BERITA

Saling Untung Pelaku Jasa Lingkungan
2019/02/11 - 01:04 am | 128 KLIK

_Jakarta_Jasa Lingkungan merupakan skema usaha/bisnis sosial (social etrepreneurship) di mana masyarakat sebagai salah satu pelaku usaha memperoleh pembayaran atas usahanya menjaga lingkungan. Mereka juga memperoleh manfaat dari hubungan timbal-balik yang dinamis, yang terjadi di dalam lingkungan hidup, antara tumbuhan, binatang dan jasad renik serta lingkungan non hayati (Penilaian Lingkungan Milenium PBB, 2005).

Pembayaran atas jasa lingkungan (payment for environment services/PES) kini mendapat perhatian lebih, seiring dengan meningkatnya fenomena lingkungan global perubahan iklim. PES diyakini sebagai sebuah jalan tengah antara kebutuhan masyarakat, kepentingan korporasi, dan kebaikan alam yang berimplikasi pada keseimbangan iklim.

Bagimana skema PES bekerja? Berkesempatan hadir dalam agenda Pojok Iklim pada Rabu (6/2/2019) di Manggala Wanabakti, Jakarta, Nana P. Rahadian, Sekretaris Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) membagikan pengalamannya. Ia bersama FKDC telah lebih dari 15 tahun menjalankan skema PES di DAS Cidanau, Provinsi Banten.

“DAS Cidanau di Banten bagian hulunya dihuni oleh petani miskin, sedangkan di daerah hilir merupakan kawasan industri yang memanfaatkan air dari DAS Cidanau”, jelas Nana. “Perusahaan seperti PDAM, Indonesia Power, dan Siemens yang berada di hilir sangat tergantung dengan kontinuitas kestabilan debit air yang datang dari hulu”.

Ia mengatakan, pemenuhan kebutuhan tersebut dijembatani oleh FKDC dengan skema PES. Masyarakat, yang dalam hal ini kelompok tani hutan (KTH) yang tinggal di hulu DAS Cidanau diminta untuk menjaga sekitar 500 pohon per hektar. Sebagai insentif, perusahaan akan memberikan kompensasi untuk tiap hektar yang dijaga.

Hasilnya? “Sangat efektif”, sebut Nana. Alam wilayah DAS Cidanau menjadi lestari karena hutan tak terdeforestasi, masyarakat pun mendapat bayaran atas usahanya menjaga hutan.

Pada tempo 2010-2014, bayaran yang didapat masyarakat dari perusahaan bernilai hingga 250 juta. Mengawal itu semua, Nana beserta FKDC turut hadir di setiap proses, baik perencaanaan, implementasi, maupun evaluasi dan pelaporan.

“FKDC senantiasa menjembatani kepentingan masyarakat dan perusahaan. Di bangku-bangku pertemuan dengan perusahaan kami bernegosiasi saat perpanjangan kontrak PES. Kami melakukan verifikasi lahan dan administrasi bagi KTH yang ingin ikut PES. Bahkan kami mengatur pembayaran dan penundaan jika ada aktivitas yang tak sesuai kontrak”, cerita Nana.

Lebih jauh, dampak yang dirasakan dari skema PES, Nana mengatakan bahwa banyak keberkahan yang didapat. Ia menyebutkan terjadi peningkatan kemampuan ekonomi dan tatanan sosial anggota KTH.

“Peningkatan asupan gizi, kesempatan menabung dalam bentuk emas, kesempatan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kesempatan membangun usaha secara berkelompok, perbaikan jaringan air bersih, pemberian santunan kepada anak yatim dan janda, dan peningkatan fasilitas sarana ibadah”, sebutnya.

Bahkan jauh lebih penting, Nana menjelaskan bahwa ada sekitar 12.500 pohon/25 ha yang terjaga di kawasan DAS Cidanau. Artinya, secara tidak langsung Nana, FKDC, KTH, dan perusahaan di hilir DAS Cidanau telah melakukan aksi mitigasi perubahan iklim.

 

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 58
Total pengunjung : 45966
Hits hari ini : 108
Total Hits : 609652
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015