BERITA

Perubahan Iklim Sebabkan Konflik Antara Dua Spesies Burung, Ini Alasannya!
2019/03/01 - 02:30 am | 242 KLIK

_BOGOR_Peneliti temukan fenomena adanya konflik antara dua spesies burung yang disebabkan oleh perubahan iklim. Memanfaatkan data penelitian 10 tahun terakhir, terjadi peningkatan kematian burung sikatan belang di sarang burung great tit. Bahkan pada temuan terakhir, ditemukan luka pada kepala sikatan belang karena burung great tit memakan otaknya.

"Ketika membuka sarang, kami melihat ada burung sikatan belang yang mati di dalamnya. Kami membawanya keluar, membedah, dan memeriksa burung tersebut. Kami menemukan bahwa tengkorak mereka mengalami retak di bagian belakang kepala dan otaknya telah dimakan", ujar Jelmer Samplonius, peneliti dari University of Edinburgh, yang pertama kali melihat perilaku makan otak ini pada 2007.

Diketahui bahwa great tit adalah burung nonmigrasi yang dapat ditemukan di seluruh Eropa. Mereka berkembang-biak secara musiman dan biasanya bertelur sekitar bulan Maret atau April. Sebaliknya, sikatan belang merupakan burung yang kerap melakukan migrasi. Mereka menghabiskan musim dingin di Afrika Barat sebelum kembali ke Eropa untuk berkembang-biak.

Lantas, mengapa bisa terjadi “peperangan” pada kedua spesies burung ini? Dijelaskan bahwa akibat perubahan iklim, waktu bertelur mereka pun saling tumpang-tindih. Hal itu membuat dua spesies tersebut berkompetisi untuk mendapatkan wilayah. Burung sikatan belang yang kecil dan tangkas mencoba mengambil tempat di sarang great tit. Mereka akan terbang di sekitar sarang agar great tit pergi dari sana.

Sayangnya, ketika sikatan belang mencoba masuk ke sarang yang terdapat great tit di dalamnya, burung yang lebih besar itu pun akan langsung menyerang. Seringkali dalam konflik yang terjadi, great tit memakan otak sikatan belang.

"Burung great tit digambarkan sering memakan anak kelelawar atau burung yang lebih kecil di musim dingin. Kemungkinan mereka melakukannya karena hal tersebut merupakan cara termudah untuk membunuh lawan", kata Jelmer.

Menurut Jelmer, faktor lain yang menyebabkan terjadinya pertempuran berdarah ini adalah perubahan pola ketersediaan makanan burung, yakni ulat. Ia mengatakan bahwa ulat merespon suhu dengan sangat kuat dan mengubah waktu berkembangnya menjadi lebih awal.

"Great tit mungkin dapat mengatasinya karena mereka penghuni tetap wilayah tersebut. Namun, sikatan belang adalah (jenis burung) migran jarak jauh. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di tempat berkembang-biak saat mereka sedang bermigrasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan sikatan belang untuk merespon fenomena ini adalah dengan bermigrasi lebih awal", pungkas Jelmer.

 

Sumber Foto: Maurice Van Laar via Newsweek

Sumber Berita: IFL Science

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 78
Total pengunjung : 47604
Hits hari ini : 278
Total Hits : 628065
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015