BERITA

Inspirasi Duo Srikandi BLI dalam Green Ramadhan
2018/06/08 - 08:13 am | 62 KLIK

Kamis lalu (07/06/2018) dua peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) tampil di Green Ramadhan, sebuah agenda mingguan selama Ramadhan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dr. Haruni Krisnawati dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) dan Dr. Virni Budi Arifanti dari Pusat Penelitian dan pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) tampil sebagai “Ilmuan Muda untuk Indonesia Hijau”. Mereka adalah sosok-sosok intelektual muda yang berkomitmen di dunia keilmuan.

Haruni berkisah tentang pengalamannya sebagai peneliti BLI; tiap titik ceritanya memunculkan inspirasi. Ia berbagi beberapa hal mendasar mengenai penelitian.

“Mungkin ketika kita masih kuliah, kita memahami teori hutan. Namun ketika kita ada di dunia kerja penelitian, baru kita akan temukan bahwa fakta hutan sebenarnya sangat kompleks. Tiap kawasan hutan memiliki karkater yang unik. Bagaimana kita akan memulai sebuah penelitian, cara pengukuran apa yang akan kita gunakan akan sangat mempengaruhi ketepatan hasil penelitian kita.” Demikian dia berujar.

Saran sederhana yang dipesankan adalah “membaurlah lebih dalam (dengan hutan) agar kita bisa menggali ilmu pengetahuannya”. Hutan merupakan bagian dari kita,  bukan objek yang dapat kita eksploitasi dan terus peras seenaknya.

Virni Budi Arifanti, srikandi dari P3SEKPI tergabung dalam tim BLI yang meneliti mangrove. “Saya menemukan passion di mangrove”, demikian lulusan Oregon State University berujar tentang alasannya berkecimpung di penelitian mangrove. Ceritanya tentang mangrove sangat menggugah ketika terjelaskan fakta bahwa BLI berhasil memformulasikan sebuah solusi terhadap permasalahan deforestasi mangrove di Indonesia.

Untuk diketahui, Indonesia memliki kekayaan ekosistem mangrove yang sangat besar, namun laju deforestasinya juga tinggi. Setiap tahun, Indonesia kehilangan mangrove sekitar 52.000 ha, setara tiga lapangan sepakbola.

“Kawasan mangrove menjadi rusak ketika dikonversi menjadi tambak. BLI menawarkan konsep kombinasi untuk pengelolaan tambak yang berkelanjutan,” jelas Virni. Hal tersebut ditujukan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan tambak bekas mangrove; bahkan jika dikelola dengan baik akan menjadi kawasan konservasi perairan.

Selain itu, juga dilakukan edukasi mangrove dengan membuat kurikulum mangrove. Ia mencontohkan kerja sama BLI dengan masyarakat setempat di Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk menyusun kurikulum tersebut.

“Keterlibatan BLI dalam konservasi mangrove dapat acknowledge dari masyarakat setempat. BLI telah melaksanakan kerja sama dengan masyarakat di Kalsel untuk membuat kurikulum pendidikan mangrove tingkat SD dan SMP.”

Cerita perjuangan BLI di penelitian mangrove membuahkan apresiasi dari media. Majalah Tempo selaku media nasional telah meliput dan menyajikannya dalam sebuah artikel pada edisi Mei 2018.

Penulis : Faisal Fadjri

Editor : Hariono


 
Pengunjung hari ini : 76
Total pengunjung : 37147
Hits hari ini : 156
Total Hits : 524121
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015