BERITA

Laut Kian Memanas, Ini Akibatnya
2019/01/11 - 09:26 am | 332 KLIK

_BOGOR_Beberapa dekade terakhir, ketika manusia mulai menggunakan bahan bakar batu bara, menebang hutan, menciptakan kendaraan bermotor, menyalakan penyejuk udara dan kulkas, diam-diam laut mengumpulkan sebagaian besar emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh kegiatan tersebut.

Berbagai studi menyatakan bahwa laut telah mengumpulkan lebih dari 90% energi panas yang disimpan emisi karbon. Studi terbaru yang dimuat di jurnal Nature No. 563, 2018 menyebutkan bahwa keadaannya jauh lebih buruk. Laut telah menyerap panas lebih banyak dari yang diperkirakan.

“Laut menghangat lebih dari yang kita bayangkan. Artinya, bumi semakin sensitif terhadap emisi karbon”, kata Laure Resplandy, pemimpin studi sekaligus asisten profesor geosains di Princeton University, dilansir dari Business Insider Singapura.

Sebetulnya para ilmuwan sudah memperingatkan dunia untuk menurunkan, bahkan menghilangkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, namun Resplandy menyebutkan bahwa semua sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur, perubahan iklim yang disebabkan emisi karbon berlebih telah di depan mata.

Resplandy mengatakan, salah satu akibat dari bencana ini adalah laut menjadi kekurangan oksigen. “Ketika laut menghangat, ia kehilangan beberapa gas. Oksigen merupakan salah satunya”, ungkap Resplandy.

Melalui studi terbaru tersebut, ia dan timnya menganalisis kadar oksigen dan karbon dioksida di bawah, tengah, dan permukaan bumi. Lokasi tepatnya di ujung Tasmanis di Cape Grim; La Jolla di California; dan Alert di Kanada-800 km dari kutub utara. Para peneliti menelusuri data dari 25 tahun lalu, 1991 hingga 2016.

Implikasi berkurangnya oksigen di laut adalah mendorong ikan beserta mahluk laut lainnya untuk bermigrasi dari tempat aslinya. Hal itu disebabkan karena semakin rendah kadar oksigen di laut, semakin sulit pula ikan untuk melihat.

Sebagai contoh, laut di Jepang telah menghangat 1,7o C dalam 100 tahun terakhir. Dampaknya, beberapa populasi cumi-cumi di sana berenang ke utara untuk mencari air yang lebih dingin dan lebih banyak mengandung oksigen.

Di Carolina Utara, ikan flounder sudah bergerak 40 km ke lepas pantai, sementara populasi lobster di Atlantik mengarah ke Maine.

Sebenarnya Resplandy tidak terkejut melihat kenyataan itu. Ia memahami betul bahwa bencana semacam itu akan terus terjadi dalam fenomena perubahan iklim. Meski begitu, ia menambahkan, kita tidak boleh menyerah.

“Ini tidak akan mudah sebab laut menyerap panas lebih dari yang kita bayangkan. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau berusaha keras untuk mencegahnya agar tidak semakin parah?” pungkas Resplandy.

 

Sumber: www.businessinsider.sg, www.nature.com, www.nationalgeographic.grid.id

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 102
Total pengunjung : 50638
Hits hari ini : 190
Total Hits : 691624
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015