang pengelolaannya melibatkan masyarakat. Rewetting (pembasahan kembali lahan gambut), revegetasi (penanaman kembali areal yang terbakar), dan revitalisasi mata pencaharian masyarakat merupakan tiga hal utama dalam pendekatan restorasi gambut. Dalam rangka kegiatan “Analisis Mata Pencaharian Masyarakat di Lahan Gambut” yang merupakan kerjasama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), dilakukan kunjungan ke empat desa di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Lokasi desa dipilih berdasar ketebalan gambut, yaitu areal gambut tebal dan areal gambut tipis.

Untuk desa yang berlokasi di gambut tipis maka lahan pekarangan, ladang/sawah, dan kebun masyarakat berada di gambut dengan ketebalan s/d 1 meter dan di tanah mineral. Dalam mengusahakan lahannya, masyarakat membuat parit sebagai batas antar lahan dan parit cacing selebar 60 cm sedalam 1 meter di tengah lahan. Tujuannya adalah agar lahan tidak tergenang air, sirkulasi air berjalan lancar, dan keasaman air berkurang. Untuk desa yang berlokasi di gambut tebal (1-4 meter) maka lahan pekarangan berada di gambut dengan ketebalan sekitar 1 m dan lahan kebun berada di gambut dengan ketebalan sekitar 4 m, serta tidak ada sawah. Masyarakat tidak membuat parit batas antar lahan atau parit cacing karena gambutnya sangat mudah runtuh sehingga hanya ada parit sekunder sebagai batas antar wilayah Rukun Tetangga (RT).

Sebagian besar masyarakat adalah pendatang seperti peserta program transmigrasi dan transmigran swadaya yang mungkin sebelumnya tidak pernah melihat dan mengusahakan lahan gambut. Penguasaan lahan oleh masyarakat dapat dikategorikan sebagai lahan milik dan lahan garapan dalam hutan lindung gambut (HLG), sedangkan pemanfaatannya dapat dikategorikan sebagai lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah, ladang atau sawah yang ditanami padi, serta kebun. Masyarakat mengusahakan lahannya menggunakan teknik agroforestri, monokultur pertanian, dan monokultur perkebunan. Sebagian besar petani di desa gambut tebal membiarkan lahannya menjadi lahan tidur karena tidak menguasai teknik pengolahan lahan gambut tebal, jenis tanaman yang diusahakan seringkali gagal, dan ada serangan hama babi yang cukup ganas.

Pengalaman petani dalam mengusahakan 3 jenis komoditas utama di lahan gambut adalah sebagai berikut:

Uraian

Jenis komoditas utama

Sawit

Kopi liberika

Pinang

Bibit

Membuat sendiri/membeli

Membuat sendiri/membeli

Membuat sendiri/membeli

Areal tanam

Lahan yang baru dibuka

Lahan yang sudah lama dibuka, bersih, 5-10 tahun dari awal pembukaan lahan

Lahan yang sudah lama dibuka, bersih, 5-10 tahun dari awal pembukaan lahan

Kondisi areal tanam

Bisa tergenang dan tidak tergenang; bisa di gambut tipis dan tebal

Mati bila tergenang lebih 10 hari, ditanam di gambut tipis

Tidak bisa tergenang, rata-rata ditanam di gambut tipis

Persiapan lahan

Pemberian dolomit, lahan tidak perlu bersih

Tidak perlu perlakuan, lahan bersih dari gulma

Tidak perlu perlakuan, lahan bersih dari gulma

Pemeliharaan

Pupuk intensif, tanaman tahan gulma

Tidak perlu pemupukan, lahan bersih dari gulma

Tidak perlu pemupukan, lahan bersih dari gulma

Pemanenan dan penanganan paska panen

TBS dipanen, ditimbun di pinggir jalan kebun, pembeli mengambil TBS di jalan

Buah kopi dipanen, digiling basah, dijemur, digiling kering menjadi biji kopi, dijual ke pengepul desa

Buah pinang dipanen, dibelah dua, dijemur dua hari (kadar air 20-25%), dijual ke pengepul desa

Pasar dan harga

Terbuka luas, lokasi pabrik dekat, harga stabil

Terbuka luas, harga turun menjelang hari besar keagamaan dan nasional

Terbuka luas, harga berfluktuasi tidak signifikan


Penanaman sawit di desa gambut tebal dilakukan karena ada perusahaan sawit di dekat desa. Tanaman sawit masyarakat mulai berbuah pada umur tujuh tahun dengan produksi sangat rendah dan tidak dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan utama. Oleh karena itu maka sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh. Mereka berpendapat bahwa sawit rakyat tidak cocok di tanam di lahan gambut tebal, pupuk tidak efektif meningkatkan produksi sawit karena air terlalu asam. Sirkulasi air di kebun hanya terjadi saat banjir besar di mana terjadi luapan air sungai. Masyarakat di desa gambut tebal juga menanam jelutung. Pertumbuhannya cukup bagus tetapi getahnya belum disadap karena tidak ada pembeli.

Revitalisasi mata pencaharian masyarakat berdasarkan pembelajaran praktik pengelolaan, pemanfaatan, dan pengusahaan lahan oleh masyarakat adalah:

  • Pada gambut tipis perlu dibuat parit sebagai batas antar lahan dan parit cacing di tengah lahan agar lahan tidak tergenang air, sirkulasi air berjalan lancar, dan keasaman air berkurang.
  • Masyarakat di desa gambut tebal perlu mendapatkan pendampingan teknik pengolahan lahan gambut tebal yang benar dan pemilihan jenis tanaman yang sesuai.
  • Pananaman sawit dapat dilakukan pada lahan gambut yang baru dibuka tetapi penanaman pinang dan kopi sebaiknya pada lahan gambut yang sudah matang atau sudah dibuka 5 s/d 10 tahun dan kondisi lahan bersih dari gulma,
  • Sawit rakyat tidak cocok di tanam di lahan gambut tebal.

 

Penulis : Setiasih Irawanti

Editor : Hariono


 
Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 36074
Hits hari ini : 291
Total Hits : 515685
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015