BERITA

Segi tiga Cinta, Perajut Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia
2018/07/25 - 08:47 am | 115 KLIK


Ingatkah dengan pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup atau biasa disingkat PLH semasa sekolah? PLH merupakan mata pelajaran formal di bidang lingkungan hidup yang diadakan sekolah. Pendidikan tersebut secara resmi masuk ke kurikulum sekolah sejak tahun 1980-an. Sayangnya, pelajaran itu sepertinya tidak cukup untuk membangun generasi yang peduli lingkungan.

Pencemaran udara, pencemaran air (termasuk laut), dan pencemaran tanah  menampakkan tingkat yang terus meninggi. Tahun 2010, Sungai Citarum bahkan pernah dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia oleh situs huffingtonpost.com. World Bank juga menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polutan tertinggi keempat di dunia setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City. “Prestasi” tersebut belum dilengkapi dengan kalau kita berbicara tingginya laju deforestasi yang menimbulkan perubahan iklim. Fakta tersebut seakan merupakan teriakan keras dari alam yang terus dirusak.

Semua sepakat bahwa kerusakan yang ada di bumi tidak terjadi begitu saja (baca: alami). Ada faktor lain yang menyebabkan semua itu yakni perbuatan manusia. Perilaku yang tidak ramah atau tidak peduli lingkungan menimbulkan ekploitasi lingkungan, baik secara sadar maupun tidak.

Setiap perbuatan manusia berasal dari pengetahuannya terhadap sesuatu. Apabila perbuatannya menimbulkan kerusakan, berarti ia belum memiliki pengetahuan tentang “berbuat secara benar”. Jika demikian, di manakah fungsi PLH yang seharusnya mampu memberi pengetahuan secara komprehensif tentang berbuat sesuatu dengan benar?

Menyikapi persoalan tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi perdebatan. Ide-ide segar yang kolaboratif dapat menjadi alternatif penyelesaian dalam membangun generasi ramah lingkungan.

Perjuangan Latipah Hendarti dari De Tara Foundation menjadi contoh inisiasi pendidikan lingkungan hidup. Ia menawarkan konsep Segi Tiga Cinta yang diilustrasikan sebagaimana gambar berikut:

Menurut Latipah, perubahan perilaku seseorang dimulai dengan cintanya kepada Tuhan (Sang Maha Pencipta), manusia, dan alam. Ketiga hal itu yang harusnya ditekankan oleh para guru terkait dalam pelajarannya. Maksud guru terkait adalah pelajaran lingkungan hidup tidak hanya diberikan pada pelajaran PLH saja, namun pelajaran yang lain seperti pendidikan agama Islam.

“Contoh dari segi pendidikan agama, hanya cinta kepada manusia yang ditekankan; padahal cinta kepada alam, seperti kalau membuang sampah ke sungai, maka akan mendzalimi sungai di hilir,” jelasnya dalam agenda Pojok Iklim (18/07/18) di Manggala Wanabhakti, Jakarta.

Tidak hanya konsep, Latipah juga merumuskan penerapan praktis Segi Tiga Cinta dalam wujud Si KAASP, akronim dari Knowledge, Awareness, Attitude, Skill, dan Participant. Penerapan praktis itu merupakan sebuah langkah yang harus ditapaki secara bertahap.

“Berawal dari knowledge, murid harus diberi pengetahuan terlebih dahulu mengenai lingkungan hidup dan bagaimana merawatnya. Setelah itu diberikan kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya (awareness). Ketika sudah sadar, tinggal diubah perilakunya (Attitude), lalu diberi pembekalan skill (kemampuan) yang diperlukan”, paparnya. Terakhir, orang-orang yang telah dididik dengan metode Si KAASP harus didorong untuk mengajak (participant) orang lain yang belum berkesempatan mendapat hal yang sama.

“Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”, demikian Latipah menutup paparannya.


Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 100
Total pengunjung : 40490
Hits hari ini : 208
Total Hits : 552545
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015