BERITA

Kepala BLI Meminta Peneliti-peneliti BLI Menjadi Peneliti yang Keren
2019/01/16 - 07:44 am | 168 KLIK

BOGOR_Dengan menyinggung era industri 4.0 dan zaman milenial yang dihadapi sekarang, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr. Agus Justianto meminta para peneliti BLI menjadi peneliti-peneliti yang keren. Beliau meminjam istilah yang sering digunakan oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya. "Itu istilah yang biasa diucapkan Bu Menteri, kalau mengucapkan sesuatu yang hebat selalu mengucapkan kata keren", imbuhnya. Beliau ingin agar peneliti BLI menjadi peneliti yang hebat.

Permintaan tersebut disampaikan pada rangkaian kegiatan Pembahasan Rencana Kerja, Penandatanganan Perjanjian Kinerja 2019, dan Pembinaan Tenaga Fungsional Peneliti Lingkup BLI di Auditorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan, Serpong, Jum’at, 11 Januari 2019.


Seperti apakah harapan Kepala BLI?

Berikut beberapa kriteria yang disebut oleh beliau:

  1. Peneliti BLI perlu tetap memperhatikan kinerja dan prestasi yang dihasilkan. "Harus tetap luar biasa”, demikian harapannya. Peneliti BLI tidak boleh tidak, harus memperhatikan kinerja dan prestasi sehingga perlu mengupayakan perencanaan dan strategi yang baik dan tepat untuk mencapainya. Dengan demikian maka output yang dihasilkan dapat tetap memenuhi kriteria scientifically trustable (dapat dipercaya secara keilmuan), economically visible (nyata secara ekonomi), socially acceptable (dapat diterima secara sosial), dan environmentally suitable (sesuai dengan prinsip lingkungan).
  2. Peneliti BLI harus dapat menjaga dan meningkatkan kepercayaan pihak di luar BLI. Secara serius Kepala BLI meminta peneliti untuk bersikap responsif terhadap kepentingan-kepentingan eselon satu lain, pengguna di dalam negeri (kepercayaan publik) hingga mitra dan pengguna di luar negeri. Caranya adalah dengan lebih membuka diri dan mendengar kebutuhan, terutama dari para decision maker (pembuat kebijakan) serta meningkatkan jejaring kerja dan menjadi leader dari jejaring yang dimiliki.
  3. Peneliti BLI dapat meningkatkan kontribusi (in charge) terhadap proses-proses pengambilan kebijakan, khususnya di KLHK, dan penyadaran publik atas hasil-hasil litbang.  BLI harus dapat tetap menjadi 'policy think tank'-nya KLHK serta pemberi pendapat secara scientific point of view. Dengan demikian maka dapat dihasilkan kebijakan-kebijakan yang bersifat research based policy (kebijakan yang didasarkan pada hasil-hasil penelitian) dan evidence based policy (kebijakan yang didasarkan pada bukti-bukti).
  4. Peneliti BLI diharapkan dapat bersikap cepat tanggap dan responsif. Menilik kebiasaan yang sedang ditularkan oleh Menteri Siti Nurbaya terhadap jajarannya, yang diperlukan adalah mereka-mereka yang dapat memberikan masukansecara cepat dan responsif. Hal ini makin menjadi penting di era milenial ataupun industri 4.0. BLI secara khusus memiliki mandat serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sebagai penyedia informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang LHK, khususnya renstra (rencana strategis) KLHK yang sangat dibutuhkan, baik oleh eselon satu KLHK maupun pengguna di luar KLHK.

Di tahun 2018, BLI banyak memperoleh penghargaan dan mendapat peringkat yang baik. Salah satu contoh, BLI menempati peringkat 6 dari 32 lembaga penelitian di Indonesia. Harapannya, di masa depan peringkatnya dapat naik lagi. Di sinilah kontribusi peneliti BLI sangat diharapkan, termasuk mempertahankan fungsi BLI sebagai 'leading the way' terhadap program-program KLHK.

Penulis: Bugi K. Sumirat

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 95
Total pengunjung : 50633
Hits hari ini : 158
Total Hits : 691592
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015