BERITA

ISO/FDIS 14080, Satu Acuan untuk Aksi Iklim
2018/06/05 - 03:00 am | 23 KLIK

Aktivitas pengendalian perubahan iklim atau aksi iklim oleh berbagai pihak muncul dari kampanye lingkungan oleh banyak kalangan dan arahan Pemerintah untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pengembangan usaha daur ulang sampah, reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis, pembentukan kelompok hijau sebagai bagian dari edukasi lingkungan merupakan sebagian contoh. Namun ragam aksi iklim tersebut di sisi lain juga memunculkan ragam klaim dari masing-masing pihak pelaku aksi tentang seberapa besar dampak aksi tersebut terhadap penurunan emisi gas rumah kaca secara nasional.

Ragam klaim tersebut menyulitkan Pemerintah Indonesia dalam menghitung penurunan emisi gas rumah kaca untuk dilaporkan ke lembaga internasional. Kita ketahui Indonesia wajib melaporkan kemajuan aski iklimnya ke UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) sebagai konsekuensi komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca dalam Paris Agreement. Dibutuhkan satu acuan bersama untuk menggapai harmonisasi hasil.

Menjawab keresahan itu, Noer Adi Wardojo, Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan memperkenalkan ISO/FDIS 14080. Dipaparkan dalam agenda Pojok Iklim (31/05/2018) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta, ISO/FDIS 14080 adalah sebuah standar pengelolaan aktivitas terkait penurunan emisi gas rumah kaca.

“Standar ini disusun untuk bagaimana kita bekerja dengan sekian banyak aktor, tetapi semua akan dihimpun untuk kita tunjukkan pada lembaga internasional bahwa ini (kerja mitigasi dan adaptasi perubahan iklim) memang berkontribusi dan menuju pada sasaran dalam Perjanjian Paris,” paparnya.

ISO/FDIS 14080 adalah standar pertama yang menjadi rujukan untuk semua pihak terkait pengelolaan gas rumah kaca. Standar ini mendukung pihak Pemerintah, termasuk Pemerintah Daerah; non Pemerintah seperti asosiasi industri, pengembang metodologi dan penggunanya; LSM lingkungan dan organisasi lainnya yang menggunakan metodologi aksi iklim; serta institusi keuangan yang mendukung aksi iklim.

Sebelum ISO/FDIS 14080, telah dibuat berbagai standar secara parsial yang menjadi acuan penurunan emisi gas rumah kaca. Noer menjelaskan, standar-standar tersebut menjadi rujukan bagi para pihak yang melakukan aksi perubahan iklim di masing-masing project, activities, dan organisasi. 

Ia mencontohkan, ISO 14064-1 yang dikeluarkan pada tahun 2006, menjadi acuan penurunan emisi gas rumah kaca di level organisasi. Di tahun yang sama, muncul ISO 14064-2 yang menjadi standar di level project. Terakhir pada tahun 2013, ada ISO/TR 14069 sebagai petunjuk dalam melakukan kuantifikasi dan pelaporan emisi gas rumah kaca untuk organisasi.

“Jika satu komunitas mencoba menghitung berapa emisi yang telah ia turunkan, (data hasil perhitungannya) tidak terlalu berdampak terhadap global. Jika yang melakukan penghitungan itu bisa menghimpun sekian komunitas dan organisasi yang melibatkan ribuan orang, tentu (data hasil perhitungannya) akan sangat berarti. Bagaimana caranya? Standar ini memberikan jalannya”, jelas Noer.

Harapan dari pembuatan ISO/FDIS 14080 adalah terhimpunnya hasil aksi penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia secara nasional. Hasil tersebut bisa menjadi teriakan lantang Indonesia untuk dunia internasional bahwa dalam menghadapi perubahan iklim, gemuruh aksi telah dilaksanakan sebaik-baiknya, sehormat-sehormatnya.


Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 35
Total pengunjung : 35299
Hits hari ini : 87
Total Hits : 511260
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015