BERITA

Apa Itu REDD+ dan Kenapa Indonesia Harus Mengikutinya
2019/03/19 - 06:43 am | 106 KLIK

_JAKARTA_Salah satu hal yang sering dibicarakan dalam wacana perubahan iklim adalah REDD+. Seakan menjadi satu paket dengan aksi “peduli iklim dunia”, REDD+ digadang-gadang menjadi stimulus aksi perubahan iklim. Lantas sebenarnya apa itu REDD+?

Mengambil dari Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, REDD+ merupakan akronim dari Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (plus: role of conservation, sustainable management of forest carbon stocks in developing countries). REDD+ adalah langkah-langkah yang didesain untuk menggunakan insentif keuangan guna mengurangi emisi dari gas rumah kaca, deforestasi, dan degradasi hutan.

Secara sederhana, REDD+ merupakan program insentif untuk negara-negara yang mau menjaga hutannya. Program ini ditargetkan untuk negara berkembang yang memiliki hutan luas yang menjadi pasokan 'nafas' bagi dunia. Indonesia menjadi salah satu negara di jajaran terdepan dan mendapat julukan paru-paru dunia.

Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Dr. Ir. Belinda A. Margono, M.Sc., menilai Indonesia sangat penting mengikuti REDD+. Ia menyebutkan, REDD+ dapat mendukung mewujudkan komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi.

Komitmen penurunan emisi tersebut tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) di mana Indonesia harus menurunkan emisi sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan luar negeri pada tahun 2030, yang kemudian pembebanannya dibagi ke dalam lima sektor. Salah satunya adalah sektor kehutanan.

Belinda menjelaskan, penurunan emisi di sektor kehutanan yang terdiri antara lain penurunan deforestasi, peningkatan penerapan prinsip pengelolaan hutan berkelanjutan, dan trehabilitasi 12 juta ha lahan terdegradasi dapat di-cover melalui kegiatan REDD+.

“Untuk mencapai target, sektor kehutanan sangat penting. Dari komitmen 29% dan 41%, sektor kehutanan punya beban 17,2% dan 23%. Kalau ini berhasil, sektor lain akan enak (dalam melakukan penurunan emisi). Untuk itu kita memandang REDD+ menjadi penting”, jelasnya saat diskusi Pojok Iklim pada Rabu (13/03/2019) di Manggala Wanabhakti.

Keuntungan lain yang didapat dari keikutsertaan dalam REDD+ disampaikan oleh peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Dr. Yanto Rochmayanto. Ia mengatakan bahwa REDD+ dapat memacu pembenahan pengelolaan hutan di Indonesia.

 "Ada atau tidak ada REDD+, kita wajib membenahi tata kelola hutan. Saya menilai REDD+ bisa jadi booster", katanya dalam kesempatan diskusi yang sama.

Yanto menjelaskan bahwa pembenahan melalui REDD+ memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, mendorong kerja Pemerintah di tataran nasional dan sub nasional. Kedua, 'pendapatan tambahan' atas terjaganya hutan alam.

"Meski hutan di Indonesia bisa menjadi ladang komoditas yang pastinya bernilai lebih besar ketika dijadikan barang atau diambil kayunya, namun jika kita berfikir panjang justru melindunginya lah yang memiliki nilai yang lebih besar. REDD+ menstimulasikan usaha perlindungannya", pungkas Yanto.

Seolah mengamini pernyataan Yanto, Senior Research Officer CIFOR, Cynthia Maharani menyebutkan bahwa program REDD+ merupakan peluang besar bagi negara berkembang, khususnya Indonesia. Selain membantu perlindungan sumber daya alam, REDD+ juga program berbiaya murah dan berdaya guna.

“REDD+ menjadi program yang cheap dan incident, mekanisme proteksi hutan yang lebih bernilai secara moneter dibanding menjadi fungsi lainnya terutama secara opportunity cost jangka panjang”, sebut Cynthia. “Perlu dilihat ini sebagai benefit sharing”.

 

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 101
Total pengunjung : 45491
Hits hari ini : 254
Total Hits : 601100
Pengunjung Online : 3
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015